MTQ Islah 05, Gelorakan Semangat Al-Qur’an di Bulan Ramadan

Tim Jurnalistik Islah 05 1447 H 

Jember, 6 Ramadan 1447 H / 24 Februari 2026

Sore itu, Masjid Ali bin Abi Thalib terlihat ramai oleh kerumunan santri yang tengah bersiap mengikuti salah satu rangkaian kegiatan MUSLAH (Musabaqoh ISLAH Berfaedah). Ya, benar, hari itu adalah pelaksanaan MTQ untuk pertama kalinya dalam edisi Ramadan setelah beberapa tahun silam tak sempat digelar.

Prosedur Lomba

Lomba MTQ diikuti oleh 3 kontestan perwakilan kamar Lembaga Tahfidz dan Takmili yang berasrama di Ma’had 1. Dari 3 kontestan tersebut, masing-masing perwakilan bersaing di 3 cabang musabaqoh yang berbeda. Setiap kategori menguji aspek kemampuan yang berbeda, mulai dari kelancaran bertilawah hingga kemahiran bertajwid.

  1. Kategori Tilawah: Membaca setengah halaman.
  2. Kategori Itqon: Tim tahkim (Tim yang bertugas menyediakan soal) membaca potongan ayat, lalu kontestan dipersilakan melanjutkan ayat selanjutnya.
  3. Kategori Soal Tajwid dan Waqof: Tim tahkim memberikan 5 soal mengenai tajwid dan hukum waqof.

Nantinya, pemenang perlombaan akan diumumkan menjelang hari kepulangan bersama kategori lomba lainnya.

Jalannya Perlombaan

Pada hari pertama musabaqoh, sembari menunggu kesiapan panitia setelah terjadi delay dari jadwal semula. Acara pun dibuka dengan kuis penarik perhatian yang dipandu oleh perwakilan tim acara.

Hingga pukul 16.30, Musabaqoh Tilawatil Qur’an resmi dimulai. Para peserta yang sedari tadi hadir mulai memusatkan perhatian kepada MC yang berdiri di depan untuk membuka acara. Mereka berjajar sesuai denah kelompok/kamar masing-masing dengan duduk bersimpuh di atas karpet.

Dari sudut selatan masjid, tim tahkim sudah bersiap dengan soal-soal untuk sesi itqon dan tajwid. Sementara itu, tak jauh dari tim tahkim, di sudut utara terlihat dua dewan juri dari perwakilan imam Masjid Ali bin Abi Thalib yang turut diundang. Keduanya tampak memperhatikan setiap peserta dengan seksama, mencatat poin penilaian pada lembar yang telah disiapkan. Kehadiran dewan juri ini semakin menambah keseriusan dan wibawa jalannya perlombaan.

Tiga perwakilan pertama ditentukan melalui undian yang ditampilkan di layar proyektor. Ketiga perwakilan tersebut kemudian maju ke depan. Giliran pertama adalah kontestan tilawah yang membaca setengah halaman. Kemudian berikutnya, dari perwakilan kamar naik ke podium untuk menjalani sesi sambung ayat. Tim tahkim membaca ayat, Selanjutnya, kontestan melanjutkan sekitar lima baris ayat berikutnya. Selanjutnya, kontestan ketiga maju ke podium untuk menjawab soal tajwid dan hukum waqof. Tim tahkim memberikan 5 soal mengenai hukum tajwid dan aturan waqof yang harus dijawab sesuai kaidah ilmu tajwid.

Di akhir penampilan 3 kontestan pertama, salah seorang juri memberikan komentar atas penampilan peserta.

Pada hari pertama, sebanyak 3 kelompok dari total 8 kamar yang berpartisipasi telah menyelesaikan penampilan tiga kontestannya. Dengan demikian, masih tersisa 5 kelompok yang belum mendapat giliran tampil. Selain itu, sesi untuk tim pendukung dari seluruh kelompok juga masih menunggu untuk dilaksanakan pada jadwal berikutnya.

Memasuki hari kedua dan ketiga, perlombaan tetap berjalan dengan sistem yang tak jauh berbeda, menjaga ritme dan pola yang telah terbentuk sejak awal.

Awalnya, rangkaian MTQ ini dijadwalkan selesai dalam dua hari. Namun, qadarullah, waktu Maghrib pada hari kedua kian mendekat sehingga sebagian rangkaian harus dilanjutkan pada hari berikutnya.

Meskipun begitu apresiasi diberikan oleh salah satu juri asal Medan

“Jujur, ana salut. Rapi, walaupun namanya rencana manusia tak lepas dari kekurangan. Wajar, masih awal-awal.”  Ungkapnya saat ditemui di masjid

Hari Ketiga: Kejutan yang Menegangkan

Hari ketiga berjalan dengan pola yang sama—tilawah, itqon, dan tajwid tetap menjadi inti perlombaan. Namun, di akhir sesi, panitia telah menyiapkan sebuah kejutan istimewa.

Seorang panitia asal Padang maju dan duduk di kursi peserta. Seluruh tim ditantang untuk menyebutkan ayat apa pun dalam Al-Qur’an.

Aturannya sederhana namun menegangkan:

Yaitu Jika perwakilan panitia berhasil menebak nomor ayat yang disebutkan, tim tersebut akan dikurangi 20 poin. Namun, jika tebakannya salah, tim penantang berhak mendapatkan tambahan 50 poin.

Suasana pun berubah menjadi penuh strategi dan keberanian. Ada yang memilih ayat populer, ada pula yang sengaja memilih ayat yang jarang dibacakan. Tawa, ketegangan, dan semangat kompetisi berpadu menjadi penutup yang tak terlupakan.

Percobaan pertama datang dari kamar Ibnu Taimiyyah. Perwakilannya membacakan sebuah ayat dengan penuh keyakinan. Tak berselang lama, santri asal Padang tadi langsung menyebutkan nomor ayat yang dimaksud dengan tepat. Sontak seluruh hadirin terheran-heran sekaligus terpukau dengan ketepatan jawabannya. Sorakan takjub pun menggema di dalam masjid.

Rasa penasaran semakin menyelimuti peserta hingga dewan juri. Satu per satu tim mencoba menguji ketelitian hafalan perwakilan panitia dengan ayat-ayat berbeda. Ketegangan terasa setiap kali ayat dilantunkan, menunggu jawaban yang akan keluar. Hingga akhirnya, dari lima soal yang dilontarkan, hanya dua yang keliru ditebak.

Salah seorang santri tahfizh pun mengungkapkan keheranannya kepada panitia,

 “Mi’,  gimana caranya bisa seperti itu?”

“Banyak murajaah,” ujar perwakilan panitia asal Padang seusai lomba.

Jawaban sederhana itu menegaskan satu hal penting: kelancaran hafalan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses pengulangan dan disiplin yang konsisten.

Namun, di balik usaha yang tampak, para santri tetap diajarkan untuk menyadari bahwa kemampuan tersebut pada hakikatnya merupakan karunia Allah semata. Keyakinan ini menjadi fondasi utama dalam setiap proses menuntut ilmu. Meski demikian, karunia itu tidak terlepas dari sebab-sebab yang harus ditempuh. Murajaah, ketekunan, serta kesungguhan dalam menjaga hafalan menjadi bagian dari ikhtiar yang tidak bisa diabaikan.

Dengan demikian, keberhasilan seorang penghafal Al-Qur’an bukan hanya cerminan bakat, tetapi juga perpaduan antara usaha yang sungguh-sungguh dan keyakinan penuh bahwa hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah.

MTQ di hari ketiga pun diakhiri dengan kuis berhadiah bagi para hadirin pada pukul 17.00, karena selepas acara akan dilangsungkan muhadharah menjelang berbuka bersama salah seorang ustadz di tempat yang sama.

Penutup

Harapannya, digelarnya MTQ ISLAH 05 ini mampu menggelorakan semangat santri untuk membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga hafalan Al-Qur’an, diikuti dengan bacaan tajwid yang benar, sebagaimana disampaikan oleh ketua MUSLAH, “Itu sebagai ajang buat teman-teman Tahfizh untuk bisa memurojaah hafalannya, agar mereka ini bisa lebih antusias di dalam menjaga hafalannya.”

Hal ini selaras dengan penyampaian salah seorang ustadz dalam muhadharah menjelang berbuka, “Seyogianya bagi kita memperbanyak qiraatul quran di bulan (Ramadan) ini,” ucap beliau  memotivasi.

Lebih dari itu, beliau  mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan sekedar lantunan bacaan, namun berlanjut pada pengamalan.

“Karena keutamaan-keutamaan yang disebutkan dalam hadits akan berguna dan bermanfaat bila diamalkan,” lanjut beliau.

Ya, benar, Al-Qur’an akan menjadi penolong dan syafaat ketika diamalkan. Sebaliknya, akan menjadi boomerang bagi yang tidak beramal dengannya.

“ Alqur’an bisa menjadi pembelamu atau musuhmu.” (HR. Muslim no.223).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses