Biografi al-Fadhl bin Dukain

takwa

 

Oleh Ishlah Lahamido Palu 4A Takhasus

 

Pembaca yang semoga dirahmati Allah Ta’ala, pada kali ini kita akan menukil biografi salah seorang ulama terkenal yaitu al-Fadhl bin Dukain.

Nama lengkap beliau adalah al-Fadhl bin ‘Amr bin Hammad bin Zuhair bin Dirham at-Taimi ath-Thalhi al-Qurasyi. Beliau biasa dikenal dengan nama Abu Nuaim al-Fadhl bin Dukain.

Guru al-Fadhl bin Dukain

Al-Hafidz azd-Dzahabi menceritakan di dalam kitab “Siyar A’lamin Nubala” bahwa jumlah guru ulama kita satu ini mencapai dua ratus tiga orang. Beliau mempunyai ulama-ulama kibar yang pernah menjadi gurunya. Di antaranya adalah Sulaiman bin Mihran al-A’masyi, Ibnu Abi Laila, Mis’ar bin Qidam, Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, Syu’bah bin al-Hajjaj, Zaidah bin Qudamah, Sufyan bin ‘Uyainah dan masih banyak yang lainnya.

Kekuatan hafalan al-Fadhl bin Dukain

Al-Fadhl bin Dukain adalah ulama yang sangat kuat hafalannya dan sangat banyak pujian ulama kepada beliau rahimahullah.

Ya’qub al-Fasawi menceritakan, “Para sahabat kami telah sepakat bahwa Abu Nu’aim adalah orang yang paling kuat hafalannya.

Ucapan ini adalah sepenggal dari pujian para ulama mengenai kekuatan hafalan beliau. Mari kita simak kisah unik Abu Nu’aim yang menjadi salah satu bukti keajaiban hafalannya.

Ahmad bin Manshur ar-Ramady berkisah, “Dahulu aku pernah berkelana bersama Ahmad (bin Hanbal) dan Yahya bin Ma’in untuk menemui Abdurrazzaq ash-Shan’ani. Saat itu aku bertugas untuk melayani keperluan dan kebutuhan mereka berdua selama perjalanan berlangsung.

Tatkala kami sampai di kota Kufah, Yahya mengatakan, “Aku ingin menguji Abu Nu’aim, apakah dia benar-benar seorang yang kuat hafalannya atau tidak.”

Ahmad pun berkata, “Kami tidak ingin melakukannya, karena dia adalah benar-benar orang yang sangat kuat hafalannya.” Akan tetapi Yahya tidak menghiraukan himbauan dari imam Ahmad dan berkata, “Aku tetap harus melakukannya.” Akhirnya Yahya mengambil beberapa lembar kertas kemudian menulis tiga puluh hadits.

Di setiap penghujung sepuluh hadis yang pertama, ia menyisipkan hadits yang bukan milik Abu Nu’aim. Setelah usai dari penulisan hadis tersebut, mereka pun bergegas menemui Abu Nu’aim.

Saat itu Abu Nu’aim keluar dari kediamannya lalu duduk di atas bangku panjang yang terbuat dari tanah. Abu Nu’aim memegang Ahmad dan mengajaknya duduk di sebelah kanannya. Demikian halnya Yahya, dipegang dan didudukkan di samping kirinya. Sementara aku duduk di bawahnya.

Tidak lama kemudian Yahya mengeluarkan lembaran kertas tersebut lalu membacakan sepuluh hadits yang pertama kepadanya. Ketika sampai pada pembacaan hadits yang kesebelas, Abu Nu’aim berkata. “Ini bukan haditsku, hapuslah hadits itu.” Selanjutnya Yahya melanjutkan pembacaan hadits yang kedua, sementara Abu Nu’aim diam saja.

Ketika sampai pada sisipan yang kedua, Abu Nu’aim menimpali. “Ini bukan haditsku, hapuslah hadis tersebut.

Kemudian Yahya melanjutkan pembacaan sepuluh hadis yang ketiga, maka tatkala sampai pada sisipan yang ketiga, tiba-tiba raut wajah Abu Nu’aim berubah dan beliau tersadarkan ternyata beliau sedang diuji.

Maka beliau memalingkan wajahnya dan menghadap kepada imam Ahmad bin Hanbal. Lantas berkata, “Adapun ini-seraya memegang tangannya Ahmad-, maka ia terlalu wara’ (tidak ikut-ikutan) untuk melakukan perbuatan seperti ini.” Adapun ini (maksudnya adalah aku, Ahmad bin Manshur) maka terlalu kecil untuk melakukan perbuatan demikian. Ini pasti perbuatanmu wahai Yahya!”

Abu Nu’aim pun mengangkat kakinya dan menendang Yahya bin Ma’in hingga terhempas dari tempat duduknya. Setelah itu Abu Nu’aim bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Ahmad bin Hanbal berkata kepada Yahya, “Bukankah aku telah melarangmu akan perbuatan ini dan sudah aku beritahu kepadamu bahwa dia adalah seorang yang sangat kuat hafalannya?!”

Yahya pun menjawab, “Demi Allah, tendangannya lebih aku sukai daripada safarku.” Dalam kesempatan lain Yahya pernah berujar, “Belum pernah aku melihat perawi yang lebih kokoh hafalannya daripada Abu Nuaim dan ‘Affan.

Demikianlah Abu Nu’aim al-Fadhl bin Dukain, beliau memang dikenal sebagai sosok yang sangat tangguh hafalannya. Simak sanjungan para ulama terhadap kepribadian beliau rahimahullah.

Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Apabila Abu Nu’aim wafat, maka kitabnya akan menjadi pemimpin. Jika manusia berelisih pada suatu perkara maka mereka akan merujuk kepadanya.”

Ahmad bin Shaleh berkata, “Belum pernah aku melihat ahli hadits yang lebih benar selain Abu Nu’aim.” Sementara itu Abu Hatim berujar, “Abu Nu’aim adalah seorang yang hafidz dan mutqin (kokoh hafalannya).”

Al-Imam adz-Dzahabi mengatakan dalam kitab Siyar A’lamin Nubala, “Abu Nu’aim mampu untuk menghafal hadits-haditsnya ats-Tsauri dengan sangat baik dalam keadaan jumlah hadis Ats-Tsauri mencapai 3500 hadis. Ia juga mampu menghafal 500 hadisnya Mis’ar tanpa didekte.” Abu Ubaid al-Ajuri pernah bertanya kepada Abu Dawud, “Apakah Abu Nuaim adalah seorang hafidz?”  Ia pun menjawab, “Bahkan beliau sangat hafidz.”

Akidah al-Fadhl bin Dukain

Beliau juga termasuk ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dalam pemasalahan ‘aqidah, diriwayatkan dari Hamd bin al-Hasan at-Tirmidzi dan yang lainnya bahwa Abu Nu’aim pernah mengatakan, “Al-Quran adalah perkataan Allah Ta’ala dan bukan makhluk.”

Bahkan putri beliau yang bernama Shulaihah pernah mendengar ayahnya mengatakan, “Al-Quran adalah perkataan Allah Ta’ala dan bukan makhluk, barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk maka dia telah kafir.”

Wafatnya al-Fadhl bin Dukain

Abu Nu’aim meninggal pada bulan ramadhan tahun 219 H.[1] Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Nu’aim al-Fadhl bin Dukain dan kita bisa mengambil teladan dari beliau rahimahullah.

[1] Lihat: Siyar A’lamin Nubala dan majalah qudwah edisi 22 Vol. 2 1435 H/ 2014 M. hlm. 32.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.