Merujuklah Kepada Ahlinya

 

Oleh Abdullah al-Atsari Sleman Jogja, Takhasus

 

Saudaraku fillah..

Baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Jika sebuah permasalahan dikembalikan kepada yang bukan pakarnya, maka tunggulah hari kiamat.” (HR. al-Bukhari)

 

Itulah bimbingan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib untuk kita realisasikan di seluruh aspek kehidupan kita. Dalam permasalahan agama, kita merujuk kepada para ulama yang mana mereka adalah pakar dalam ilmu agama. Setelah merujuk kepada mereka, kita berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan nasehat mereka. Terlebih jika nasehat tersebut datang dari ulama senior, karena keberkahan ada pada mereka.

الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ

Keberkahan itu ada bersama ulama senior kalian.” (HR. al-Hakim dan Ibnu Hibban)

 

Seperti itulah sikap kita di dalam permasalahan agama. Dalam permasalahan dunia pun juga demikian, kita merujuk kepada ahlinya. Sebagai contoh adalah di masa-masa seperti sekarang ini, ketika wabah pandemi Covid-19 melanda negeri kita Indonesia. Apakah kita akan bertanya kepada ahli bahasa terkait langkah apa yang seharusnya kita tempuh?! Tentu tidak, karena mereka bukan ahli di bidang kesehatan. Maka dari itu kita merujuk kepada ahli kesehatan.

 

Prinsip Utama yang Harus Ditanam dalam Dada

Saudaraku fillah…

Imam Ismail al-Ashbahani rahimahullahu Ta’ala pernah berkata:

وَمِنَ السُّنَّةِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِوُلَاةِ الْأَمْرِ أَبْرَاراً كَانُوا أَو فُجَّاراً

Di antara bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah prinsip mendengar dan mentaati pemerintah yang berpribadi baik maupun buruk.” (Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 2/529)

Hai ini termasuk prinsip pokok yang harus tertanam dalam-dalam di benak kita. Terkhusus di masa-masa sulit seperti ini, tatkala para penghasut bermunculan di mana-mana. Mereka menjatuhkan wibawa pemerintah dengan mencela, menghujat, mengumbar aib-aib pemerintah, dan cara-cara yang lainnya. Wallahul musta’an.

 

Menaati Prokes, Ujian Ketaatan

Pemerintah negeri kita ini telah menetapkan protokol-protokol kesehatan (prokes) yang disampaikan oleh para ahli kesehatan di NKRI yang tercinta ini.

Lantas bagaimana sikap kita terhadap prokes tersebut? Taatkah kita? Atau abai dan lalai? Ataukah malah ghuluw dan berlebihan dalam menetapkannya?

Tentu jawabannya adalah, kita harus mendengar dan taat selama dalam hal yang tidak mengandung kemungkaran. Tidak abai, dan tidak pula berlebihan dalam menjalankannya.

Yang berhak menilai apakah kita masih salah, terlalu berlebihan, atau telah benar dalam menjalankannya adalah para pakar kesehatan dan yang bertugas di bidangnya. Hal ini adalah bentuk pengamalan terhadap hadits di awal tadi.

 

Menerapkan prokes di masa-masa ini, di samping dalam rangka mendengar dan menaati pemerintah, juga dalam rangka mengembalikan setiap permasalahan kepada pakarnya. Sebagaimana yang telah dibimbingkan oleh panutan terbaik kita, Nabi  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam menerapkan prokes, memang butuh banyak pengorbanan. Dari sisi waktu, tenaga, pikiran dan yang lainnya. Bagaimana tidak?! Setiap hendak memasuki ruangan harus CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) terlebih dahulu. Kita juga harus menjaga jarak di setiap kegiatan dan memakai masker setiap saat. Tentu hal ini tidak mudah dan butuh pengorbanan.

 

Pengalaman Pribadi

Penulis sendiri pernah melewati masa-masa karantina dan orientasi sebelum memasuki Ma’had Minhajul Atsar Jember, sesuai imbauan pemerintah dalam keputusan mereka.

Karantina dan orientasi selama 14 hari, telah melukiskan berbagai kisah dan kenangan. Selama masa tersebut, tidak boleh keluar rumah. Interaksi sesama peserta karantina juga dibatasi. Di awal-awal menjalaninya, rasanya jarum jam bergulir dengan sangat lambat. Sampai-sampai ada di antara pesarta karantina asal Kendari berucap:

Mas… Dua hari kok rasanya seperti dua bulan ya…” Senyuman lebar pun menyudahi ucapannya.

 

Memang masa-masa adaptasi itu sangat berat, terlebih bagi teman asal Kendari tersebut. Karena, dia adalah santri baru di Ma’had Minhajul Atsar.

Namun, Alhamdulillah, teman-teman panitia karantina di ma’had, mereka rela membantu menyiapkan berbagai kebutuhan di masa karantina. Mulai dari mengantar makan, lauk tambahan, buah, cemilan dan yang lainnya. Mereka berusaha untuk membantu semaksimal mungkin. Setiap peserta karantina dihubungi secara rutin, guna menanyakan kondisi kesehatan dan  kebutuhannya.

 

Tak jarang mereka bertanya, “Gimana mas…? Kurang apa?”

Pernah suatu saat, kami menjawab, “Gini mas… Kalau ada kompor yang bisa digunakan untuk masak air alhamdulillah mas. Kalau tidak ada ya tidak apa-apa kok mas.. Toh kebutuhan kita juga Alhamdulillah sudah terpenuhi.”

Salah satu panitia karantina asal Solo pun menjawab, “Ya, nanti insyaAllah kami usahakan.” Setelah itu, Walhamdulillah panitia pun meminjamkan kompor portable kepada kami.

Masya Allah, dengan sebab keberadaan mereka, kami merasa ringan dalam menjalankan protokol kesehatan dari pemerintah ini. Kami juga merasakan indahnya saling berta’awun (saling membantu) dan tafahum (saling memahami) di bawah naungan persaudaraan karena Allah yang amat indah.

 

Penutup

Sebagai penutup dan juga sebagai pengingat untuk diri yang banyak lalai ini. Junjungan kita, Nabi  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

اسْمَعْ وَأَطِعْ فِي عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ، وَ مَنْشَطِكَ، وَمَكْرَهِكَ

Dengar dan taatlah (kepada pemerintah) dalam keadaan susah ataupun mudah, dalam keadaan lapang ataupun terpaksa.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

 

Mudah-mudahan kita termasuk di antara hamba-hamba Allah yang selalu diberi hidayah dan taufiknya untuk menapaki jalan salafush-shalih di setiap gerak-gerik kita.

Semoga Allah Taala segera mengangkat wabah ini dari muka bumi, amin. Wallahul muwaffiq.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.