Nilai penting dari waktu

 

Oleh Uqbah Muntilan

 

Hari demi hari kita lalui menemani waktu yang terus bergulir, waktu yang terus mengalir selalu mengantarkan kita untuk menjemput takdir. Satu hari yang telah kita lalui, maka satu hari pula yang berkurang dari umur kita, dan satu hari pula kita semakin menjemput ajal kita.

Di saat usiaku mulai berkurang, dalam waktu yang terus berjalan dan kematian terus melambaikan tangan, seakan siap untuk menjemputku ke dalam pelukan kengerian. Aku masih saja merasa susah untuk menjadi hamba-Mu yang baik. Selalu ingin bergelut dan mengeksplorasi kenikmatan dunia, hingga aku ingin merasakan puasnya meresapi dunia. Padahal semakin kukejar dunia itu, semakin cepat pula dia berlari. Semakin kutertarik memandangnya, semakin dia membuatku terpesona. Aduhai, siapa kiranya yang bisa terlepas dari belenggu cintanya kepada dunia, sehingga betul-betul ia akan menjadi orang yang beruntung. Sungguh benar nasihat-Mu,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى 17

“Bahkan kalian lebih mementingkan (negeri) dunia, padahal (negeri) akhirat lebih baik dan kekal.” (QS. al-A’la: 16-17)

Bila tiada bantuan dari-Mu untukku, entah akan kemanakah aku terhempas. Bila Engkau tinggalkan aku, kepada siapa aku akan meminta pertolongan. Sungguh hatiku begitu lemah sedang syahwat dan api syubhat terus menyambar-nyambar bak tak ada kata lelah.

Maka, hanya kepada-Mulah aku adukan kelemahanku. Hanya kepada-Mulah aku mengiba dan meratap. Dan hanya kepada-Mulah aku meminta pertolongan.

Tiada kegembiraan hakiki bagi yang tidak memiliki kebulatan hati. Tiada kenikmatan bagi yang tidak memiliki kesabaran. Tiada kebahagiaan bagi yang tidak pernah merasakan penderitaan. Tiada ketenangan bagi yang tidak pernah merasakan lelah perjuangan. Karena, siapa pun sepakat bahwa kenikmatan tidak akan didapat dengan kenikmatan pula.

Sangat berbahaya apabila orang lain begitu menghargai kita, padahal kita tidak pantas mendapatkannya. Inilah jebakan maut mematikan. Betapa banyak korban berjatuhan. Orang lain menganggap baik kita, padahal kenyataannya tidak demikian di sisi-Nya. Orang lain mau mengerti kita akan terlena dalam kesalahan, sulit sadar dari berbagai penyimpangan. Lalu, tobat pun semakin jauh.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Numan berkata:

    Jazaakallahukhairan atas nasehat&bimbingan nya..ami uqbah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.