Nasehat ukhuwah Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali

 

Oleh Abdullah al-Atsari Jogja 1A Takhasus

 

Ukhuwwah (persaudaraan) salafiyyah merupakan nikmat yang wajib untuk disyukuri. Ukhuwwah salafiyyah adalah prinsip yang harus kita junjung tinggi. Fitnah dan ujian pasti datang silih berganti. Al-Quran dan as-Sunnah merupakan dua cahaya yang selalu menerangi. Cahaya yang terpancar sesuai dengan pemahaman ulama yang mumpuni…

 

Nasihat ulama penuh kasih sayang

Asy-Syaikh Robi’ hafizhahullah adalah sosok ulama di zaman ini. Beliau pernah menyampaikan nasihat kepada salafiyyin di Indonesia melalui saluran telepon pada tanggal 10-07-1426 H. Beliau sangat terkenal dalam menyelesaikan berbagai permasalahan salafiyyin. Hal tersebut menunjukkan kecintaan beliau terhadap mereka. Di antara nasihat berharga dari beliau adalah:

 

Sebagaimana yang tertera dalam kitab beliau al-Lubab,

“Persaudaraan, keserasian, kedamaian, dan kecintaan memiliki dampak yang besar tehadap ketegaran dan kekokohan jiwa dalam menapaki jalan kebenaran, serta tersebarnya dakwah menuju jalan Allah Ta’ala.

Seandainya manusia melihat kalian berperangai dengan sifat ini yang diiringi dengan keikhlasan, niscaya mereka akan memetik manfaat dari kalian dan menerima al-Quran serta as-Sunnah yang telah kalian sampaikan.

Jika kalian mendapati pertikaian atau perselisihan yang diwarnai dengan hawa nafsu dan kedustaan, maka jauhilah! Kembalilah kepada persaudaraan ini, persaudaraan yang dibangun di atas al-Quran dan as-Sunnah. Adapun terhadap orang yang melakukan kesalahan, berilah ia nasihat untuk kembali dari kesalahannya dan bertaubat kepada Allah.” (Daar Mirats Nabawi: 272)

 

Marilah kita pererat tali persaudaraan

Inilah untaian nasehat dari ulama kibar di zaman ini yang beliau sampaikan sekitar lima belas tahun yang lalu, kita buka lembaran nasehat yang telah tersimpan sekian tahun, karena nasehat ini sangat sesuai untuk masa-masa sekarang, ketika tersebar berbagai macam kedustaan untuk memuaskan hawa nafsu para pendusta.

 

Maka dari itu, marilah kita menjauh dari pertikaian semacam ini, bukankah Rasulullah shallallahuu ‘alaih wa sallam telah bersabda,

 

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan pendusta ketika ia menyampaikan seluruh yang ia dengar.” (HR. Muslim)

 

Merapatlah, kita pererat tali persaudaraan dengan memberikan udzur kepada saudara kita yang salah, selama bisa ditolerir dalam syariat. Kemudian menasehatinya dengan hikmah. Agar tercipta ukhuwwah salafiyyah yang penuh dengan rahmah.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.