Di Sekolah Itu Aku Sendiri

 

Oleh santri kelas 3 Takhasus yang tidak mau ditulis namanya

 

Jiwa ini akan selalu mengajak kepada kejelekan. Sedangkan lingkungan memiliki peran besar dalam mencegah jiwa kepada perbuatan buruk, atau bahkan malah menjadi eksponen jiwa tersebut untuk terus berbuat keburukan sampai titik kebinasaan –kita memohon kepada Allah keselamatan dan kekuatan-.

Di sebuah tempat yang semoga Allah menjaganya. Dimana para pencari ilmu syar’i menggores pena-pena mereka di malam dan siang hari. Melakukan aktivitas yang semoga Allah ridhai. Di tengah-tengah masa dimana tentara Allah Ta’ala berupa wabah yang tak kasat mata mengancam seluruh penduduk bumi.

Saudara-saudaraku yang semoga Allah menjaga kita semua…

Dengan mengharap wajah Allah Ta’ala semata, melalui motivasi dari para asatidzah yang selalu berkorban dan bersabar, tak jenuh untuk terus memberi kami nasihat dan bimingan -semoga Allah menjaga mereka-, dan dukungan semangat dari teman-teman seperjuangan di ma’had ini di masa pandem ini. Alhamdulillah aku termotivasi untuk menulis kisah sederhana yang kualami saat pertama kali cahaya hidayah itu datang membuka mata hati.

Semoga yang sederhana ini menjadi motivasi juga untuk semua yang membacanya. Amin.

اللهم إنا نسألك الهدى و السداد

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu hidayah dan kebenaran.”

Di sebuah sekolah umum negri, pada sebuah daerah yang terletak di pintu gerbang pulau Sumatra, ketika diriku masih memakai seragam; putih abu-abu. Aku hanya seorang siswa SMA sebagaimana biasanya mengikuti prohram belajar dengan kurikulum yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah.

Karena aku berada di lingkungan itu, maka jiwaku pun ikut hanyut bersama mereka dalam kelalaian dan kerugian karena jauh dari ilmu agama. Padahal al-Imam Ahmad rahimahullah pernah mengatakan

“Manusia lebih butuh kepada ilmu (syar’i) dibandingkan kebutuhannya terhadap makanan dan minuman. Karena makan dan minum hanya dibutuhkan 1 atau 2x dalam sehari. Sedang ilmu, engkau akan membutuhkannya setiap saat dan di setiap hembusan nafasmu.”

Dan ilmu syar’i akan mengantarkan kita untuk mendapatkan pahala meraih surga, bukan sebatas kertas ijazah yang fana. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من سلك طريقاً يلتمِسُ فيه علماً سهّلَ الله له طريقاً إلى الجنّةِ

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu (syar’i) maka Allah akan mudahan baginy jalan menuju surga.” (HR. at-Tirmidzi no. 2646, dari shahabat Abu Hurarirah radhiyallahu ‘anhu, shahih[1])

Hari demi hari kujalan hidupku di sekolah itu. Kedua orang tua yang masih awam terus menyemangati tuk belajar disana. Dengan harapan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Di jenjang pertama kelas 1 SMA, aku memiliki banyak teman. Karena itu sekolah formal, aku memiliki teman laki-laki maupun perempuan. Dari yang agamanya Islam, Kristen sampai beragama Budha. Senda gurau bersama mereka semua selalu ada di sela-sela belajar. Jika waktu belajar libur kami pun sering pergi bersama ke berbagai tempat rekreasi.

Salah satu organisasi/ekstrakulikuler yang kuikuti adalah yang sering disebut dengan “Rohis” atau “Kerohanian Islam.” Salah satu ekskul yang ada di sekolahku yang berisi kegiatan-kegiatan islami.

Ketertarikanku kepada ekskul ini berawal dari hasungan salah satu pengajian organisasi Islam yang aku ikuti di luar sekolah. Pengajian yang bernuansa politik. Sampai-sampai kami harus memilih caleg yang mereka inginkan pada pemilu. Jika tidak, kami tidak bisa mengikuti pengajian di tempat itu lagi.

Konsekuensi menjadi anggota rohis di sekolah adalah harus terlihat lebih agamis dibanding organisasi lainnya.

Sebagai anggota rohis aku sangat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Berbagai kepanitiaan aku ikuti. Termasuk panitia perayaan hari besar Islam yang diadakan tiap tahunnya. Jauhnya diriku dari ilmu syar’i membuatku bodoh dan tidak mengetahui bahwa acara tersebut ternyata tidak ada ajarannya dalam Islam. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengerjakan amalan yang tidak ada contohnya dariku maka (amalan tersebut) tertolak.” (HR. al-Bukhari no. 1718, dari shahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Di kelas 2 SMA aku masih berada dalam kegiatan-kegiatan yang kurang sesuai dengan syariat Islam. Semakin larut bersama mereka hati semakin gelap. Cahaya hidayah pun tak kunjung datang.

Satu setengah tahun berada disana. Tepatnya kelas 2 semester 2, diadakan pemilihan organisasi baru, termasuk “rohis”. Aku termasuk salah satu dari lima kandidat. Uniknya pemilihan tersebut dilakukan dengan cara berdebat. Siapa yang paling unggul dialah yang menang dan akan terpilih sebagai ketua.

Di salah satu ruang kelas, seusai pulang sekolah seluruh anggota rohis pun berkumpul untuk menghadiri acara debat. Debat pun dimulai. Masing-masing kandidat pun saling beradu argumen. Kondisi semakin memanas saat salah satu kandidat yang ia adalah wanita menyebutkan argumen dan bantahan dengan handal.

Namun aku tidak mau kalah. Bantah-membantah pun terjadi yang akhirnya aku pun unggul dan keluar sebagai pemenang. Dan aku akan diangkat menjadi ketua rohis baru. Lagi-lagi, karena lingkungan yang jauh dari ilmu aku bodoh dan tidak mengetahui bahwa debat dapat mematikan hati dan dilarang dalam syariat Islam.

Aku pun dilantik sebagai ketua rohis, sedangkan si wanita tadi sebagai wakilnya. Bertanda bahwa amanah telah diembankan kepada kami. Guru pembimbing pun berharap besar kepada kami untuk mensukseskan seluruh kegiatan rohis terutama acara-acara perayaan hari besar Islam.

Hampir selama 2 tahun aku berada di pengajian sebuah organisasi Islam tertentu. Namun, tidak ada perubahan yang berarti dalam diriku, shalat masih sering bolong. Yang kudapat hanyalah politik dan politik.

Di lingkungan rumah pun sama, jauh dari ilmu agama. Sebenarnya ada beberapa tetanggaku yang ngaji salafy. Berapa kali aku melihat mereka pergi memakai jubah yang rapi lagi bersih dan enak dipandang. Hingga aku bertanya kepada mereka, “Mau pergi kemana?” dengan lemah lembut dan sopan santun mereka menjawab, “Mau taklim.” Aku kembali bertanya, “Apa itu taklim?” “Taklim itu mengikuti kajian islam ilmiyah. Mau ikut? Ayuk ikut saja, kita pergi bareng,” jawab mereka.

Akhirnya aku pun melangkahkan kakiku untuk pertama kalinya menuju majelis ilmu syar’i.

Di kotaku hanya ada sebuah masjid yang biasa dipakai ikhwan salafy untuk taklim. Adapun pondok pesantrennya ada di luar kota. Jarak antara rumahku dan masjid itu cukup jauh. Aku pergi kesan menggunakan sepeda motor.

Sesampainnya di sana aku melihat suasana yang tidak seperti biasanya. Walaupun masjidnya sederhana, namun terlihat bersih dan rapi. Sitar hitam yang lebar pun terpasang sebagai batas antara ikhwan dan akhwat.

Orang-orangnya pun ramah dan baik-baik. Menbarkan salam antar sesama. Berjabat tangan ketika bertemu. Nuansa sunnah nabi selalu kutemui disana.

Hati ini pun merasa nyaman, tentram dan tenang berada disana. Padahal kajiannya belum dimulai. Ketika ustadz-ustadznya mulai menyampaikan taklim, memberi nasihat dan bimbingan, ketertarikanku terhadap ilmu syar’i pun semakin membumbung tinggi.

Aku merasakan ketenangan yang belum pernah kudapati sebelumnya di sekolah ataupun di tempat pengajian organisasi Islam sebelumnya.

Taklim selasai. Sebelum pulang ikhwan tadi membelikanku majalah asy-syari’ah secara gratis. Dan memberitahuku beberapa website yang berisi kajian-kajian ilmiyah ahlus-sunnah. Kemudian kami pulang dan aku berharap dapat kembali lagi ke salah satu taman dari taman-taman surga ini.

Hari-hari berlalu dengan semangat baru; belajar ilmu syar’i. Ku isi hari-hariku dengan mendengarkan kajian, membaca dan bertanya kepada ikhwan tentang hukum-hukum islam.

Aku mulai banyak mengetahui beberapa tentang hukum-hukum islam. Seperti wajibnya shalat berjamaah di masjid, masalah thaharah dan lainnya. Termasuk juga hukum perayaan dan terjun di bidang politik.

Orang tua yang melihat sikapku ini merasa khawatir akan mengganggu belajarku di sekolah, sampai berkata kepadaku, “Silahkan ngaji seperti ini. Tidak ada yang melarang. Bahkan ini sangat bagus. Akan tetapi jangan sampai mengganggu sekolahmu.”

Karena ilmuku yang masih sedikit, dan iman yang lemah aku masih berada di sekolah.

Waktu terus berlalu, sekarang aku berada di kelas 3 SMA. Jenjang terakhir sebelum melanjutkan ke jenjang kuliah. Teman-temanku lebih fokus belajar. Beberapa universiatas telah mereka targetkan. Perwakilan dari berbagai universitas di Indonesia datang mempromosikan kampusnya. Sedangkan diriku tidak lagi tertarik atas semua tawaran itu.

Aku selalu menjadi pembahasan guru-guru di kantor. Terlebih setelah aku menolak untuk bersalaman dengan guru perempuan. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya, “Besi panas yang ditusuk ke kepala lebih baik daripada menyentuh wanita yang bukan mahram.”

Demikian juga dengan adanya teman-teman. Aku lebih menjaga jarak dengan mereka. Selalu menolak jika diajak pergi ke tempat rekreasi. Dianggap sombong, terlebih ketika aku menolak untuk foto bersama. Padahal tidaklah alasanku kecuali mengamalkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، يُقَالُ لَهُمْ: أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar akan diadzab pada hari kiamat dan dikatakan kepadanya, “Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan.” (HR. al-Bukhari no.5951, dari shahabat Abdullah bin ‘Umar radhiyalahu ‘anhuma) Dan dalil yang lainnya tentang permasalahan ini.

Ya, sekarang di sekolah itu aku sendiri. Bosan, jenuh dan tidak betah di sekolah itu semakin kurasakan. Pikirku, aku harus mencari tempat lain yang mendukung semangatku belajar ilmu syar’i. Ya, pondok pesantren adalah jawabannya.

Aku mengutarakan keinginanku ini kepada ikhwan di kampungku. Mereka menasihatiku untuk terlebih dahulu izin kepada orang tua. Namun itu berat bagiku. Aku tidak yakin mereka mengizinkannya.

Tersisa kurang lebih 3 bulan waktuku di sekolah sebelum kelulusan. Aku membayangkan betapa kecewanya kedua orang tuaku apabila di 3 bulan terakhir ini aku keluar dari sekolah dan tidak mendapat ijazah.

Aku harus berdoa dan berfikir bagaimana caranya agar aku bisa segera menjadi santri. Hari-hari kujalani dengan bolos dari sekolah karena ketidak betahanku disana. Padahal dari aku SD sampai SMA, aku tidak pernah bolos dari sekolah.

Beberapa hari kemudian seorang ikhwan mendatangiku dengan membawa kabar gembira untukku. Ia berkata, “Aku sudah bertemu orang tuamu. Aku memberitahukan keinginanmu untuk mondok setelah beberapa perbincangan yang panjang tampaknya orang tuamu mengizinkanmu. Sekarang coba datangi orang tuamu dan kamu utarakanlah keinginanmu.”

Setelah mendengar itu, aku mulai merasa ada angin segar. Aku pun segera mengutarakan keinginanku ke orang tua. Kemudian orang tuaku menjawab, “Kalau keinginanmu memang benar-benar mau mondok silahkan, tetapi dengan syarat selesaikan dulu sekolahmu.”

Dengan penuh rasa syukur kepada Allah aku berterima kasih kepada kepada orang tua dan kepada ikhwan yang telah banyak membantuku. 3 bulan yang tersisa kugunakan banyak waktuku untuk menghafal juz 30. Terkadang juga ke rumah salah satu ikhwan, di situ aku manfaatkan waktuku untuk mendengar kajian ilmu.

Setelah kelulusan aku segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke salah satu pondok pesantern di Jawa imur. Alhamdulillah impianku tercapai. Akhirnya aku dapat keluar dari pintu gerbang Sumatra dalam rangka untuk menuntut ilmu syar’i. Ridho orang tua telah kudapatkan. Semangat kupersiapkan. Perjuangan akan kulakukan. Aku berdoa agar diberi keikhlasan. Semua ini tak kan kusia-siakan. Saat bahtera yang kunaiki memecah ombak-ombak yang berada di antara pulau Sumatra dan Jawa. Saat itu aku berdoa untuk dimudahkan dalam thalabul ilmi dan agar Allah memberikan yang terbaik untukku.

Alhamdulillah. Sungguh telah benar janji Allah. Bahwa Allah akan mengganti dengan yang jauh lebih baik dari sesuatu yang kita tinggalkan karena-Nya. Kini aku sudah berada di tahun ke-5 di pondok pesantren ini. Aku sudah merasakan nikmatnya belajar dan manisnya ilmu syar’i. Teman-teman yang saling menasehati dalam ketaqwaan berada di sekitarku. Begitu pula para asatidzah yang selalu berkorban membimbing kami agar tetap berada di atas sunnah dan kebenaran juga berada di sekeliling kami. Hingga sekarang di masa pandemi covid-19 ini Allah masih memudahkanku untuk merasakan manisnya ilmu.

Teman-teman sekalian, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang bersungguh-sungguh untuk selalu berada di jalan-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ  

“Barang siapa yang bersungguh-sungguh untuk menempuh jalan Kami, pasti sungguh kami akan tunjukan jalan Kami kepada mereka.” (QS. al-‘Ankabut: 69)

Semoga kisah yang sederhana ini menjadi motivasi untuk kita semua. Dan semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan keistiqamahan kepada kita semua. Amin.

 

 

 

 

[1] Lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib 6/146

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.