Ternyata Inilah Penyebab Terjadinya Fitnah Sejak Dahulu Sampai Sekarang

 

Faedah Ringkas Manhaj

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan:

فَقَدْ يَذْنَبُ الرَّجُلُ أَوِ الطَّائِفَةُ ، وَيَسْكُتُ آخَرُونَ عَنِ الأَمْرِ وَالنَّهْيِ ؛ فَيَكُونُ ذَلِكَ مِنْ ذُنُوبِهِمْ

Terkadang ada orang atau golongan tertentu berbuat dosa, sementara yang lainnya diam, tidak memerintahkan atau melarang. Akhirnya hal itu menjadi dosa mereka bersama.

 

وَيُنْكِرُ عَلَيْهِمْ آخَرُونَ إِنْكَاراً مَنْهِيّاً عَنْهُ؛ فَيَكُونُ ذَلِكَ مِنْ ذُنُوبِهِمْ، فَيَحْصُلُ التَّفَرُّقُ وَالاِخْتِلاَفُ وَالشَّرُّ، وَهَذَا مِنْ أَعْظَمِ الفِتَنِ وَالشُرُورِ قَدِيْماً وَحَدِيثاً

Sementara yang lainnya lagi mengingkari mereka dengan cara yang terlarang, akhirnya hal itu juga menjadi dosa mereka bersama. Maka terjadilah perpecahan, perselisihan dan kejelekan. Inilah salah satu fitnah dan kejelekan terbesar semenjak dahulu hingga sekarang.

 

إِذِ الإِنْسَانُ ظَلُومٌ جَهُولٌ. وَالظُّلْمُ وَالجَهْلُ أَنْوَاعٌ، فَيَكُونُ ظُلْمُ الأَوَّلِ وَجَهْلُهُ مِنْ نَوْعٍ، وَظُلْمُ كُلٍّ مِنَ الثَّانِي وَالثَالِث وَجَهْلُهُمَا مِنْ نَوْعٍ آخَرَ وَآخَر .

Karena memang manusia itu watak dasarnya zalim dan bodoh. Kezaliman dan kebodohannya bermacam-macam. Kezaliman dan kebodohan orang pertama (yang berbuat dosa -ed), itu satu jenis. Kezaliman dan kebodohan orang kedua dan ketiga (yang tidak mengingkari dosa atau yang mengingkarinya dengan cara yang salah-ed), itu jenis lainnya lagi.

 

وَمَنْ تَدَبَّرَ الفِتَنَ الوَاقِعَةَ رَأَى سَبَبَهَا ذَلِكَ، وَرَأَى أَنَّ مَا وَقَعَ بَيْنَ أُمَرَاءِ الأُمَّةِ وَعُلَمَائِهَا وَمَنْ دَخَلَ فِي ذَلِكَ مِنْ مُلُوكِهَا وَمَشَايِخِهَا وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنَ العَامَّةِ مِنَ الفِتَنِ هَذَا أَصْلُهَا.”

Barangsiapa mencermati berbagai fitnah yang terjadi niscaya ia akan melihat bahwa sebabnya adalah ini. Ia akan melihat berbagai fitnah yang terjadi di antara pemimpin umat dan ulamanya, serta orang-orang yang turut andil dari kalangan raja dan para Syaikh, demikian pula masyarakat umumnya, maka sebab utamanya adalah ini.”

Al-Istiqamah (2/247)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.