Selamat datang para calon santri-para penuntut ilmu syar'i warisan Nabi. Untuk mengikuti ujian online UMTB klik di sini!

Berdiri yang dihindari

 

Oleh Muhammad Rifqi Batam Tahfizh

 

Manusia biasa berdiri untuk sebagian yang lain, terkhusus bila ada yang ditokohkan masuk untuk mengunjungi sebuah tempat. Demikian pula pengajar bila masuk menemui para muridnya, maka dengan segera para murid berdiri untuk menghormatinya. Apabila ada murid yang tidak mau berdiri, maka dia akan dicela karena jelek adabnya dan tidak hormat kepada pengajarnya.

Lalu bagaimana pandangan Islam tentang hukum berdiri untuk menghormati seorang? Berikut ini kami sampaikan pembahasan secara ringkas, mudah-mudahan bermanfaat.

 

Dalil larangan berdiri untuk menghormati

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من أحب أن يمثل له الرجال قياما فليتبوأ مقعده من النار

“Barangsiapa yang menyukai manusia dalam posisi berdiri untuknya, maka persiapkanlah olehnya tempat duduknya di neraka.” (HR. Ahmad 4/93, al-Bukhari dalam al-Adabul-Mufrad no. 977 dan dishohihkan oleh syaikh Albani dalam Silsilah Shohihah I/627)

Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata:

ما كان شخص أحب إليهم رؤية من النبي صلى الله عليه وسلم

وكانوا إذا رأوه لم يقوموا إليه لما يعلمون من كراهيته لذلك

“Tidak seorang pun yang lebih para sahabt cintai daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mereka apabila melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak berdiri untuknya, karena mereka tahu bahwa beliau membenci perbuatan berdiri untuknya.” (HR. al-Bukhari al-Adabul Mufrad no. 946)

 

Faedah hadits

  1. Dipahami dari hadits ini bahwa seorang muslim yang senang manusia berdiri untuknya saat dia masuk ke sebuah majlis, maka dia terancam masuk neraka.

Bahwasannya para sahabat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kecintaan yang sangat, namun saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui mereka, mereka tidak berdiri untuk beliau. Karena mereka tahu bahwa beliau membenci perbuatan berdiri untuknya.

  1. Sesungguhnya diamnya tokoh ataupun pengajar terhadap perbuatan berdiri untuknya, atau bahkan mencela kepada murid yang tidak mau berdiri, menunjukkan atas senangnya kepada perbuatan berdiri tersebut.

Mereka menjerumuskan dirinya sendiri untuk masuk neraka. Kalau seandainya mereka tidak senang dengan hal itu atau membencinya, niscaya mereka akan memberitahu muridnya, kemudian meminta kepada mereka untuk tidak berdiri setelahnya, serta menerangkan hadits-hadits yang melarang untuk berdiri untuknya.

Sungguh orang-orang yang berdiri untuk tokoh tertentu menjadi penolong bagi setan dalam kecintaan yang tidak disyariatkan, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah bersabda:

لاَ تَكُونُوا عَوْنَ الشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيكُمْ

“Dan janganlah kalian menjadi penolong bagi setan untuk mencelakakan saudara kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 6781)

 

Bagaimana kalau berdiri karena menghormati ilmunya

Banyak orang berkata: “Kami berdiri untuk pengajar karena menghormati ilmunya.” Maka kita katakan kepada mereka: “Apakah kalian meragukan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan adab para sahabat kepadanya??!!”

Bersamaan dengan itu mereka tidak berdiri untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Islam tidak menjadikan patokan penghormatan dengan sikap berdiri. Akan tetapi penghormatan bisa berupa mengucapkan salam atau adab yang disyariatkan lainnya.

 

Kemuliaan hanya ada di sisi Allah

Bisa jadi tokoh yang dihormati dan orang-orang berdiri untuknya, tidak mulia di sisi Allah. Justru orang-orang yang tidak memiliki kedudukan dan tidak dipandang oleh kebanyakan orang, lebih mulia keudukannya di sisi Allah.  Hanyalah kemuliaan hakiki diukur oleh ketakwaan, sebagaimana Allah Ta’ala kabarkan:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”  (QS. al-Hujurat: 13)

 

Penutup

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari dahsyatnya api neraka yang di antara bahan bakarnya adalah manusia. Mudah-mudahan Allah kokohkan kami dan kalian di atas al-Qur’an dan as-Sunnah. Amin

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.