Apakah Para Nabi Bisa Salah?

 

Terjemah fatwa oleh Muhammad Hafizh Batam, Takmili

 

Pertanyaan

Sebagian orang (semisal kelompok-kelompok sesat) menganggap bahwa para Nabi dan Rasul juga terjatuh pada kesalahan layaknya manusia bisa. Buktinya:

  • Bahwa dosa pertama yang terjadi pada Qabil si anak Adam adalah ketika ia membunuh Habil.
  • Nabi Dawud ketika didatangi dua malaikat yang mengadu kepadanya, beliau hanya mendengarkan laporan sepihak dan langsung berfatwa.
  • Nabi Yunus dan kisah tatkala ikan paus menelannya.
  • Demikan juga kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Zaid bin Haritsah, ketika beliau menyembunyikan perasaan yang seharusnya beliau ungkapkan dan beliau tampakkan.
  • Begitu pula kisah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya, ketika beliau bersabda, “Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.” Mereka menganggap bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam salah dalam kisah ini (akhirnya beliau mengatakan sabda di atas).
  • Dan yang terakhir, kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama seorang tuna netra, yang Allah kisahkan dalam ayat-Nya:

عَبَسَ وَتَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى

Dia bermuka masam dan berpaling tatkala datang kepadanya seorang yang buta.” (QS. ‘Abasa: 1-2)

Pertanyaannya: Apakah memang para Nabi dan Rasul itu benar-benar bisa salah? Dan bagaimana caranya membantah orang-orang sesat pendosa ini?

 

Jawaban

Memang benar, terkadang para Nabi dan Rasul jatuh pada kesalahan. Akan tetapi Allah tidak membiarkan kesalahan mereka, justru Allah menjelaskan kesalahan tersebut sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada mereka dan kepada umat-umat mereka. Allah memaafkan ketergelinciran mereka serta menerima taubat mereka sebagai bentuk keutamaan dan kasih sayang dari-Nya. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sebenarnya hal ini tampak jelas bagi orang yang benar-benar mendalami ayat-ayat al-Qur’an tentang kisah-kisah yang tertera dalam pertanyaan.

 

Allah Taala tidak mengingkari Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau mengabarkan kepada umatnya bahwa pada sayap lalat terdapat obat dan penyakit. Justru Allah membiarkannya. Ini berati bahwa fakta itu benar.

Adapun kedua anak Nabi Adam, maka di samping bahwa keduanya bukanlah Nabi, juga tatkala salah satu mereka membunuh saudaranya secara zalim dan karena permusuhan, Allah Taala menjelaskan perbuatan jelek terhadap saudaranya itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata tentang meraka:

مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ ظُلْمًا، إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، ذَلِكَ بِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ.

Tidak ada seorang jiwa yang terbunuh secara zalim, kecuali anak Adam yang pertama menanggung dosa dari pembunuhan tersebut karena dia lah yang pertama kali melakukan pembunuhan.” (HR. Bukhari no. 3336 dan Muslim no. 1677)

Wabillahit taufiq, wa shalllallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

 

Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyyati wal Ifta’, pertanyaan ke-10 dari fatwa no. 6290

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.