Meraih kebahagiaan hakiki

 

Oleh Miqdad al-Atsari 1A Takmili

 

Kebahagiaan dalam hidup merupakan dambaan bagi seluruh umat manusia. Bagaimana tidak, ia akan merasakan kenyamanan, ketentraman dan ketenangan. Namun sedikit sekali dari mereka yang mendapatkannya. Kebahagiaan yang tidak sekadar dengan rumah mewah dan kendaraan mahal. Tetapi sebuah kebahagiaan yang sebenarnya; yaitu bersyukur ketika diberi, bersabar ketika diuji dan beristighfar memohon ampun kepada Allah ketika bermaksiat kepada Sang Ilahi. Ya, itulah tiga tanda kebahagiaan hakiki.

Sore itu terasa berbeda bagi kami. Sibuk dan lelah itulah yang kami rasakan, karena memang sedari pagi kegiatan kami penuh dan padat. Pada siang harinya kami diumumkan akan dipindahkan ke ma’had II (itulah istilah yang kami pakai, kurang lebih berjarak 300 meter dari ma’had I). Maka tidak ada lagi waktu istirahat bagi kami, karena seusai shalat ‘Ashar kami sudah harus berangkat menuju ma’had II.

Roda mobil pun berputar dengan perlahan mengantarkan kami meninggalkan ma’had I menuju ma’had II. Sedih? Pasti, karena kami juga harus berpisah dengan teman-teman seangkatan kami. Tentunya karena hanya setengah dari kami yang dipindahkan ke ma’had II, sisanya tetap tinggal di ma’had I. Akhirnya mobil pun berhenti tepat di depan sebuah bangunan dengan panjang 30 m, lebar 15 m dan tinggi 12 m, ya. Itulah tempat tinggal (asrama) kami selama kami di ma’had II.

Saat kami tiba, hampir-hampir tidak kami dapati seorang pun kecuali sebanyak hitungan jari, mereka inilah yang akan ditugasi dalam rangka membantu kami selama kegiatan belajar di ma’had II. Kami pun masuk asrama, kemudian mulai menata barang-barang hingga tidak terasa adzan maghrib berkumandang dan shalat segera ditegakkan.

Sehabis shalat kami langsung makan malam hingga datang waktu isya’, setelah selesai kami langsung merebahkan punggung-punggung kami di ranjang masing-masing dikarenakan lelah yang sangat.

Lima hari pertama kami tidak memiliki jadwal kegiatan yang pasti. Ya, kami diberi waktu untuk beradaptasi dengan tempat baru. Memang kehidupan di mahad II tidak senyaman dan semudah di mahad I. Di mahad II, kami tidak memiliki tempat berteduh dari sengatan sinar matahari kecuali tempat yang kami huni dan dua rumah milik ikhwan. Kipas angin Cuma ada satu itupun kecil, kamar mandi dan WC hanya ada dua. Maqshaf atau tempat belanja pun tidak ada. Namun hal itu tidaklah menyurutkan semangat juang thalabul ilmi kami. Kami juga sadar, ujian yang kami hadapi tidaklah berarti jika dibandingkan dengan ulama-ulama terdahulu, juga kami merasakan kebahagiaan dan kesenangan pada jiwa-jiwa kami, karena Allah Ta’ala masih memudahkan kami untuk terus bersabar dan bersyukur. Alhamdulillah.

Di sini kami yakin dengan mensyukuri apa yang ada, niscaya akan Allah tambah kenikmatan tersebut. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (7)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Benar saja, seiring berjalannya waktu kami mendapat rizki untuk membuat kanopi dan gazebo. Kami juga memiliki tambahan kipas angin yang lebih besar, kamar mandi dan WC pun juga demikian halnya. Tidak ketinggalan maqshaf dan lapangan bermain pun diadakan: sepak bola, voli, takraw, badminton dan tenis meja. Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah Ta’ala.

Selain belajar dan ta’awun kami juga ditugaskan untuk berladang atau bercocok tanam. Kami lakukan kegiatan tersebut setiap sore hari. Kami memang santri, namun kami tidak kalah dari para petani. Sebagai buktinya, cabai yang kami tanam lebih pedas jika dibandingkan cabai-cabai yang ada di pasaran sana. Juga dengan pakcoy, kangkung, sawi dll yang lebih segar dan enak (bukannya bangga atau sombong, namun sebagai bentuk perealisasian dari firman Allah Ta’ala,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11)

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh-Dhuha: 11)

Kini ma’had II telah menjadi destinasi wisata bagi para ikhwan mutazawwijun yang tinggal di kavlingan ma’had. Guna melepas penat, jemu dan kejenuhan yang mereka rasakan. Ya, karena kami di sini berusaha dan terus berusaha untuk tetap menjalankan aturan dan anjuran pemerintah dalam rangka menciptakan pesantren tangguh tanggap Covid-19. Oleh karenanya, mereka tidak melakukan bepergian ke luar, kecuali jika itu merupakan hal yang mendesak. Isolasi atau karantina mandiri.

Ya, kami bersyukur karena Allah Ta’ala masih memberikan kebahagiaan kepada kami dan juga bisa membuat orang lain bahagia karena kami. Ingat! Bahagia itu tidak susah, hanya dengan bersyukur, bersabar dan beristighfar kamu bisa bahagia.

Kami di sini juga bersyukur karena kami masih diberikan kesempatan untuk tetap belajar, walaupun kami tidak mencicipi masa liburan. Tidak dapat pulang ke kampung halaman, tidak dapat berkumpul bersama keluarga dengan penuh kehangatan dan keharmonisan. Karena kami yakin pasti akan ada hikmah di balik itu semua yang jauh lebih baik tentunya. Aamiin.

Syukurilah bagaimanapun kondisi atau keadaan kita, sabarlah seberat apapun cobaan yang menimpa kita. Terimalah musibah yang menimpa kita dengan lapang dada, niscaya akan ada jalan keluarnya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 6)

Akhir kata, raihlah atau kejarlah ilmu hingga akhir hayat kita. Dengan menuntut ilmu kita akan dimudahkan menuju surga yang kita impikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, niscaya akan Allah Ta’ala mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Imam Muslim dalam sahihnya)

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Ahnaj berkata:

    Masya Allah!!teruslah bersemangat kawan!!💦💦

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.