Hukum Salat di Pesawat

 

Terjemah fatwa oleh Muhammad Hafizh Batam, Takmili

 

Pertanyaan

Jika aku safar menggunakan pesawat kemudian datang waktu salat, bolehkah bagiku untuk salat di dalam pesawat?

 

Jawaban   

Apabila ketika datang waktu salat pesawat masih terbang di udara, dan ia khawatir waktu salatnya akan habis dalam keadaan pesawat belum mendarat di bandara manapun, (jika keadaannya demikian), para ulama sepakat bahwa wajib baginya untuk mengerjakan salat sebisa mungkin, dengan tetap mengerjakan rukuk, sujud, dan menghadap kiblat. Sebagaimana Allah Taala katakan:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah sebatas kemampuan kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata:

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apabila aku memerintahkan suatu hal pada kalian, maka kerjakanlah sebatas kemampuan.” (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337)

 

Namun jika dia mengetahui bahwasannya:

  1. Pesawat akan mendarat sebelum keluar waktu salat, dan waktu tersebut cukup untuk mengerjakan salat.
  2. Atau salat tersebut merupakan salat yang dapat dijamak dengan salat lain (seperti; salat zuhur-asar, dan magrib-isya), dia juga mengetahui bahwasannya pesawat akan mendarat sebelum keluar waktu salat kedua, yang dengannya dia bisa salat di luar pesawat,

maka mayoritas ulama berpendapat bahwa hukumnya boleh-boleh saja untuk salat di dalam pesawat. Karena, seorang berkewajiban untuk menunaikan salat sebatas kemampuan ketika telah masuk waktunya. Pendapat inilah yang benar.

Wabillahit taufiq, wa shalllallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

 

Sumber: Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyyati wal Ifta’, soal pertama dari fatwa no. 145

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.