Suara dari Balik Podium MTQ ISLAH 05
Tim Jurnalistik Islah 05 1447 H
Jember, Senin 05 Ramadhan 1447 H / 23 Februari 2026
Musabaqah Tilawatil Qur’an ISLAH 05 baru saja usai. Namun, lomba tadi menyisakan sekian cerita dan kesan tersendiri bagi masing-masing peserta. Mulai dari persiapan lomba, kesan ketika tampil di atas podium, hingga harapan mereka dari keikutsertaan di MTQ ini. Lalu, apa makna MTQ ISLAH 05 bagi mereka? Berikut beberapa kutipannya.
Ajang untuk Melatih Mental
“Pertama-tama yang harus ana persiapkan adalah mental,” ucap Abdulloh, kontestan kategori tilawah asal Lumajang. Baginya, perlombaan kali ini tak ubahnya media untuk menempa dirinya menjadi seorang pemberani.
“Karena lomba ini adalah kali pertama ana maju di hadapan para penonton yang tidak biasa, bahkan tidak pernah ana rasakan,” imbuhnya.
Memang, kepercayaan diri serta mentalitas tinggi menjadi modal utama untuk tampil di hadapan banyak orang, selain persiapan materi. Tak heran jika banyak yang mumpuni secara hafalan dan ilmu tajwid, namun minder untuk tampil di depan khalayak hanya karena kurangnya kepercayaan diri.
“Terpaksa, karena yang lebih pintar dari aku takut atau malu dan juga mengaku lupa atau tidak bisa, dan ternyata setelah kami maju ia mengaku bahwa ia tahu,” jawab Abdurrazaq saat ditanya apa yang mendorongnya berani tampil menjawab soal tajwid di atas podium.
“Aku tidak memiliki persiapan apa-apa kecuali hanya belajar tartil tujuh dan zikir sore, dan persiapannya sangat mendadak karena tiba-tiba yang awalnya tim pendukung malah menjadi tim inti,” jelas santri asal Lumajang tersebut.
Bahkan, kontestan yang telah siap mental sedari awal pun bisa turun mental ketika sudah berhadapan dengan ratusan hadirin. Hal inilah yang dialami Abdul Ghafar, salah seorang kontestan kategori itqon.
“Sebelum tampil ana sudah persiapan hafalan murojaah-nya. Pas ana mau duduk di kursi langsung disoraki sama peserta. Yang pertamanya ana percaya diri, mental ana langsung jatuh, langsung down. Penampilan pertama adalah teman ana yang membaca qiraah. Setelah dia, giliran ana. Ana disoraki lagi, dada ana berdebar-debar, kaki ana sontak gemetar. Hafalan yang semua sudah dipersiapkan, seperti hafalan yang belum dihafal, akhirnya salah.”
Meskipun begitu, kontestan asal Jambi ini tak menyesal atas kejadian tadi. “Tapi tak mengapalah, itu jadi pengalaman,” tuturnya.
Harapan dan Pesan
Biarpun sakannya tak meraih peringkat tertinggi di MTQ ISLAH 05, Abdurrazaq tak berkecil hati. Ternyata ia punya sudut pandang lain terhadap perlombaan semisal ini. Menurutnya, MTQ kali ini bukan sekadar kompetisi. “Perlombaannya bagus karena dapat memberikan banyak wawasan tentang Al-Qur’an dan semoga tahun depan masih ada perlombaan seperti ini dan lebih bagus lagi.”
Maklum, baginya yang belum pernah mempelajari makhraj huruf, lomba ini memberinya banyak wawasan seputar Al-Qur’an. “Adapun sifat-sifat huruf sempat belajar sebentar, kurang lebih tidak sampai setahun, itu pun sering sakit.”
Sementara itu, Abdulloh sangat berharap kepada teman-temannya agar ke depannya tidak menyia-nyiakan momentum perlombaan seperti ini. “Senantiasa latihlah mental kalian. Kalau bisa, ikutilah semua kegiatan yang diadakan oleh pondok. Mau kalah maupun menang, tetap jalani dengan kesabaran,” ucap peserta termuda di kompetisi itu.
Tak bisa dipungkiri, di setiap ajang kompetisi pasti ada pihak yang merayakan kemenangan, ada pula yang harus menerima kegagalan. “Tapi tak mengapa, banyak orang mencoba sesuatu tetapi gagal, dan di balik kegagalan itu insya Allah pasti ada keberhasilan,” ucap Abdul Ghafar memotivasi diri sendiri.


