Peduli Negeri, Di Balik Sejuknya Pagi

Di tengah sejuknya udara pagi perkebunan, geliat para santri PKL sudah terasa sejak mentari belum tinggi. Dari kejauhan, terlihat mereka sibuk mempersiapkan berbagai perlengkapan untuk Baksos PKL SPN — menata ruang, memotong bambu untuk tenda tunggu, hingga menggunting kertas resep dokter. Semangat itu menyatu dalam kesejukan Gondang, menghadirkan kehangatan yang berbeda: hangatnya kepedulian.

Tak jauh dari sana, warga Desa Gondang sudah berdiri di depan rumah masing-masing. Seakan mereka tak sabar menanti kedatangan dokter dan tim medis dari Ma’had Minhajul Atsar Jember serta Puskesmas Klatakan, yang akan memberikan layanan kesehatan gratis.

Pukul 08.30 pagi, armada baksos tiba di titik kegiatan — sebuah TK yang disulap menjadi sarana kesehatan darurat. Di sinilah berbagai kegiatan kesehatan digelar: dari cek tensi, khitan, periksa mata, akupuntur, hingga konsultasi kesehatan. Semua berjalan serentak, rapi, dan penuh semangat.

Di ruang akupuntur, terdengar suara lembut seorang teknisi asal Lumajang yang sedang mengamati kaki seorang warga.

“Bentuk kaki di sini seperti melengkung, ini artinya kakinya capek… tapi dipaksa bekerja,” ujarnya sambil tersenyum.
Dan benar saja, banyak dari warga Gondang memang hidup dengan jadwal yang melelahkan — malam menyadap karet, pagi ke kebun kopi yang jaraknya jauh terkadang hingga 10 kilometer. Namun wajah mereka tetap berseri, karena bagi mereka, lelah bukan alasan untuk berhenti berjuang.

Sementara itu, dari ruangan lain terdengar suara tangis kecil — ternyata dari ruang khitan. Tangisan itu menjadi saksi kecil dari perjuangan tim medis yang tak hanya berfokus pada penyembuhan fisik, tapi juga membangun empati dan semangat pengabdian. Semua bergerak bersama, saling membantu, saling menguatkan.

Inilah mengapa kegiatan baksos ini diadakan — bukan sekadar program kesehatan, tapi juga wadah bagi para santri untuk belajar bagaimana caranya peduli dan melayani masyarakat dengan ikhlas. Mereka belajar bahwa menolong orang lain bukan hanya tugas dokter, tapi panggilan setiap insan yang beriman.

Dari Gondang, mereka belajar arti ta‘awun dan peduli negeri. Dari tenda sederhana, mereka belajar makna perjuangan. Dan dari setiap senyum warga yang terobati, mereka belajar bahwa pengabdian sejati tak butuh panggung besar — cukup hati yang tulus dan langkah yang ikhlas.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses