Hari Jumat, hari santri melepas penat

 

Oleh Abul Husain Faruq Gresik Takhasus

 

Hari berganti hari, tak terasa telah sampai pada hari jum’at. Hari yang merupakan hari raya bagi kaum muslimin. Hari dilaksanakannya ibadah shalat jum’at, hari yang di mana Nabi Adam ‘alaihis salam diciptakan, begitu pula diciptakannya surga.

Bersama seabrek keutamaannya, hari ini adalah hari yang sangat ditungu-tunggu oleh para santri. Hari di mana mereka bisa telfon orang tua, berolahraga, mengucurkan semua rasa penat bersama keringat-keringat mereka. Hari jum’at, hari yang penuh warna dan rasa.

 

Muhadharah santri di pagi hari

Udara pagi terasa begitu segarnya, punggung-punggung terlihat berjajar rapih menghadap ke satu arah. Nampak di depan shaf, dua santri meletakkan meja dan kursi ta’lim. Mempersiapkan muhadharah santri takhossus setiap ba’da shubuh di hari jum’at. Mereka memanfaatkan Jum’at pagi yang kosong untuk melatih diri berceramah di hadapan khayalak ramai. Demikianlah agar waktu terjaga, juga berfaedah untuk mereka di hari nanti.

Muhadharah rutin setiap jum’at ini tak hanya menggunakan bahasa Indonesia, para santri juga dilatih untuk berceramah dengan bahasa arab. Dalam sekali pertemuan, terkadang diisi oleh dua atau tiga santri. Durasi waktu setiap pembicaranya sekitar 7 sampai 15 menit. Meski program takhossus, namun thullab tahfidz juga turut hadir mendengarkan muhadharah yang disampaikan.

 

Setelah berjalan beberapa waktu. Tak terasa jam menunjukkan angka 05.35. Tibalah saatnya sang muhadhir (pemberi ceramah) yang terakhir menutup ceramahnya dengan shalawat sembari mengucapkan salam serta beranjak dari kursi panas tersebut, para hadhirin (yang mengikuti ceramah tersebut) pun mulai beranjak meninggalkan tempat duduknya untuk melanjutkan kegiatan masing-masing.

Begitulah kehidupan para santri, walau hari libur, mereka tetap meyempatkan untuk memberi faedah satu sama lain. Memberikan wejangan kepada saudaranya, itulah tholibul ‘ilmi (pencari ilmu) sejati.  Di manapun dan kapanpun, semuanya diisi dengan ilmu.

 

Penyejuk mata di sudut sana

Namun setiap sudut masjid tampak beda. Setelah muhadharah usai, nampak beberapa orang malah mencari tempat duduk yang mereka cari. Entahlah, kenapa mereka lebih suka duduk di tempat yang bisa dijadikan sandaran. Masing-masing mereka sibuk membaca al-Qur’an. Ya, mereka menggunakan waktu kosong tersebut dengan amalan kebajikan. Semoga Allah Ta’ala  memberikan keistiqomahan kepada mereka.

 

Santri tahfidz mulai turun ke lapangan

Sejenak setelah muhadharah usai, para santri tahfidz telah memenuhi lapangan yang terletak di depan masjid. Mereka membawa segala macam alat permainan. Mulai dari raket bulu tangkis, bad ping-pong, bola kaki, sepatu bola dan lainnya.

Ada permainan  yang sedang ngetren dikalangan santri, yaitu badminton. Hampir di semua tempat dimanfaatkan untuk bermain bulu tangkis. Mulai dari lapangan depan masjid, taman pondok dan semua tempat yang memungkinkan untuk digunakan badminton, mereka gunakan untuknya.

 

Tak ketinggalan depan kamar takhossus juga dipakai buat bermain badminton. Padahal banyak pohon, banyak orang yang lalu lalang, tetap saja mereka gunakan. Walaupun koknya sering nyangkut di pohon atau di atap bangunan, mereka tak bosan-bosan mengambil kok yang nyangkut.

Ya, mereka lakukan dengan riang gembira dan tak mau mengabaikan hari libur yang ada. Oleh karena itu, mereka manfaatkan sebaik-baiknya. Memaksimalkan olahraga agar sehat jiwa raga mereka. Semoga Allah Ta’ala memberi ganjaran terhadap semua kegiatan yang ada.

 

Keseruan baru dimulai

Jarum jam menunjukkan angka 07.30 WIB. Pada jam sebelumnya lapangan utama khusus untuk santri tahfidz. Namun sekarang ‘ami-ami’ Takhossus boleh bermain di lapangan. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh santri Tahfidz karena mereka ingin tanding sama ‘ami-ami’ Takhossus.

Permainan berjalan sesuai rotasi yang disepakati. Durasi permainan selama bertanding hanya diberi  waktu 7 menit. Kalau waktu sudah menunjukkan selesai dan masih seri antara kedua belah tim, maka finalti sebagai penentu siapa yang menang. Namun kalau ada tim yang mampu membobol gawang lawan sampai 2 gol, maka tim yang kalah dianggap gugur, walaupun masih baru bermain 2 menit.

 

Kejadian yang unik

Di antara kajadian yang sangat unik ialah saat santri judud tanding lawan ami takhossus, biasanya yang menang ami takhossus. Namun kali ini ami-ami takhossusnya kalah dengan kekalahan yang sangat memalukan, kipernya di buat mati kutu tidak bergerak hingga bola membobol gawang ami takhossus. Para penonton dari santri takhossus pun ngeledek kelompok tersebut, akhirnya kelompok berikutnya bertanding lawan mereka yang sejatinya penonton yang barusan mengeledek santri takhassus yang kalah. Baru sesaat main ternyata amai-ami takhossusnya kebobolan lagi dengan kebobolan yang unik, para penontonpun ketawa terheran-heran.

 

Santri yang paling beda

Di antara kelebihan santri ialah saat mereka olahraga terkhusus bola, mereka menjunjung tinggi sportifitas, jarang sekali para santri itu saling bermusuhan atau berantem hanya karena bola. Bahkan yang ada mereka sangat menjunjung tinggi ukhuwwah islamiyyah imaniyyah, berbeda di luaran sana banyak tawuran, bahkan pembunuhan terjadi disebabkan karena si bundar yang selalu diperebutkan.

 

Bel berbunyi

Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 WIB, tak lama kemudian dari kejauhan terdengar suara bel berbunyi tertanda telah selesai permainan bagi thullab tahfidz. Satu persatu mereka mulai meninggalkan lapangan, bergegas mandi dan persiapan untuk menghadiri shalat jum’at. Namun beberapa santri tahfidz piket membersihkan masijid, dari merapikan masjid, menyapunya, dan mengepelnya.

MasyaAllah betapa kagumnya, mereka setelah olahraga langsung semangat ta’awun untuk membersihkan masjid dalam keadaan umur mereka yang relatif masih muda belia. Namun mereka mudah diarahkan dalam bertaawun. Itulah santri, mereka sigap dan siap dalam bertaawun dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun.

 

Persiapan menghadiri shalat Jum’at

Matahari mulai meninggi dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla, nampak beberapa santri mulai membawa baju dan handuknya untuk persiapan mandi. Ada juga yang menyetrika baju dan tidur dalam rangka persiapan menghadiri shalat jum’at berjama’ah di masjid.

Sesekali nampak dari depan kami, para santri yang memakai baju putih, peci putih, lengkap dengan al-Quran yang dibawa berjalan menyusuri jalan menuju masjid -semoga Allah memberi keistiqomahan kepada mereka-.

 

Suara gemuruh di masjid

Terdengar saat berjalan menuju masjid suara gemuruh mulai terdengar dari masjid, saat melangkahkan kaki ke masjid ternyata jama’ah telah ramai di masjid. Mayoritas mereka sedang membaca al-Quran, membaca surat yang disunnahkan ketika hari jumat, surat al-Kahfi.

Tak lama khatib datang, adzan pun dikumandangkan. Semua jama’ah melihat kepada sang khotib, khotib mulai menyampaikan khutbahnya hingga ditegakkan shalat jum’at.

 

Sesuatu yang sangat berharga

Itulah kehidupan santri, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala untuk mewarisi warisan para Nabi. Sungguh mereka patut ditiru oleh generasi muda yang ada di luaran sana, yang mayoritas waktunya terbuang sia-sia.

Semoga Allah kokohkan hati-hati kami dan kalian di atas agama-Nya dan menyelamatkan dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi. Amin

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.