Grand Opening ISLAH-05: Sejarah dan Harapan Baru

Tim Jurnalistik Islah 05 1447 H

Jember, 01 Ramadhan 1447 H /19 Februari 2026

Ratusan wajah para santri yang penuh kebahagiaan terlihat di Ma’had Minhajul Atsar Jember saat acara Grand Opening ISLAH-05 (Ifthar Santri Bernilai Ukhuwwah) dan MUSLAH (Musabaqah ISLAH Berfaedah), 01 Ramadhan 1447 H / 19 Februari 2026 M. Program yang telah berjalan sejak lama itu kini hadir dengan wajah baru, menghadirkan sistem yang membangkitkan kembali tujuan awal.

Transformasi Program Lama: Antara Sejarah dan Harapan Baru

Dalam kilas balik program ifthar ini, salah seorang ustadz yang menjabat sebagai WADIR (Wakil Mudir) Bidang Kesantrian menjelaskan bahwa program ini sebenarnya telah berjalan sejak lama, namun kini dikembalikan ke tujuan awal.

“Untuk tahun ini kita berupaya mengembalikan ke rel yang awal,” ujarnya dalam sambutan kumpul internal panitia.

ISLAH bermula dari sebuah gagasan sederhana. Pada awal pembentukannya, kepanitiaan ini dibentuk dengan tujuan yang sangat mendasar: mengumpulkan para santri di masjid agar lebih siap dan lebih awal dalam menghadiri shalat Maghrib.

“Di antara tujuan utama ISLAH adalah mengumpulkan thullab supaya mereka bersiap diri saat shalat Maghrib ditegakkan. Dan thullab waktu itu belum sebanyak sekarang,” jelas beliau.

Sajian ifthar yang tersedia pun masih seadanya, disiapkan oleh dapur ma’had dengan kemampuan yang terbatas dan tanpa diacarakan secara khusus. Semuanya berjalan alami dan sederhana—sekadar berbuka bersama sebelum menunaikan shalat Maghrib, tanpa rangkaian kegiatan tambahan ataupun kemeriahan tertentu.

Seiring waktu, jumlah santri semakin bertambah. Variasi menu dan kualitas konsumsi dari dapur ma’had pun ikut meningkat. Pelaksanaan kegiatan menjadi lebih tertata, menyesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan yang ada.

Ketika masa pandemi COVID-19 melanda, keadaan berubah. Interaksi antara thullab, ikhwan, dan warga sekitar menjadi terbatas. Dalam keterbatasan itu justru lahir inisiatif baru: memasak ifthar secara mandiri. Awalnya sangat sederhana—campuran tepung yang diaduk lalu digoreng, praktis dan mudah dibuat. Meski sederhana, ada semangat kebersamaan dan kemandirian yang tumbuh di dalamnya.

Seiring waktu, kegiatan memasak ini berkembang menjadi agenda masak besar. Skala yang semakin luas menghadirkan konsekuensi dan pertimbangan baru, tidak hanya soal teknis pelaksanaan, tetapi juga tentang pendanaan, efisiensi, serta maslahat yang lebih besar bagi banyak pihak. Pada titik inilah muncul pemikiran untuk mengembalikan ruh awal ISLAH: bukan sekadar menyediakan makanan, tetapi menghadirkan manfaat yang lebih luas.

“Nah, di situlah kesempatan thullab untuk kemudian masak ifthar. Iftarnya yang dimasak sederhana sekali. Tepung diulek-ulek kemudian digoreng begitu saja, diberi air minum tambahan, dan seterusnya. Namun, seiring perkembangan zaman sampai akhirnya masak-masak dalam skala besar. Sampai akhirnya, seperti yang sudah saya sampaikan di majelis sebelumnya, terjadilah apa yang terjadi dan seterusnya. Nah, ini kita ingin kembalikan kepada rel yang awal, yaitu bagaimana tujuan utama dari ISLAH, yakni menghasung thullab untuk bisa ijtima’ (berkumpul) di dalam masjid, intidzorush shalah (menunggu shalat), yang di dalamnya mengandung pahala yang besar,” jelas beliau.

Di tengah proses tersebut, hadir pula dukungan dari asosiasi pengusaha UMKM di Jember yang bernama BIN SALMAN (Bina Niaga Salafy Mandiri). Kehadiran mereka membuka peluang sinergi yang lebih baik antara panitia dan ikhwan sekitar.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, konsep ifthar pada tahun ini mengalami perubahan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pembuatan konsumsi makanan ifthar diserahkan kepada ikhwan sekitar sebagai upaya mengembangkan usaha dan memperkuat ekonomi ikhwah yang terasosiasi, sementara pembuatan minuman serta distribusinya tetap menjadi tanggung jawab Panitia ISLAH.

Tidak hanya itu, untuk semakin menyemarakkan Ramadhan, diadakan pula berbagai agenda tambahan seperti lomba dan kegiatan lainnya. Semua ini bukan sekadar program, tetapi bagian dari perjalanan panjang ISLAH—dari kesederhanaan, bertumbuh dalam kebersamaan, hingga menjadi wadah yang membawa manfaat lebih luas bagi banyak pihak.

Dalam versi terbaru, ISLAH-05 kini hadir dengan:
• Perlombaan CCI (Cerdas Cermat Ilmiah).
• Perlombaan kreativitas.
• Masakan ifthar dari ikhwan sekitar.

Program tahun ini pun diresmikan dengan Grand Opening ISLAH-05 pada hari pertama bulan Ramadhan.

Hari Pembukaan yang Meriah

Sejak pukul 17.20 WIB, ratusan santri mulai memadati lokasi acara yang bertempat di Masjid Ali bin Abi Thalib. Beberapa terlihat duduk tersimpuh sembari menunggu kata pembuka dari MC di depan, sementara panitia tengah bersiap-siap menjelang acara berlangsung.

Suasana pembukaan berlangsung meriah dengan ramainya kehadiran para santri. Panitia menyediakan proyektor untuk memudahkan proses pengenalan program tersebut.

Diawali dengan sambutan dari dua moderator panitia, “Di tempat tercinta kita, Masjid Ali bin Abi Thalib, kita berkumpul dalam rangka Grand Opening sekaligus sosialisasi program ISLAH-05 tahun 1447 H.”

Proses acara pembukaan juga diikuti kata sambutan oleh ketua acara, sehingga pesan maksud dan tujuan langsung tersampaikan.

Sore hari itu bertambah meriah dengan seruan yel-yel dari peserta yang dipandu MC, “ISLAAH….”, disambut dengan suara para santri, “Ifthar santri bernilai ukhuwwaaah!”.

Memasuki sesi berikutnya, Ketua Panitia meresmikan program ISLAH tahun ini sekaligus menyampaikan harapan, “Semoga acara ISLAH kali ini dan seterusnya akan menjadi lebih baik dan lebih meriah, serta ibadah dan takwa kita pun tentunya lebih baik dari sebelumnya, sehingga nikmat dan pertolongan Allah SWT kepada kita pun terus tercurah kepada kita semua.”

Beliau juga menjelaskan secara singkat tentang kepanitiaan dan semarak MUSLAH yang berisi aneka jenis lomba. Ia menegaskan bahwa MUSLAH tak sekadar musabaqah, tetapi juga sarana memeriahkan Ramadhan tahun ini.

Alur Pembagian Konsumsi Ifthar

Di tengah sesi, terlihat sejumlah panitia keamanan (salah satu divisi Islah) sedang menata nampan berisi sajian ifthar berupa kurma, dadar gulung, beserta minumannya. Panitia telah menyiapkan ifthar sejak sebelum Ashar dengan membuat minuman. Setelah itu, bakda Ashar, tim mobilisasi mulai bergerak untuk menjemput makanan dari koordinator BIN SALMAN. Setelah konsumsi tiba di posko ISLAH, tim pramusaji segera menyusun makanan di nampan- nampan. Hingga ketika tim pramusaji selesai menata sajian, tim distribusi dengan sigap segera mengantar nampan- nampan tadi ke masjid.

Sekitar 10 menit sebelum azan Maghrib berkumandang, nampan telah tersedia di pelataran masjid, membuat fokus para santri sedikit terpecah akibat rasa penasaran terhadap menu ifthar hari itu.

Panitia menyiapkan sekitar 400 porsi ifthar, mencakup santri tahfizh, takmili, takhasus, para musyrif di ma’had satu, serta sejumlah petugas maqshaf, kantin, dan pos jaga.

Setelah rangkaian sambutan selesai, panitia menutup acara beberapa menit sebelum azan berkumandang.

Kesan dan Pesan

Salah satu peserta, seorang santri tahfizh, memberi apresiasi, “Masyaallah, ami’ sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kita dan memang kali ini beda dari yang lain…,” ujarnya.

Adapun menurut salah seorang musyrif tahfizh, acara menjelang waktu berbuka ini sangat membantu tugas mereka, “Sangat terbantu dengan acara seperti ini, membantu dalam mengoprak-oprak santri.”

Sementara menurut Ketua Acara MUSLAH, walaupun Grand Opening ini bukan inti program, setidaknya mampu mempromosikan agenda ke depan, “Agar kesan di awal lebih meriah,” ucapnya dalam salah satu kesempatan.

Harapan ke Depan

Pihak ma’had berharap pembaruan ini dapat meningkatkan semangat ibadah. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Mudir Lembaga Takhasus.

“Berharap ISLAH tahun ini lebih baik, lebih rapi. Dengan format baru ini tidak mengurangi semangat. Justru dengan format baru ini, sesuai dengan namanya, ISLAH itu memperbaiki atau perbaikan, yang bisa memperbaiki secara iman dan juga ilmiah. Yang kita cari bukan banyak atau sedikitnya, tetapi yang kita cari adalah barakah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala pada apa yang sedang kita siapkan,” jelas beliau.

Perubahan ini diharapkan menjadikan manfaat kegiatan tidak terbatas pada para santri saja, tetapi juga dapat meluas kepada ikhwan dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, ISLAH tidak hanya menjadi agenda internal, namun juga menghadirkan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Kita ingin bagaimana pondok kita maju, kita ingin bagaimana ke depan punya usaha yang mandiri,” terang beliau dalam majelis bersama panitia.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses