Jangan Kau Rusak Persaudaraan Ini

 

Oleh Javar Shadiq Malang Takhasus 2A

 

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala…

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum muslimin untuk bersatu dan menjauhi perpecahan. Allah berfirman di dalam ayat-Nya :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)

Perpecahan merupakan kebiasaan orang-orang kafir, baik dari kalangan ahlul kitab maupun yang lainnya. Sebagaimana di dalam Allah katakan dalam al-Qur’an:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (31) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (32)

“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum: 31-32)

Nikmatnya persaudaraan di jalan Allah

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya. Perumpamaan mereka bagaikan satu tubuh. Apabila salah satunya mengeluhkan rasa sakit, yang lainnyapun turut merasakannya.  Sebagaimana sabda Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ شَيْءٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Permisalan kaum muslimin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka bagikan satu tubuh. Jika salah satu bagian merasa sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Ahmad no. 18373 shahih)

Persaudaraan sesama kaum muslimin murni kenikmatan dari Allah Ta’ala. Allah yang menyatukan hati-hati mereka. Kalaulah bukan karena nikmat dan rahmat-Nya, niscaya kaum muslimin saling bermusuh-musuhan. Allah Ta’ala mengingatkan hal tersebut di dalam ayat-Nya :

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu. Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103)

Hal-hal yang dapat merekatkan persaudaraan

Di antara cara mensyukuri nikmat adalah dengan terus menjaga kenikmatan tersebut. Yaitu dengan  berupaya menempuh cara-cara yang dengannya sebuah kenikmatan akan terus terjaga, maka begitu pula dengan nikmat persaudaraan kita. Agar persaudaraan kita terus langgeng, kitapun harus menempuh kiat-kiat yang dapat mewujudkannya. Berpegang  pada sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Permisalan seorang beriman dengan saudaranya bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.” (HR. Al-Bukhari no. 244)

Saling memberi salam

Maka di antara perkara yang dapat menguatkan tali persaudaraan kita adalah dengan kita saling menebarkan salam dan bertegur sapa tatkala bertemu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidak akan sempurna keimanan kalian sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu perkara yang dengannya kalian dapat saling mencintai, tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 93)

Rasulullah juga menerangkan etika ketika kita memberi salam. Rasulullah menjelaskan siapa yang berhak untuk memulai mengucapkan salam, sehingga dengan itu tampak sikap saling menghormati antar sesama dan akan tumbuh bersemi rasa cinta di antara kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى المَاشِي، وَالمَاشِي عَلَى القَاعِدِ، وَالقَلِيلُ عَلَى الكَثِيرِ وَيُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الكَبِيرِ

“Hendaknya orang yang berkendara dari kalian memberi salam kepada yang pejalan kaki, para pejalan kaki hendaknya memberi salam kepada orang yang duduk, yang jumlahnya sedikit memberi salam kepada yang jumlahnya lebih banyak, orang yang lebih muda memberi salam kepada yang lebih tua.” (HR. Al-Bukhari no. 6231)

Namun tiada salahnya apabila seorang yang lebih tua memberi salam kepada yang lebih muda, karena padanya terdapat bentuk kasih sayang dan sebagi bentuk pengajaran tentang sebuah adab terhadap sasama.

Saling Memberi Hadiah

Di antara perkara yang dapat merekatkan tali persaudaraan kita adalah dengan kita saling memberi hadiah. Dengannya kita menjadi saling mencintai dan saling bersaudara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari no. 594)

Dan masih banyak lagi perkara-perkara yang dapat menguatkan persaudaraan kita, namun kiranya dua hal ini apabila kita semua mengamalkannya sudah cukup untuk membuat hati-hati kita bersatu dan menjadikan kita saling bersaudara.

Hal-hal yang dapat merusak persaudaraan

Kita sudah mengetahui bahwa persaudaraan sesama muslim merupakan murni karunia dari Allah Ta’ala. Manusia tidak memiliki andil padanya. Bahkan kalaulah mereka menginfakkan sepenuh bumi ini dalam rangka menyatukan umat ini, namun Allah Ta’ala tidak menghendakinya maka tidak akan terlaksana. Allah Ta’ala tegaskan hal tersebut di dalam ayat-Nya:

لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal: 63 )

Kitapun sudah mengerti tentang perkara-perkara yang dapat melanggengkan tali persaudaraan kita. Maka di antara kiat dalam menjaga nikmat persaudaraan yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepada kita adalah dengan menjauhi hal-hal yang dapat menghilangkan kenikmatan tersebut. Di antara hal- hal yang meyebabkan retaknya persaudaraan di antara kaum muslimin adalah sebagaimana yang tertera dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا» وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ «بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian saling hasad, saling berjual beli dengan cara najasy[1], saling bermusuhan, saling membelakangi. Janganlah salah seorang menjual di atas penjualan saudaranya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya. Ia tidak menzhalimi saudaranya tidak pula menipunya. Ketakwaan itu letaknya di sini (sambil menunjuk ke dadanya, beliau ucapkan sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang itu dianggap jelek apabila ia merendahkan saudaranya. Setiap muslim dengan muslim yang lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2654)

Nah, mungkin ini beberapa perbuatan yang dapat merusak persaudaraan kita secara global. Semoga kita diberi taufik oleh Allah Ta’ala agar menjauhi hal-hal tersebut. Harapannya dengan itu persaudaraan kita terus langgeng hingga hari kiamat. Dengannya pula kita berharap sebuah naungan di sisi Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallan bersabda:

أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي، الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي

“Allah Ta’ala berfirman: “Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena Aku? Hari ini Aku akan menaungi mereka (yang mana) pada hari ini tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim no. 2566).

 

 

[1] An-Najasy yaitu seseorang yang menawar barang dengan harga tinggi tanpa berniat membelinya dengan tujuan agar orang lain yang mendengarnya tertipu sehingga membeli barang tersebut dengan harga tinggi.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.