Babak Penyaringan MIK Marhalah ‘Ulya

Jember, 27 Jumadal Akhirah 1447 H / 19 Desember 2025 M

Malam itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Sejak awal, suasana di sekitar Ma’had 2 sudah menunjukkan tanda-tanda yang tidak biasa. Para santri berdatangan lebih awal, aktivitas tampak lebih padat, dan semangat yang terpancar seolah menandai bahwa ada sesuatu yang istimewa tengah berlangsung. Malam Jum’at ini bukan sekadar rutinitas, melainkan awal dari sebuah ajang yang dinanti.

Pada malam inilah kegiatan Musabaqah Istima’ Kalamil Ulama (MIK) resmi dimulai. Perlombaan ini diperuntukkan bagi santri Marhalah ‘Ulya, khususnya para thullab Takhasus dan Takmili, sebagai bentuk penyaringan menuju babak selanjutnya. Kegiatan ini digelar di Jember, dengan tujuan menguji sekaligus mengasah kemampuan santri dalam mendengar dan memahami penjelasan para ulama.

Setelah acara dibuka oleh MC, perlombaan pun langsung dimulai. Babak penyaringan dilaksanakan melalui beberapa sesi yang dirancang secara sistematis dan menantang.

Pada sesi pertama, peserta dihadapkan dengan soal rebutan. Soal-soal dibacakan langsung oleh MC, lalu siapa pun yang mampu menjawab dipersilakan berdiri. Materi yang diujikan meliputi nahwu, shorof, dan fiqih, menuntut kecepatan berpikir sekaligus ketepatan pemahaman.

Memasuki sesi kedua, suasana semakin menegangkan. Masih dengan konsep soal rebutan, namun kali ini sumber soal diambil dari audio Syaikh Arafat yang diputar selama kurang lebih dua menit. Audio tersebut diperdengarkan sebanyak dua kali agar peserta dapat menyimak dengan saksama. Setelah itu, seorang host membacakan pertanyaan yang diambil langsung dari isi audio tersebut.

Antusiasme para santri tampak begitu luar biasa. Mereka berlomba-lomba untuk menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh panitia. Bahkan, semangat itu sampai membuat salah seorang santri meloncat demi mendapatkan kesempatan menjawab. Pemandangan ini menjadi bukti betapa besar gairah mereka terhadap ilmu.

Hingga akhir babak penyaringan, dari seluruh peserta yang mengikuti perlombaan, 56 orang santri berhasil melaju ke babak berikutnya. Sebuah pencapaian yang lahir dari kesungguhan, fokus, dan kesabaran dalam menyimak.

Namun, MIK bukan sekadar ajang perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana penting untuk melatih kemampuan istima’, menguatkan konsentrasi, serta membiasakan santri untuk benar-benar hadir dalam setiap dars yang disampaikan oleh para ulama dan masyaikh. Di sinilah santri diajak untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga mencintai ilmu dengan sepenuh hati.

Malam itu pun menjadi saksi bahwa semangat belajar, jika dipadukan dengan kompetisi yang mendidik, mampu melahirkan generasi penuntut ilmu yang tangguh, fokus, dan beradab.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses