Mendulang Kisah, Meniti Jejak Langkah PKL-SPN Selama 9 Periode

Oleh Tim Reportase PKL-SPN 1448

Empat pekan mungkin terasa singkat dalam bentangan waktu satu tahun. Namun, bagi santri kelas 3 Takhasus Ma’had Minhajul Atsar Jember, empat pekan merupakan ajang pembuktian. Ini adalah momen pengabdian di mana sistem peraturan Ma’had  dan tumpukan kitab yang ditelaah berubah menjadi ajang manifestasi.

 Melalui program Praktik Kerja Lapangan Santri Peduli Negeri (PKL-SPN), para santri tidak hanya dituntut terampil secara wawasan, tetapi juga diuji untuk mengaplikasikan ilmu yang telah mereka timba. Di sinilah wujud ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia) benar-benar diperjuangkan. Semua itu bermula dari mengayunkan cangkul dalam kerja bakti; membersihkan lingkungan, hingga menyambung silaturahmi ke rumah-rumah warga. Semuanya dilakukan demi satu tujuan: meringankan beban sesama dan menghadirkan solusi bagi lingkungan sekitar.

 Namun, tahukah Antum bahwa jejak langkah PKL-SPN yang selama ini tercapai merupakan sebuah perjalanan panjang dari keringat para santri?

Menatap Sepuluh Periode Jejak Langkah

Tahun 2026 ini, PKL-SPN kembali dilaksanakan. Tanpa terasa, PKL-SPN tahun ini menggenapkan catatan sejarah program menjadi periode yang ke-10. Angka sepuluh bukan hanya angka di atas kertas, melainkan sebuah momen konsistensi, bukti keteguhan lembaga dalam mendidik santri yang tidak hanya saleh secara individu, tetapi juga muslih (membawa perbaikan) bagi kehidupan sosial. Begitupula bukti tanda kekuasaan Allah yang menggerakkan hati-hati para santri untuk memiliki jiwa kepedulian.

Jika menarik garis waktu ke belakang, catatan pengabdian ini bermula pada tahun 2014. Kala itu, wilayah Kampung Laut di Cilacap, Jawa Tengah, menjadi saksi awal bagaimana langkah SPN dilaksanakan. Santri-santri perintis belajar beradaptasi dengan medan yang asing, menyapa masyarakat pesisir, dan membuktikan bahwa santri bisa melebur di mana saja.

Langkah itu kemudian terus bergulir dan meluas. Pada tahun 2017, wilayah terpencil semakin menantang hingga menyentuh kawasan konservasi Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), mulai dari Bandealit di Jember, hingga Rajegwesi dan Sukamade di Banyuwangi.

Begitu pula tahun 2018, lokasi PKL-SPN bertempat di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII area Jember, mulai dari Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, dan sebuah distrik di Gunung Gumitir. Di sana, para santri berkolaborasi dengan pihak perkebunan dan taman nasional.

Di akhir tahun 2018 hingga awal 2019, ketika bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat, diguncang gempa hebat, SPN mentransformasikan dirinya. Selama 8 bulan penuh, relawan santri diterjunkan langsung ke pusat bencana dalam Program Tim Peduli Bencana. Bukan sekadar membawa bantuan fisik, tetapi dengan izin Allah Ta’ala semata, mereka juga hadir membawa ketenangan jiwa bagi para korban.

Sinergi tersebut berlanjut pada pertengahan 2019. Lokasinya terbagi menjadi 3 wilayah terpencil yang pernah ditapaki oleh angkatan sebelumnya. Pertama, kawasan konservasi Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) mulai dari Bandealit di Jember; kedua, Sukamade di Banyuwangi; kemudian dilanjutkan ke daerah Betumping, Lombok Utara (kawasan terdampak bencana gempa bumi Lombok).

Tak lama setelah misi besar itu usai, dunia dihantam wabah pandemi Covid-19. Aktivitas manusia terhambat, ruang gerak dipersempit, dan program lapangan sempat mengalami jeda demi menjaga keselamatan bersama, yang semua ini bukti keagungan dan kebesaran Allah ﷻ. Namun, alhamdulillah, seiring meredanya badai pandemi, jejak langkah SPN tidak lantas mati.

Dimulai dari tahun 2022 hingga 2025 kemarin, SPN bangkit dengan energi baru yang lebih terfokus. Wilayah Jember, Bondowoso, hingga Situbondo menjadi lapangan hidup yang baru. Melalui sinergi erat bersama PTPN XII, PTPN I Regional 5, dan PT PP Jember Indonesia, santri menerobos batas baru. Mereka belajar berkebun langsung bersama para karyawan dari hulu hingga hilir di Perkebunan Kayu Mas, Pancur Angkrek, hingga Zeelandia Tanggul.

Bukan hanya sektor perkebunan, kehadiran Tim Medis Ma’had pun senantiasa menyertai di setiap periode. Melalui bakti sosial kesehatan—mulai dari pengobatan gratis, khitanan massal, skrining katarak, hingga pemeriksaan balita—SPN selalu berhasil meninggalkan kesan mendalam di hati warga. Bukan karena kekuatan, kemahiran, dan kemampuan yang dimiliki santri, namun semua capaian prestasi itu semata-mata karena taufik dan pertolongan Allah Yang Mahakuasa.

 

Landasan Pemikiran: Menautkan Dalil, Merajut Sinergi Alumni

Kini, di periode ke-10 pada tahun 1448 H (2026 M), estafet itu telah berada di tangan generasi yang baru. Namun, tulisan ini sejatinya dibuat untuk mengetuk kembali pintu hati Antum: para alumni PKL-SPN dari periode pertama hingga kesembilan.

Mengapa khidmat ini harus terus dijaga? Mengapa sinergi antara alumni dan santri hari ini tidak boleh terputus? Karena peduli terhadap sesama adalah ajaran Islam yang sangat ditekankan dari generasi ke generasi. Inilah yang sejak awal menjadi fondasi kokoh dari program PKL-SPN, yaitu dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ

“Saling tolong-menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa.” (QS. al-Maidah: 2)

Ke mana pun angin takdir membawa Antum hari ini, apakah sedang melanjutkan studi, berdakwah di penjuru nusantara, atau berkiprah di berbagai sektor masyarakat, Antum adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya seperti satu bangunan yang kuat, yang saling menguatkan sesama mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Keringat yang Antum kucurkan di Kampung Laut, memori kebersamaan di tengah lebatnya Meru Betiri, duka dan tawa saat memulihkan Lombok, hingga dinginnya malam di perkebunan, adalah poin utama kokohnya PKL-SPN hari ini.

Ilmu berkebun, ilmu sosial, dan jalinan ukhuwah yang pernah Antum bawa pulang ke kampung halaman masing-masing. Biidznillah. program ini bisa bertahan hingga sepuluh periode.

Melalui momentum periode ke-10 ini, mari kita rekatkan kembali simpul sinergi itu. Doa, bimbingan, dan teladan dari para alumni sekalian merupakan salah satu pendorong bagi adik-adik santri yang saat ini sedang berjuang di lapangan. Perjalanan sepuluh periode ini adalah milik kita bersama. Di atas landasan ketakwaan yang sama, mari jaga agar nyala api pengabdian ini tidak akan pernah padam. Dengan memohon pertolongan-Nya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses