Selagi Kesempatan Ada, Gunakanlah Sebaik-Baiknya

 

Oleh Mujahid Aceh Takhasus 3A

 

Hari yang telah berlalu terasa begitu berharga. Mengenangnya terkadang menimbulkan penyesalan, namun di satu sisi menyimpan kerinduan. Kehidupan dunia tiada yang kekal. Semuanya pasti akan berakhir. Yang telah berlalu, ambillah pelajarannya. Masa depan, tataplah dengan penuh optimis dan keyakinan. Ya, seorang hamba hanya bisa berusaha, tak lupa diiringi doa dalam perjalanan hidupnya. Tanpa dua hal di atas, mungkin ia akan hancur dan binasa.

Usia selalu naik dan bertambah, tak mungkin berkurang. Waktu terus lewat. Siang berganti malam. Hari berbuah bulan. Ia terus bergulir. Tak pernah berhenti. Perputarannya menggantikan generasi manusia. Yang dulu bayi menjadi pemuda. Yang dulu pemuda tiba tiba telah berusia senja. Begitu cepatnya, benar benar tak berasa. Ia seolah berlalu tanpa pamit atau kembali lagi. Itulah usia manusia.

Duhai hamba yang telah diberi karunia. Duhai hamba yang telah dianugerahi nikmat tak terhingga. Syukurilah..niscaya Allah akan menambahkannya kepada kita. Isilah sisa usia kita dengan ibadah. Penuhilah hidup kita dengan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah). Karena itulah bekal utama kita, dengannya kita akan bahagia di negeri akhirat.

***

Kehidupan yang diisi dengan thalabul ilmi mahal harganya. Ia tak bisa diukur dengan nominal seberapapun banyaknya. Betapa banyak manusia di luaran sana yang tak sempat mengarungi kehidupan sebagaimana kita. Di usia mereka yang sama seperti kita. Di masa muda mereka yang persis seperti kita. Namun apa daya, Allah pasti memilih hamba-Nya. Maka, selagi kesempatan itu ada, gunakankanlah sebaik-baiknya.

Kita tak tahu kapankah kita terhalangi dari mendengar, mencatat, dan mempelajari ilmu. Betapa banyak teman-teman yang dulu seperjuangan dengan kita, sekarang mereka entah kemana rimbanya. Tidak sedikit juga sahabat kita yang dulu sejalan dengan kita, namun sekarang mereka memilih jalan yang berbeda dengan kita, tentu dengan faktor yang berbeda-beda.

Kawan, thalabul ilmi adalah  jalan pintas menuju surga. Seorang yang berilmu derajatnya akan di angkat. Didoakan oleh setiap makhluk sampaipun ikan yang di lautan. Ahlul ilmi bagai pelita di tengah kegelapan atau sinar rembulan di tengah gelapnya malam. Ahlul ilmi adalah orang yang Allah kehendaki kebaikan baginya. Ahlul ilmi dan thalibul ilmi adalah sebaik baik insan dan keutamaan lainnya yang sangat banyak.

Kawan, thalabul ilmi adalah sebuah kata yang telah memenuhi relung hati kaum muda zaman salaf. Thalabul ilmi adalah sebuah ungkapan yang telah memenuhi jejak langkah kaum muda salaf. Ya, mereka begitu bangga meraih ilmu. Seakan tiada rasa bahagia melainkan dengan meraup ilmu. Demi ilmu, keluarga ditinggalkan. Harta benda dikorbankan. Tahta tinggi pun diabaikan. Seakan hidup bahagia itu hanya dengan meraup ilmu.

                أين نحن من هؤلاء؟

“Di mana kita dibandingkan mereka?”

Kawan, kita tidak mengerti kapankah nikmat ini dicabut. Kita tidak paham dengan cara bagaimanakah Allah mencabut nikmat ini dari kita. Apakah dengan kendala biaya, paksaaan orang tua, atau dengan kobaran fitnah yang tak kunjung mereda. Maka, selagi kesempatan itu masih ada, gunakanlah sebaik baiknya.

Perjuangan kita dalam kancah thalabul ilmi itu tak ada bandingannya jika mau dibandingkan dengan kaum salaf. Seberat apapun kondisi kita, jika dibandingkan degan kaum salaf maka itu sedikit dan terbilang kecil. Pengorbanan yang kita curahkan jika ulama salaf melihatnya mungkin mereka akan menertawakannya. Jikalau mereka masih hidup, mungkin mereka akan mengecap kita sebagai munafik.

Maka, selagi ruh masih dikandung badan. Selagi waktu luang terbuka lebar, marilah kita berjuang untuk menjadi insan yang lebih baik. Baik dalam segala kondisinya, walau harus tertatih tatih dan berpeluh keringat. Namun itulah arti dari sebuah perjuangan. Biarlah mereka berkata-kata. Biarlah mereka mengusik jalan kita. Kita tetap terus berjuang. Kita masih ingin memperbaiki diri. Kita masih ingin menjadi insan yang lebih baik lagi.

Kawan, ingatlah selalu bahwa jalan itu berlika-liku. Perjuangan itu pasti banyak hambatan. Onak duri itu mesti bertebaran. Bukit terjal tidak mudah untuk di daki, maka teruslah berjuang dan jangan berhenti. Wallahu alam.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.