Keutamaan Ilmu Menurut Perspektif Qur’an dan Hadis

 

Oleh Luqman bin Hamzah, Takhasus

 

Tak diragukan lagi, ilmu memiliki kedudukan yang agung di tengah-tengah kaum muslimin. Pembawa ilmu, yaitu para ulama tentu menjadi orang-orang mulia dan tinggi di sisi mereka. Ayat-ayat al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, teramat banyak yang menyebutkan keutamaan ilmu dan orang berilmu.

Di sini kami akan menyebutkan beberapa ayat dan hadis tersebut. Di antara hadis-hadis yang kami sebutkan, ada yang sahih sehingga dapat menjadi landasan, ada pula yang lemah namun tidak mengapa disebutkan, harapannya bisa menjadi pelejit semangat kita untuk mendalami ilmu agama.

 

Keutamaan Ilmu dari Sudut Pandang al-Qur’an

Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata (yang artinya), “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian, dan mengangkat orang-orang yang berilmu beberapa derajat di atasnya.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Para ulama derajatnya berada di atas kaum mukminin dengan selisih 700 derajat. Dan jarak antar derajat adalah perjalanan 100 tahun.”

 

Allah Taala juga mengatakan (yang artinya):

“Allah mempersaksikan bahwasannya tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, begitu pula para malaikat dan para ulama (turut mempersaksikannya) yang selalu menegakkan keadilan.” (QS. Ali Imran: 18)

Pada ayat ini, Allah memulai dengan penyebutan diri-Nya, lalu para malaikat-Nya, kemudian para ulama. Maka cukuplah hal tersebut (disandingkan bersama Allah dan para malaikat-Nya) sebagai keutamaan dan kemuliaan bagi para ulama.

 

Masih perkataan Allah lainnya yang menunjukkan keutamaan ilmu, di antaranya:

“Apakah sama antara orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu?” (QS. Az-Zumar: 9)

“Maka bertanyalah kepada para ulama apabila kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

“Bahkan itu adalah ayat-ayat yang jelas, yang terpatri pada dada orang-orang berilmu.” (QS. Al-Ankabut: 49)

“Hamba yang takut kepada Allah hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

“Mereka adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8)

 

Dari dua ayat terakhir dapat disimpulkan bahwa para ulama adalah sebaik-baik makhluk. Karena ayat al-Bayyinah menjelaskan balasan bagi sebaik-baik makhluk, yaitu yang takut kepada Rabbnya. Sementara sebagaimana dalam ayat surat Fathir, bahwa yang takut kepada Rabb-Nya hanyalah para ulama. Berarti para ulama adalah sebaik-baik makhluk.

 

Keutamaan Ilmu dari Sudut Pandang Hadis

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan untuknya, niscaya Allah akan pahamkan dia tentang urusan agama.” (Muttafaqun Alaihi)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Para ulama adalah pewaris para Nabi.”

Cukuplah hal ini sebagai kemuliaan, kebanggaan dan pujian. Sebagaimana tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari kenabian, maka tidak ada pula kemuliaan yang melebihi kemuliaan para pewarisnya.

 

Ahli Ibadah vs Ulama

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda tatkala disebutkan di sisi beliau tentang 2 orang, salah satunya ahli ibadah dan yang lainnya orang berilmu, kata beliau: Keutamaan orang yang berilmu di atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku di atas orang yang paling rendah kedudukannya di antara kalian.” (Hadisnya disahihkan oleh Syaikh al-Albani).

 

Hadis Lain Tentang Keutamaan Ilmu

Dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga, beliau bersabda: “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dala rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju al-jannah. Dan sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakkan sayap-sayapnya karena rida terhadap para penuntut ilmu.

Semua yang ada di langit dan di bumi, sampai pun ikan di laut benar-benar akan memintakan ampun untuk seseorang yang berilmu. Keutamaan seorang alim di atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan dibandingkan seluruh bintang.

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, ia telah mendapatkan bagian yang besar.” (Dihasankan oleh Syaikh al-Albani).

 

Ketahuilah bahwasannya tidak ada kedudukan yang lebih tinggi daripada seseorang yang para malaikat dan makhluk lainnya sibuk memintakan ampun baginya. Karena, doa orang saleh atau yang terlihat baik saja diperebutkan, lalu bagaimana dengan doa para malaikat?!

Para ulama berselisih pendapat tentang maksud ‘Meletakkan sayapnya pada hadits di atas. Sebagian mengatakan, maksudnya bersikap tawadhu’ kepadanya. Ada juga yang mengatakan: Turun dan hadir di sisinya. Yang lain mengatakan: Menghormati serta memuliakannya. Ada lagi yang mengatakan: Membawanya di atas sayap-sayap itu lalu membantunya untuk mencapai tujuannya.

 

Adapun hewan-hewan yang mendapat ilham untuk memintakan ampun bagi orang berilmu, katanya itu karena mereka diciptakan untuk memberi manfaat dan maslahat bagi manusia. Sementara para ulama lah yang menjelaskan hewan mana yang halal dan mana yang haram, mereka jugalah yang mewasiatkan untuk berbuat baik kepada hewan dan tidak mencelakainya.

 

Keutamaan Lainnya

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Pada hari kiamat, tinta para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada’.” (Namun Syaikh al-Albani mengatakan: hadis ini palsu).

Sebagian ulama mengatakan: Demikianlah, keduanya disetarakan padahal darah adalah hal yang paling berharga bagi seorang yang syahid, sementara tinta adalah benda terendah milik seorang yang berilmu.

Menunjukkan bahwa ilmu merupakan hal yang paling mulia. Karena hal paling rendah milik seorang yang berilmu ilmu yaitu tinta disamakan dengan hal paling berharga bagi seorang yang syahid di jalan Allah, yaitu darah.

 

Ilmu, Ibadah yang Paling Mulia

Juga dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada ibadah kepada Allah yang lebih utama dari mendalami agamai. Dan satu saja orang yang mengerti agama, itu lebih berat menghadapinya bagi setan ketimbang menghadapi seribu ahli ibadah.” (Syaikh al-Albani mengatakan: hadis ini palsu).

Masih dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: Ilmu ini akan dipikul oleh orang-orang adil (yaitu para ulama) dari setiap generasinya. Mereka akan membantah penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, menyingkap pemalsuan ahlul bathil, dan ta’wil orang-orang bodoh.” (Disahihkan oleh Syaikh al-Albani).

 

Dalam sebuah hadis: “Pada hari kiamat, ada tiga golongan orang yang akan memberi syafaat, yaitu para nabi, kemudian para ulama dan setelahnya adalah para syuhada’.” (Syaikh al-Albani mengatakan: hadisnya palsu).

Ada pula riwayat dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Pada hari kiamat, para ulama akan menempati mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya.” (Dalam Sahih Muslim ada hadis yang senada dengan ini).

 

Dialih bahasakan dari kitab Tadzkiratu as-Sami’ wa al-Mutakallim karya Ibnul Jama’ah rahimahullah.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.