Oh, Mungkin Dia Punya Uzur

 

Oleh Abdul A’la Ba’abduh, Tahfizh

 

Dalam berteman dan bersahabat, sebagai manusia, adakalanya di antara salah satu pihak berbuat salah, dan melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh temannya. Sebagai seorang teman dan sahabat yang baik, ketika temannya kemudian datang dan menyampaikan uzur atau alasan atas tindakannya tersebut, selayaknya untuk ia terima alasan tersebut dan memaafkannya.

Demikian pula ketika kita mendengar atau melihat hal-hal mungkar dari sahabat kita, maka kita tidak tergesa-gesa menghukuminya, bahkan kita berikan untuknya berbagai kemungkinan dan uzur, karena sebab apa dia melakukan hal tersebut. Apalagi jika dia seorang yang dikenal baik, saleh, dan yang ia lakukan bertentangan dengan kebiasaannya.

Atau yang ia lakukan, merupakan hal aneh yang tidak biasanya ia lakukan. Bisa jadi ia melakukan hal tersebut karena ada faktor pendorong yang tidak bisa ia hindari, sehingga ia terpaksa melakukan kemungkaran tersebut.

 

Larangan Berprasangka Buruk Kepada Seorang Muslim

Jangan berprasangka buruk atau berprasangka yang tidak-tidak terhadap seorang muslim. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ

“Jauhilah oleh kalian prasangka (buruk), karena sungguh prasangka itu adalah sejelek-jelek ucapan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Bertolak Belakang dengan Fakta

Betapa seringnya kita menyangka suatu hal, akan tetapi tidak benar. Akan berakibat fatal dan jelek apabila kita menilai dan menghukumi seseorang hanya berdasarkan prasangka saja.

Abu Qilabah Abdullah bin Zaid rahimahullah mengatakan, “Jika sampai kepadamu mengenai saudaramu hal-hal yang tidak kau sukai, maka bersungguh-sungguhlah untuk mencari alasan baginya. Jika kau tidak menemukan alasan apapun baginya, maka katakan di dalam hatimu, ‘Barangkali saudaraku memiliki alasan lain yang tidak kuketahui.’”

 

Tahap Berikutnya

Berikutnya adalah menasehatinya dengan bijak dan penuh hikmah atas apa yang ia lakukan tersebut, ketika ia kemudian menyampaikan alasan yang membuat ia melakukan hal tersebut, maka hendaknya kita menerimanya dan memercayai apa yang ia ucapkan tersebut. Tentu dengan menasihatnya agar ia tidak mengulangi perbuatannya atau dengan solusi lain yang semestinya bisa ia lakukan.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Siapa yang berbuat jelek kepadamu, lalu dia datang dan meminta alasan atas kesalahannya padamu maka ke-tawadhu’anmu mengharuskanmu untuk menerima alasan tersebut, baik alasan itu benar atau pun tidak. Dan hendaknya kau kembalikan apa yang ia sembunyikan di hatinya kepada Allah.

Tanda sifat mulia dan tawadhu’ adalah ketika kau melihat adanya ketidak-tepatan di dalam alasan yang ia sampaikan, maka kau tidak menghentikan ucapannya, tidak pula kau debat dia dan katakan saja di hatimu, ‘Barangkali kejadiannya memang seperti apa yang ia ucapkan tersebut.’”

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا عَثْرَتَهُ، أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يوم القيامة

“Barangsiapa yang menerima uzur (alasan) dari seorang muslim, maka Allah akan memaafkan kesalahannya di hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban)

Terlebih jika orang tersebut seorang yang dikenal dengan kebaikan dan kesalehannya, maka menerima alasannya lebih ditekankan.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقْبِلُوا ذَوِي الهَيْئَاتِ عَثْرَاتَهُم

“Terimalah alasan dari dzawil haiat atas kesalahan-kesalahannya yang mereka lakukan” (HR. Abu Dawud)

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa beliau mengatakan, “Dzawul hai’at adalah orang-orang yang tidak dikenal dengan kejelekan, kemudian suatu saat terjatuh dalam kesalahan.”

 

Pahamilah Hak Saudaramu

Inilah hak saudara dan sahabat kita, ketika melihat hal-hal yang kita pandang keliru dan salah, maka husnuzhon-lah kepadanya, terimalah alasannya, maafkan dia dan nasihatilah dengan baik! Jika tidak demikian, maka persahabatan akan terputus, bahkan muncul darinya perselisihan yang besar. Kita memohon kepada Allah keselamatan dari berbagai fitnah dan perselisihan. Amiin

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.