Yakini hal-hal ini sebagai konsekuensi iman dalam hati

 

Oleh Rifki Andika Wijaya 2C Takmili

 

Keimanan kepada Allah itu mengandung banyak makna dan konsekuensi. Makna dan konsekuensi tersebut harus ada pada seorang hamba agar keimanannya menjadi keimanan yang benar dan semakin sempurna. Para ulama telah menjelaskan beberapa konsekuensi tersebut. Maka, pada tulisan kali ini kita akan membahas konsekuensi keimanan yang harus ada pada seorang hamba. Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengamalkannya.

 

Apa yang terjadi merupakan sesuatu yang Allah kehendaki

Di antara konsekuensi keimanan terhadap kehendak Allah adalah meyakini bahwa segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti akan terjadi. Adapun yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, sebagaimana perkataan Allah ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)

Allah ta’ala juga berkata:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya urusan Allah apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata: jadilah! Maka jadilah sesuatu tersebut. (QS. Yasin: 82)

Allah ta’ala juga berkata:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan: 30)

 

Allah pencipta segala sesuatu

Pembaca, Allah ta’ala yang menciptakan segala sesuatu yang ada ini. Tidak ada pencipta selain Allah, serta tidak ada Rabb selain-Nya. Sebagaimana perkataan Allah ta’ala,

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“Allah pencipata segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

Allah ta’ala juga berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

“Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain dia. Maka mengapa kamu berpaling?” (QS. Fathir: 3)

 

Iman berupa ucapan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan

Termasuk keimanan kepada Allah ta’ala adalah keyakinan bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan. Iman bertambah dengan amalan ketaatan, berkurang dengan amalan kemaksiatan. Dan tidak boleh mengkafirkan salah seorangpun dari kaum muslimin dikarenakan sebuah kemaksiatan di bawah dosa syirik dan kekafiran. Seperti zina, mencuri, memakan harta riba, meminum khomr, durhaka kepada kedua orang tua, dan dosa-dosa besar lainnya. Selama ia tidak menganggap halal dosa-dosa tersebut. Hal ini berdasakan firman Alah ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosas-dosa yang selain itu bagi barang siapa yang yang dia kehendaki.” (QS. an-Nisa’: 48)

Dan ini telah disebutkan di dalam hadits yang mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Allah ta’ala akan mengeluarkan dari neraka orang-orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan sebesar biji sawi.

 

Cinta dan benci karena-Nya

Termasuk juga dalam keimanan kepada Allah adalah cinta, benci, berloyalitas dan memusuhi karena Allah ta’ala. Maka seorang mukmin, hendaknya mencintai orang-orang yang beriman dan berloyalitas kepada mereka. Hendaknya juga dia membenci orang-orang kafir dan memusuhi mereka.

Pemuka orang-orang yang beriman dari umat ini adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ahlus sunnah wajib mencintai mereka, berloyalitas kepada mereka dan meyakini bahwasanya mereka adalah manusia terbaik setelah para Nabi. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian yang setelahnya dan yang setelahnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ahlus sunnah juga menyakini bahwa orang yang terbaik di antara para sahabat adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemuidan Umar al-Faruq, lalu Utsman pemillik dua cahaya, setelah itu ‘Ali bin Abi Tholib yang diridhoi.

Kemudian sahabat terbaik setelah keempat ini yaitu sepuluh orang yang dijamin masuk ke dalam surga (selain empat sahabat yang telah disebutkan di atas) kemudian para sahabat yang lainnya.

Ahlus sunnah juga menahan diri dari membicarakan perselisihan yang terjadi di antara para sahabat, mereka bekeyakinan bahwa para sahabat adalah mujtahid. Siapa yang benar, dia mendapat dua pahala dan barang siapa yang salah, dia mendapat satu pahala.

Ahlus sunnah juga mencintai ahlul bait yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berloyaitas kepada mereka. Mereka membela para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para ibunya kaum mukminin dan ridho kepada mereka seluruhnya.

 

Berlepas diri dari akidah Syiah

Begitu pula ahlus sunah berlepas diri dari jalannya orang-orang Rofidhoh yang memusuhi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencela serta bersikap ekstrim terhadap ahlul bait. Orang-orang Rofidhoh menyangka kedudukan ahlul bait di atas kedudukan yang Allah tetapkan untuk mereka. Ahlus sunah juga berlepas diri dari orang-orang nawasib yang menyakiti ahlul bait dengan perkataan dan perbutan mereka.

Seluruh apa yang kami sebutkan pada kalimat yang ringkas ini adalah tentang akidah yang benar. Allah ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan akidah yang selamat, ahlus sunnah wal jama’ah yang Nabi bersabda tentang mereka:

لا تزال طائفة من أمتي على الحق منصورة لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله سبحانه

“Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang senantiasa ditolong di atas kebenaran. Tidak akan memberikan mudhorot orang-orang yang menelantarkan mereka samapi datangnya ketetapan Allah.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة فقال الصحابة: من هي يا رسول الله؟ قال: من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي

“Kaum yahudi terpecah menjadi 71 golongan, sedangkan kaum nasrani terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku terpecah menjadi 73 golongan. Seluruhnya di neraka kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: ‘siapakah mereka wahai Rasulullah?’  Rasulullah menjawab: “Siapa saja yang berada di atas sesuatu yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”

Hal tersebut merupakan keyakinan yang wajib berpegang teguh dengannya serta istiqomah di atasnya dan berhati-hati dari perkara yang menyelisihinya. Adapun orang-orang yang berpaling dari akidah ini dan berjalan di atas akidah yang bertentangan dengannya sangatlah beragam.

Semoga Allah memberikan manfaat kepada kami dan pembaca sekalian. Mudah-mudahan Allah mengokohkan kami di atas kebenaran dan melindungi kami dari berbagai kejelekan. Amin

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.