Jalan terjal dan onak duri dalam thalabul ilmi
Oleh Muh. Naufal Zaki Fanani Takmili
Salah satu kenikmatan terbesar adalah bisa bertholabul ‘ilmi (menuntut ilmu). Karena dengannya akan mudah untuk mendapatkan kenikamatan abadi. Dengan ilmu seorang dapat beramal sesuai bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan ilmu pula seorang dapat ber-tawadhu’ (rendah hati) dan menjadi mulia di sisi Rabb ilahi.
Meneropong jejak ulama terdahulu
Namun dalam tholabul ‘ilmi ada ujian yang datang silih berganti. Sebagaimana yang dialami oleh orang-orang yang datang sebelum kita, tetapi mereka bersabar dan tidak berhenti. Tholabul ‘ilmi tetap menjadi cita-cita yang dijunjung tinggi.
Mereka rela mengorbankan segalanya demi ilmu syar’i, sehingga mereka menjadi mulia hingga saat ini. Oleh karena itu, ingatlah wahai saudaraku, cobaan yang ada pada kita masih ringan dan tidak berarti jika dibandingkan dengan para ulama yang telah mendahului kita dalam tholabul ‘ilmi.
Kisah-kisah meraka sangatlah menyentuh hati. Apabila kita mau membaca dan merenungi, kita bagaikan kerikil kecil yang berada di bawah gunung tinggi.
Imam Abu Hatim ar-Razi rahimahullah
Abu Hatim menceritakan sebagian pengalamannya:
“Dahulu aku tinggal di Bashrah dalam rangka menuntut ilmu. Perbekalanku pun habis, maka aku mulai menjual bajuku sedikit demi sedikit hingga habis, demikian pula barang-barangku. Kemudian aku berkeliling bersama temanku kepada para masyaikh, kami mendengar dari mereka hadits.
Tatkala tiba waktu sore, aku kembali ke rumahku dan tidak ada apa-apa (kecuali air), lalu aku meminum air karena saking laparnya. Kemudian di waktu subuh, temanku pun datang. Kami pergi kepada para masyaikh dalam keadaan aku merasa sangat lapar, hanya Allah Ta’ala yang mengetahiunya.
Pada suatu hari temanku kembali datang kepadaku untuk mengajakku berangkat. Aku pun berkata kepadanya, ‘Aku sangat lemah sehingga aku tidak bisa berangkat.’ Dia pun bertanya, ‘Ada apa denganmu?’ Aku pun menjelaskan, ‘Aku tidak pernah merasakan makanan sejak dua hari yang lalu.’ Ia pun memberiku setengah dinar agar menguatkan diri dengannya.”
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
Dahulu Imam Ahmad bin Hanbal shalat mengimami Abdurrazzaq rahimahumallah. Maka, Abdurrazzaq bertanya padanya tentang penyabab laparnya ia ketika shalat, ia pun menjawab, “Aku tidak pernah mencicipi makan sejak tiga hari.”
Imam Baqi’ bin Makhlad rahimahullah
Baqi’ bin Makhlad rahimahullah pernah menceritakan pengalamannya saat ber-tholabul ‘ilmi:
“Sesungguhnya aku mengetahui seseorang yang pada hari-hari thoalabul ‘ilmi-nya ia tidak memiliki makanan kecuali daun kil/gubis yang dibuang.”
Kisah Imam Ibrahim bin Umar al-Jairi rahimahullah
Berkata Ibrahim bin Umar al-Jairi rahimahullah:
“Dahulu pada awal tholabul ‘ilmi-ku aku membeli sebuah wortel dan itu mencukupiku tiga hari.”
Imam Ali al-Bakhli rahimahullah
Abu Ali al-Bakhli rahimahullah mengungkapakan rihlah tholabul ‘ilmi-nya:
“Di ‘Asqolan dahulu aku ber-tholabul ‘ilmi hingga perbekalanku pun menipis, dan aku pun tidak makan selama berhari-hari. Lantas aku pun pergi untuk menulis, namun aku tidak mampu menulis lantaran lapar yang mendera. Lalu aku pun pergi ke toko roti dan aku duduk di dekatnya agar bisa mencium aroma sebagai penguat bagiku, kemudian Allah Ta’ala memberi harta kepadaku.”
Renungan
Di mana kita dibandingakan mereka wahai para santri? Apakah ujian yang menimpa kita seperi Abu Hatim ar-Razi? Apakah seperti yang menimpa Abu Ali al-Bakhli? Apakah pernah kita tidak makan berhari-hari? Apakah pernah kita hanya makan satu wortel untuk tiga hari? Apakah pernah kita tidak punya apa-apa sama sekali sehingga harus mendekati toko roti untuk menguatkan diri?
Sungguh kita tidak ada apa-apa nya dibandingkan ulama sebelum masa kita kini. Tapi kita sering mengeluh dan tidak menyabarkan diri dalam menghadapi ujian yang lebih ringan ini. Ampunilah kami ya Allah, Rabb langit dan bumi. Kokohkanlah kami dalam ber-tholabul ‘ilmi hingga akhir hayat ini. Amin


