Bagaimana Posisi Sujud Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

 

Oleh Hafizh Perawang dan Haunan Sidoarjo, Takhasus

 

Kita semua tentu sudah mengenal dan mengetahui dengan sangat yakin bahwa salat merupakan ibadah yang hukumnya wajib. Bahkan dalam rukun Islam, ia menempati posisi kedua setelah syahadatain.

Salat memiliki nilai dan kedudukan yang sangat tinggi di hati kaum muslimin. Dari Ibrahim bin Syammas, beliau berkata: Aku pernah mendengar Waki’ rahimahullah mengatakan: “Barangsiapa tidak bersiap-siap melaksanakan salat sejak sebelum masuk waktunya, maka dia belumlah teranggap sebagai orang yang memuliakan salat.”

“Barangsiapa meremehkan takbir pertama, berlepas dirilah darinya.”   (al-Hilyah 8/370).

Jelas, keagungan salatlah yang melatar belakangi ucapan beliau tersebut.

 

Mungkin kita semua pernah mendengar, membaca, atau bahkan menghafal hadits berikut ini. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari sahabat Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

 “Bisa saja seorang hamba melakukan salat, namun pahala yang ia dapatkan ternyata hanyalah sepersepuluhnya saja. (Hamba yang lainnya lagi) memperoleh sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengah dari keutuhan pahala salatnya.”   (Shahih Abu Dawud no.796).

 

Tentu saja penyebab terhapus atau berkurangnya pahala salat bermacam-macam. Salah satunya adalah ketidak sesuaian tata cara salat kita dengan cara yang telah dituntunkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal beliau mengatakan,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Salatlah sebagaimana kalian melihat salatku.”  [HR. al-Bukhari]

 

Posisi Saat Sujud

Di antara yang telah Nabi contohkan kepada kita, adalah posisi saat sujud. Bagaimanakah posisi sujud yang beliau contohkan?

  1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat kedua tangannya ketika takbir hendak sujud. [HR. an-Nasa’i 1/165, disahihkan oleh al-Albani].
  2. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam merapatkan jari jemari tangan, sekaligus menghadapkannya ke arah kiblat (ketika sedang sujud). [HR.al-Baihaqi 1/324 dan al-Hakim 1/227, dihasankan oleh al-Albani].
  3. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan keduanya sejajar dengan pundak, terkadang sejajar dengan kedua telinga. [ Abu Dawud 1/117, disahihkan oleh al-Albani].
  4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menempelkan lengannya ke lantai saat sujud, tetapi beliau mengangkat dan menjauhkannya dari bagina samping tubuhnya. [HR. Bukhari 2/245].
  5. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapkan ujung jemari kakinya ke arah kiblat. [HR. al-Hakim, al-Albani mengatakan sahih berdasarkan syarat muslim].
  6. Di samping itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam merapatkan kedua tumitnya. [HR. al-Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan ath-Thahawiy, disahihkan oleh al-Albani].
  7. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menekuk jari jemari kaki ke bagian dalam (saat sujud). [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah, disahihkan oleh al-Albani].

 

Faedah

Berkaitan dengan tata cara turun menuju sujud, hanya ada dua cara yang dinukil oleh salaf; Tangan turun terlebih dahulu sebelum lutut, atau sebaliknya.

Terlepas dari polemik yang terjadi di tengah mereka tentang hal tersebut, jelasnya tidak ada cara ketiga.

“Namun sebagian ikhwah ada yang menggabungkan dua cara tersebut. Mereka turun menuju posisi sujud sambil meletakkan tangannya di lantai, lalu mengangkatnya kembali dan memindahnya agak ke depan.

Tata cara ini sama sekali tidak pernah dikenal oleh salaf terdahulu. Menggabungkan dua hal tadi jelas menyelisihi nash (dalil), sedangkan keluar dari petunjuk salaf merupakan sebuah kekeliruan.” [Syarhul Mumti’ 2/94 Ibnu Utsaimin].

 

Penutup

Semoga Allah membantu kita agar selalu ikhlas saat melakukan amal ketaatan, dan memberi kita hidayah sehingga bisa beribadah sesuai tata cara yang ia cintai dan ridai, amin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Qurbani Minhajul Atsar