Bergaul dengan Orang-Orang Saleh

 

Oleh Nashr Makassar, Takhasus

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yang berdoa kepada Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah engkau berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Jangan pula kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya, dan keadaannya telah melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)

 

Dan Allah Taala berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَاوَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Ingatlah hari ketika orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Duhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dahulu tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan, ia tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqon: 27-29)

 

Dalam as-Shahihain (sahih al-Bukhari dan Muslim) dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ، وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Permisalan teman duduk yang saleh dengan teman duduk yang buruk itu bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi mungkin dia akan memberimu minyak wangi, atau mungkin kamu akan membeli darinya. Atau setidaknya kamu akan mendapatkan bau yang wangi darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia akan membakar bajumu atau paling tidak kamu akan mendapatkan bau yang tak sedap.” (HR. Muslim no. 146 dan Al-Bukhari no. 2101)

 

Antusias Menghadiri Majelis Ilmu

Maka dari itu wahai saudaraku, pembaca yang budiman…

Menjauhlah dari sekte-sekte bidah yang menyimpang dan kelompok-kelompok mereka, seperti: Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, dan Jamaah jihadi yang jahil lagi sangat bodoh.

 

Justru hendaknya kita bersemangat dan antusias untuk menghadiri majelis-majelis ahlul ilmi dari kalangan ulama ahlus sunnah dan mengambil faedah dari apa yang mereka sampaikan.

Kita berhati-hati dari bisikan-bisikan Hizbiyyun (kelompok-kelompok yang menyimpang). Karena bisikan mereka menyerupai bisikan-bisikan setan, Allah Taala berfirman:

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka. Padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An-Nisa: 120)

 

Kata Penutup

Demi Allah, betapa banyak pemuda-pemuda yang saleh, hafal al-Qur’an, dan cerdas dalam ilmu agama, di rusak oleh hizbiyyun dengan janji-janji dusta mereka. Sungguh, kelak mereka akan ditanya tentang penyesatan yang telah mereka lakukan. Dan cukup bagi kita Allah Taala sebagai sebaik-baik penolong.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.