Empat Bulan Nan Penuh Kemuliaan

 

Oleh Reyhan Azmen Takhasus

 

Dengan segala hikmah-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan sebagian waktu atas sebagian yang lainnya, sebagaimana Allah melebihkan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain.

Di antara waktu yang dimuliakan dalam Islam adalah bulan-bulan haram. Bulan haram jumlahnya ada 4 yaitu; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah sejak penciptaan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan haram. Itulah ketetapan Allah yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri sendri pada bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36)

 

Sebab Penamaan dengan Bulan Haram

Bulan haram adalah bulan mulia dan agung dalam syari’at Islam. Dinamakan sebagai bulan haram karena kemuliaan dan kehormatannya, pada bulan itulah pahala amal saleh dilipat gandakan, berbeda dengan bulan yang lainnya.

Adapun dosa yang dilakukan pada bulan itu, tetap dihitung satu dosa namun dosanya semakin besar. Oleh sebab itu, pada ayat di atas Allah melarang kezaliman secara khusus pada bulan haram, padahal kezaliman diharamkan sepanjang tahun, kapan pun dan di mana pun berada.

Ulama pun menjelaskan bahwa pada bulan haram dosa dan kezaliman dilipat gandakan, bahkan menurut sebagian ulama, diyah (denda) yang dibiarkan juga diperberat tidak sebagaimana pada bulan yang lainnya, inilah pendapat yang dipilih ulama’ Syafi’i dan ulama lainnya.

 

Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa keempat bulan tersebut dinamakan dengan bulan haram karena kehormatannya yang melebihi bulan-bulan selainnya. Di samping itu karena diharamkannya peperangan padanya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ

Mereka bertanya kepadamu tentang hukum berperang pada bulan haram, katakanlah, ‘Bahwa berperang pada bulan itu merupakan dosa besar.” (QS. Al-Baqoroh: 217)

 

Asal Muasal Nama Bulan Haram

Penamaan bulan haram itu sendiri erat hubungannya dengan berbagai amalan yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut.

  • Dzulqa’dah, secara bahasa “Qa’dah” diambil dari kata “qo’ada” yang artinya duduk. Disebut “qa’dah” karena pada bulan ini masyarakat Arab tidak melakukan peperangan atau safar. Bulan Dzulqa’dah adalah bulan keamanan bagi Bangsa Arab Jahiliah. Sehingga mereka melakukan perniagaan pada bulan ini lalu setelahnya melaksanakan ibadah haji.
  • Namun Dzulhijjah juga berkaitan erat dengan ibadah haji, karena manasik haji di lakukan pada bulan ini.
  • Kemudian nama Muharram disebabkan karena dahulu bangsa Arab sebelum datangnya Islam, mengharamkan peperangan pada bulan ini.
  • Demikian pula Rajab, yang artinya, ‘sesuatu yang diagungkan dan dihormati’, sehingga bangsa Arab pun pantang melakukan peperangan pada bulan tersebut.

 

Wujud Pemuliaan Terhadap Bulan Haram.

Jikalau orang-orang jahiliah menghormati dan memuliakan bulan haram, maka tentu kaum muslimin lebih berhak melakukannya, karena Islam telah memerintahkan supaya bulan-bulan haram dimuliakan.

Setiap kali bertambah tinggi tingkat ketakwaan kepada Allah, maka akan semakin kuat pula pengagungannya terhadap syi’ar-syi’ar Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu muncul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 30)

 

Sedangkan bulan haram adalah bagian dari syi’ar Islam yang wajib dihormati dan dimuliakan. Maka di antara wujud pemuliaan terhadap bulan haram adalah menjauhi segala bentuk kezaliman. Dan juga bersungguh-sungguh melakukan amal ketaatan.

Barangkali dengannya seseorang bisa meraih pahala amal saleh, yang pahalanya seperti melakukan dalam kurun waktu bertahun-tahun atau bahkan berabad-abad dengan melakukannya hanya dalam satu bulan.

 

Keistimewaan Bulan Dzulhijjah

Terlebih amal saleh pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah yang keistimewaannya sangat luar biasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Tidaklah ada suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah daripada amalan pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Para sahabat bertanya, ‘Tidak pula jihad di jalan Allah wahai Rasulullah?

Beliau menjawab, ‘Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk berjihad kemudian mengorbankan jiwa dan hartanya lalu dia tidak kembali dengan membawa sesuatu.” (HR. Al-Bukhari).

 

Penutup

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada para hamba-Nya waktu yang dapat melipat gandakan pahala sebuah amalan. Inilah salah satu rasa kasih sayang Rabbul ‘Alamin kepada para hamba-Nya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal shalih kita semuanya, baik yang kita lakukan pada bulan haram atau di luar dari bulan haram, amiin.

Semoga bermanfaat.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.