Pentingnya Memanfaatkan Waktu dalam Kehidupan
Oleh Ibrahim Hamzah, Tahfizh
Waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang sering terabaikan oleh manusia. Ia terus berjalan tanpa bisa dihentikan, tidak dapat diulang, dan tidak bisa dibeli kembali. Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari hidup yang tidak akan kembali. Oleh karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk hal-hal yang bermanfaat, baik bagi kehidupan dunia maupun terlebih lagi untuk akhirat.
Allah subhanahu wa Ta‘ala mengingatkan manusia tentang nilai waktu dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Ayat ini menunjukkan bahwa waktu menjadi tolok ukur kerugian dan keberuntungan manusia. Orang yang tidak mengisi waktunya dengan iman dan amal saleh akan berada dalam kerugian, sedangkan mereka yang memanfaatkannya untuk kebaikan akan memperoleh keberuntungan.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan umatnya agar tidak menyia-nyiakan waktu. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh manusia: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)
Hadits ini menegaskan bahwa waktu luang adalah nikmat besar yang sering disia-siakan. Banyak orang baru menyadari betapa berharganya waktu ketika kesempatan itu telah hilang. Padahal, waktu luang dapat dimanfaatkan untuk menuntut ilmu, beribadah, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta melakukan berbagai amal kebaikan yang bermanfaat bagi sesama.
Memanfaatkan waktu bukan berarti harus selalu sibuk tanpa henti, tetapi menggunakannya secara bijak dan seimbang. Waktu untuk beribadah, bekerja, beristirahat, dan bersosialisasi semuanya memiliki porsi masing-masing. Islam mengajarkan agar kehidupan dijalani secara teratur dan bermakna.
Dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, seseorang tidak hanya akan meraih kesuksesan di dunia, tetapi juga menabung pahala untuk kehidupan akhirat. Sebab, pada akhirnya setiap detik waktu yang kita lalui akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallalahu alaihi wasallam,
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara, salah satunya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)
Oleh karena itu, marilah kita mengisi waktu dengan hal-hal yang bernilai, bermanfaat, dan diridhai Allah, agar hidup tidak berlalu sia-sia dan penuh penyesalan.
Sumber
- QS. Al-‘Ashr: 1–3
- Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq, no. 6412
- Sunan At-Tirmidzi, Kitab Shifat Al-Qiyamah, no. 2416


