Selamat datang para calon santri-para penuntut ilmu syar'i warisan Nabi. Untuk mengikuti ujian online UMTB klik di sini!

Saat para pelaku maksiat sekarat

 

Oleh Mujahid Aceh Takhasus 3A

 

Kematian adalah sebuah kepastian. Tiada hamba yang hidup kekal. Semuanya pasti akan dijemput ajal. Kapan dan dimanpun ia berada. Seorang hamba yang memenuhi hidupnya dengan amal shalih, maka akhir hidupnya insyaAllah akan baik dan husnul khatimah. Adapun hamba yang menghabiskan hidupnya dengan maksiat dan dosa, maka dikhawatirkan akhir hidupnya jelek dan su’ul khatimah.

Dan seringnya seperti itu. Inilah beberapa kisah tentang pelaku maksiat saat datang padanya sakaratul maut.

 

KEMATIAN SALAH SEORANG PEMILIK BANYAK BARANG DAGANGAN

Ada yang berkata kepadanya, “Ucapkan laa ilaaha illallah” dia malah mengatakan, “Rumah si fulan kalian betulkan itunya, dan pakaian si fulan kalian perbaiki ininya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menyebutkan tentang kematian salah seorang pedagang, bahwa beberapa orang kerabatnya telah menyaksikan kematiannya. Kemudian dia menlqinnya dengan “laa ilaaha illallah” namun ia berkata, “Tanah ini murah. Inilah pembeli yang terbak. Ini begini… dst.” Hingga akhirnya ia mati -naudzu billah-.

 

KEMATIAN SANG DURJANA YANG ZALIM

Dari Hakam al-Ansi rahimahullah dari bapaknya dari kakeknya berkata, “Saya hadir saat sakaratul mautnya Hajjaj bin Yusuf, ketika menjelang maut dia berkata: ‘Ada perhitungan apa antara aku denganmu wahai Sa’id bin Jubair.’”

Karena Hajjaj lah yang membunuh tabi’in yang mulia ini.

 

KEMATIAN SALAH SEORANG BUDAK DUNIA

Ketika sakaratul maut, orang-orang mengatakan kepadanya: “Ucapkan laa ilaaha illallah.” Dia mejawab, “Sapi kuning..” Ternyata dia amat mencintai sapi itu dan menyibukkan diri dengannya.

 

KEMATIAN ORANG YANG DUDUK BERSAMA PEMINUM KHAMR

Seorang laki-laki biasa duduk bersama para peminum khamr, ketika kematian menjemputnya beberapa orang menalkinnya dengan syahadat. Tapi apa responnya, dia menjawab, “Minum dan tuangkan lagi untukku.” selanjutnya ia mati -nau’udzu billah-.

 

KEMATIAN ORANG YANG SUKA MAIN  CATUR

Ketika dia tertimpa sakaratul maut, lalu diminta untuk mengucapkan laa ilaaha illallah, malah dia ucapkan adalah “skak” setelah itu ia mati.

Lisannya terbiasa mengucapkan istilah-istilah yang sering dia ucapkan dalam permainan itu. Maka diakhir hidupnya, ia susah untuk melepaskan diri darinya -nau’dzu billah-.

 

KEMATIAN SEORANG YANG HOBI MUSIK

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada seorang yang menjelang mati ditalkin dengan laa ilaaha illallah. Orang itu malah melantunkan nyanyian, “taa tanaa teng teneng…” kemudian dia mati -nau’dzu billah-.

 

KEMATIAN ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Salah seorang yang sedang sakaratul maut di talkin: “Ucapkan laa ilaaha illallah.” Dia justru menjawab: “Itu tidak dapat menolongku. Aku tidak pernah melakukan shalat.” Akhirnya dia mati tanpa menyebutkan kalimat syahadat.

 

WASIAT DAN SAKARATUL MAUT ORANG YANG RAKUS DUNIA

Dia berkata: “Dunia telah menghinakanku sehingga hari-hariku larut bersamanya.”

Ada lagi yang berkata: “Jangan sampai kalian tertipu dengan gemerlapnya dunia sepertiku.”

Saat si rakus dunia ini ditalkin: “Ucapkan laa ilaaha illallah.” Dia malah berkata: “Hah… hah…aku tidak bisa.”

Itulah beberapa kisah tentang orang-orang yang menghabiskan usianya dengan dunia. Mereka jauh dari akhirat. Tidak memikirkan bahwa di sana ada penghancur kenikmatan. Dan ingatlah, kebiasaan itu sangat menentukan. Lihatlah, mereka yang kebiasaannya jelek! Kehidupan mereka ditutup dengan kejelekan. Kecuali, jika Allah mengendaki yang lain.

Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullah menasehati kita dalam kitabnya Raudhatul Uqala, beliau berkata: “Mati adalah roda yang diputar ditengah-tengah makhluk, ibarat gelas minum yang digilir untuk mereka. Tiap yang bernyawa pasti akan meminumnya dan mencicipi rasanya, itulah sang penghancur segala kenikmatan.”

Beliau juga berkata: “Kuburan adalah persinggahan pertama dari kehidupan akhirat dan pembaringan terakhir di dunia. Beruntunglah siapa yang mengatur urusan dunianya untuk kuburannya dan mempersiapkan diri untuk akhiratnya.” (Mukhtashar Raudhatul Muhibbin, hlm. 185)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.