Berjuang di jalan dakwah yang panjang

 

Oleh Iqbal Aceh Takhasus 2B

 

Betapa pentingnya bagi kita semua untuk melihat realita yang terjadi di medan dakwah. Agar hal itu menjadi koreksi bagi kita semua setiap pembahasan dan kajian ilmiah. Tidak hanya sebatas dibaca lalu dilalaikan, karena kondisi yang terjadi menuntut masing-masing dari kita untuk melakukan instropeksi.

Dia menilai sejauh mana dirinya tersentuh oleh beberapa nasehat. Karena kalau sebatas dibahas dan didengar begitu saja tanpa ada upaya masing-masing pribadi untuk menjadikan nasehat ini bagi dirinya sendiri, maka nasehat ini akan pergi tanpa bekas di hati serta tidak nampak pada amalan kita.

Melekatnya faedah ilmiyah dari al-Quran dan sunnah Rasul menunjukkan besarnya keimanan seorang hamba, semakin cepat maklumat/faidah ilmiah tersebut hilang tidak lain menunjukkan bahwa iman melemah.

Salah satu kendala dakwah

Kendala yang bersifat internal adalah kurangnya semangat masing-masing pribadi ahlus sunnah untuk memiliki kiprah/andil pada medan dakwah. Ini merupakan salah satu kendala yang ada di tengah-tengah kita. Ketika kebanyakan dari ahlus sunnah tidak memiliki semangat berdakwah, maka roda dakwah berjalan dengan lambat sehingga dengan itu banyak al-haq dan ilmu terkait dengan tauhid tidak tersampaikan ke kaum muslimin.

Dua sebab kurangnya semangat di dalam kiprah dakwah:

  • Kurangnya wawasan tentang bahaya kebatilan yang berada di tengah-tengah masyarakat.

Baik bahaya dari pribadi muslim atau masyarakat umum, baik di dunia atau di akhirat. Betapa banyak akidah kaum muslimin secara umum rusak gara-gara pemahaman liberal, sehingga tercipta moral masyarakat jauh dari bimbingan akidah yang benar dari Rasul shallallahu ’alahi wa sallam.

Berbeda tatkala di hadapkan kepada kita kendala-kendala yang bisa menghalangi kepentingan bisnis, maka dia bangkit walaupun mengorbankan agama, akhlak, dan manhajnya. Sementara ahlul batil terus melakukan regenerasi untuk melanjutkan tongkat estafet penyeberan kebatilan dengan berbagai bentuknya. Ini merupakan problem yang sangat besar.

 

  • Banyak dari ahlus sunnah tidak mengerti manfaat dakwah untuk dirinya sendiri, Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ

“Siapa yang lebih baik ucapannya dibandingkan orang-orang yang berdakwah kepada Allah.” (QS. Fusilat: 33)

Ayat di atas merupakan salah satu ayat yang paling besar manfaat dan maknanya, ayat ini jika kita membacanya dengan penuh keimanan dan takwa niscaya akan muncul tekad untuk berdakwah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ

”Barangsiapa yang menyeru seorang hamba kepada hidayah maka dia akan mendapatkan pahala dan pahala orang-orang yang menerima nasehatnya.” (HR. Muslim no. 2674)

Jika seorang menasehati muslim lainnya yang terjatuh dalam kesyirikan berupa menggantung jimat, berdo’a kepada kuburan, dan lainnya, kemudian dia mengikuti nasehat tersebut maka dia akan menerima ganjaran amalannya  dan terus mengalir tidak mengurangi amalannya sedikit pun.

Hadits ini cukup untuk membuat semangat berdakwah bagi ahlus sunnah. Hendaknya kita memiliki target yang besar dalam urusan akhirat, agama, dan iman kita. Dakwah merupakan salah satu amalan besar, sehingga sangat pantas bagi kita untuk memiliki perhatian yang besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ.

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, para penduduk langit dan bumi sampai semut yang berada di dalam lubangnya bershalawat kepada orang-orang yang mengajarkan kepada manusia kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi 4/347)

Shalawat dari Allah maknanya ialah pujian Allah kepada hamba di hadapan para penduduk langit. Betapa besarnya kedudukan ini, tidakkah kita ingin menjadi seorang yang mengajar kebaikan kepada manusia?

Atau hanya sekedar sebuah target menjadi orang yang berhasil dalam berbagai urusan dunia, apakah sebatas itu? Maka kita tentu termasuk orang yang merugi.

Makna shalawat dari malaikat ialah do’a mereka terhadap manusia yang mengajarkan kebaikan kepada manusia yang lain, dengan do’a: “Ya Allah ampunilah dia, rahmatilah dia.” Kita semua sangat butuh kepada ampunan dan rahmat Allah.

Nasehat ini lebih tepat untuk ahlus sunnah yang tekun dalam thalabul ilmi, karena orang-orang yang sibuk dengan kemaksiatan sangat jauh dari yang dikabarkan pada hadits di atas. Semoga yang membaca nasehat ini akan menjadi bangkit semangatnya. Menjadi orang-orang yang bermanfaat untuk kaum muslimin. Amin

 

Sumber: Audio Ustadz Luqman Ba’abduh dengan tema “Problematika Dakwah.”

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.