Pembukaan Acara Sariyah

 

Oleh Tim Reportase Santri

 

Sang surya telah tenggelam di ufuk barat. Siang pun berganti menjadi malam. Setiap sesuatu pasti ada “kata pengantarnya”. Supaya sesuatu itu terasa lebih sempurna, atau agar sesuatu itu dilakukan dengan penuh semangat. Tak luput perlombaan-perlombaan pada kegiatan Syawwal di Ma’had Minhajul Atsar tahun ini.

Panitia SARIYAH juga menyertakan kegiatan yang akan membuka seluruh kegiatan yang telah diagendakan. Pada pembukaan kali ini memiliki sebuah tema, yaitu “ta’awun santri”.

 

Menampilkan berbagai tugas ta’awun (tolong-menolong) santri

Sebagaimana tema pada pembukaan ini, di sana akan ada santri-santri yang akan memberikan contoh sebagian ta’awun yang berada di pondok Minhajul Atsar Jember. Di antaranya adalah ta’awun jaga malam di pondok dua, tim SAR, divisi transportasi, divisi RO, dan divisi Luqathah (barang temuan).

Pertolongan Allah Ta’ala akan datang selama seorang hamba mau untuk menolong saudaranya. Itu adalah di antara motivasi para santri di dalam ber-ta’awun apapun itu. Sebagaimana di dalam hadits,

وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah Ta’ala senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

 

Para santri sedang duduk-duduk di lapangan pondok yang terletak di depan masjid. Ada juga di antara mereka yang duduk santai di gazebo dan di depan maqshaf (kopersai). Pandangan mata mereka telah tertuju pada sebuah layar. Layar yang membuat mata mereka fokus berada di bagian luar tembok masjid lantai dua.

Ya, layar itu merupakan layar yang ditampilkan menggunakan proyektor. malam Jumat yang bertepatan dengan 2 Syawwal itu memang menjadi malam pembukaan.

 

Berbagai ide dari panitia membuat keadaan semakin menarik

Animasi lebaran pun diputar setelah MC membuka acara ini. Tiba-tiba layar berubah hijau, hanya terlihat seperti layar yang sedang rusak. Itupun diiringi dengan asap “APAR” (alat yang digunakan untuk memadamkan kebakaran) turun dari lantai 3. Keadaan memang dibuat genting. Sampai-sampai ada seorang santri yang berada di dekat gerbang berusaha melarikan diri jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Alhamdulillah itu bukanlah suatu hal yang membahayakan. Ternyata hanya sedikit yang faham tentang ide dari panitia tersebut.

 

Aksi seorang sopir yang membuat kagum

Mobil L-300 menyusul keadaan yang dibuat sedemikian rupa. Mobil tersebut berputar-putar di antara meja ping-pong yang telah disediakan dan meja yang digunakan untuk menaruh proyektor di atasnya. Kurang lebih mobil tersebut berputar sebanyak tiga kali.

Perasaan takut dari para santri yang muncul dengan gerakan sedikit mundur itu mampu dihasilkan oleh mobil tersebut. Padahal mobil tersebut tidak menggunakan teknologi “power steering”. Tentu ketika tidak terbiasa setir mobil jika diputar akan terasa begitu berat, sehingga tenaga pun dapat terkuras karenanya.

 

Dengan seorang driver yang ahli dari santri, Alhamdulillah mobil tidak menabrak fasilitas apapun dan tidak mengenai satu orang santri pun. Decak kagum yang disertai ucapan “Masya Allah” pun terucap dari para penumpang dan para santri.

Masya Allah mas! itu tadi mepet banget lo sama meja pingpong” kata salah seorang penumpang sambil menggambarkan dengan kedua tangannya. “Masya Allah ya mas, mantep banget! Sampe mereka mengangkat kaki-kakinya,” yang lain pun ikut berkomentar.

 

“Muatan” yang berada di dalam mobil tersebut mulai turun satu persatu. Mereka pun kemudian mencontohkan sebagian apa yang dilakukan saat sedang berjaga malam di pondok dua. Ternyata itu semua merupakan simulasi kegiatan ta’awun dan divisi santri yang ada di pondok kita.

Mulai dari Tim SAR yang ditugasi untuk memadamkan kebakaran. Di pondok ini, memang dilakukan latihan rutin penanganan pemadaman kebakaran sederhana. Dilatih oleh seorang yang memang ahli di bidangnya yaitu Bapak Sahirudin yang juga bekerja di bidang ini di lingkungan PLTU Paiton Probolinggo. Terkadang, kami juga mendatangkan tenaga ahli dari PLN Jember, Bapak Yusuf.

 

Semua itu ditampilkan kembali di dalam acara MUDDAH -mukadimah sariyah- agar para santri baru mengetahui divisi-divisi ta’awun yang ada di Ma’had Minhajul Atsar Jember. Harapannya, mereka siap meneruskan dan melanjutkan estafet taawun di kemudian hari. Selanjutnya, ketrampilan itu bisa bermanfaat saat mereka lulus dari pesantren.

 

Tim RO tak mau kalah dalam beraksi

Tiba-tiba terlihat seorang yang mengendarai sebuah bentor yang membawa galon-galon kosong. Galon itu nantinya akan diisi di tempat RO milik pondok. Decak kagum dan suara tawa dari para santri dapat disaksikan ketika mereka menyaksikan bentor tersebut mulai mencondongkan dirinya ke arah kanan. Sampai-sampai bentor tersebut sedikit “menyerempet” salah satu gawang yang tengah berada di samping lapangan.

Kemudian divisi keamanan menjemput para santri yang sedari tadi menunggu mobil yang tak kunjung datang. Bentor beserta galon yang sudah diisi pun juga mulai keluar dari lapangan. Tak disangka-sangka ada pakaian-pakaian yang dijatuhkan dari lantai tiga. Pakaian tersebut di antaranya ada yang hampir mengenai MC.

 

Divisi luqathah mencoba menghibur santri

Ada apa gerangan dengan orang-orang yang melakukan hal demiikian? Ternyata hal tersebut mengundang divisi luqathah untuk mencontohkan amanah yang mereka emban. Yaitu memungut pakaian yang tercecer di jemuran karena tanpa disengaja jatuh dari hanger atau semisalnya.

Para santri pun mengetahui cara kerja tim luqathah yang sedang memungut pakaian. “Anda kehilangan pakaian? Celana? Jubah? Jam tangan? Segera hubungi tim luqathah..” Promosi dari rekaman suara santri asal Purwodadi.

“Mas.. mas.. kalau punya baju ya mbok dijaga to mas.. mas.. kasihan kan orang tua sudah bekerja keras, banting tulang..” Ditutup dengan nasehat dari rekaman suara santri asal Jawa Tengah.

 

Akhir dari acara

Sebagai penutup dari acara ini, panitia menyetel sebuah video dokumenter yang pernah diputar pada penutupan liburan semester satu. Video tersebut memuat di dalamnya tentang minggu kedua dari perlombaan ASADI (Aku SukA DI sini).

Judul video tersebut adalah “video gagal tayang”. Karena qoddarullah editor tidak sengaja menekan tombol shift+del pada file-file di minggu pertama. Sehingga perlombaan ASADI pada minggu pertama tidak dapat ditayangkan di acara penutupan.

 

Aksi Tim SAR 

Setelah video selesai diputar, tim SAR dari kalangan santri melakukan cara yang salah terlebih dahulu di dalam memadamkan api yang berada di atas wajan, yaitu dengan menyiramnya langsung menggunakan air. Apa yang terjadi? Rupa-rupanya api itu bertambah besar sampai tingginya mencapai beberapa meter ke langit. “Itu tadi adalah cara yang salah ketika mematikan api yang terbakar di atas wajan,” ujar tim SAR.

“Apabila kita sedang memasak sesuatu, apapun itu, kemudian terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan semisal munculnya kobaran api yang berada di atas wajan, maka jangan panik! Tetap tenang! Dan ambil langkah yang tepat! Segera cari kain, kemudian celupkan ke dalam air, lalu lemparkan dengan benar ke atas kobaran api tersebut.. supaya udara yang ada di dalamnya tertutup, sehingga api tidak menyala kembali.. karena udara merupakan salah satu unsur yang terdapat di dalam api yang menyala..” Himbauan dari salah satu tim SAR.

 

Beberapa saat kemudian, tim SAR mempraktikan cara memadamkan api dengan benar sebagaimana yang telah disampaikan baru saja. Seketika api pun padam. Alhamdulillah..

Dengan berakhirnya penampilan-penampilan yang disajikan oleh para santri, berakhir pula acara pembukaan SARIYYAH pada tahun ini.

 

Tak ada kata yang seindah doa

Semoga kegiatan-kegiatan Syawwal tahun ini dapat mengisi waktu liburan santri yang lebih bermanfaat selama mereka tinggal di pondok. Semoga semua kegiatan berjalan lancar dan video dokumenter SARIYAH dapat diputar dengan tanpa cacat pada acara penutupan nanti. Amin..

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.