Giat santri di sore hari

 

Oleh Abul Husain Faruq al-Mizyali 4B Takhasus

 

Sore itu cuaca sedikit hitam. Awan mendung telah menyelimuti langit yang biru. Angin yang berhembus agak keras. Namun itu semua–atas bantuan dari Allah–tak menyurutkan para santri untuk menunaikan salat Ashar di masjid. Tepat pada pukul 15.25 WIB, masjid bergemuruh dengan suara zikir. Tidak lain itu adalah suara para santri yang baru saja selesai menunaikan shalat ashar.

Tak lama kemudian masing-masing beranjak meninggalkan tempat duduknya untuk berpindah ke denah halaqah murajaah yang telah dibentuk oleh mas’ul Qismul Qur’an (divisi al-Qur’an) untuk jenjang takhassus.

 

Menunggu bel berbunyi

Semua santri menanti pukul 16.00, karena jadwal olahraga takhassus di hari-hari aktif itu adalah di sore hari. Jadwal tersebut dibagi perkelas setiap harinya. Kelas empat dan musyrif (pengawas) tahfidz di hari Sabtu, kelas tiga di hari Selasa, kelas dua hari Ahad, kelas satu hari Senin, kelas lima dan Takmili hari Rabu. Adapun hari Kamis untuk semua kelas boleh bergabung dan lapangan dikhususkan untuk olahraga voli.

Waktu yang ditunggu tiba. Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul 16.00, para santri mulai berduyun-duyun meninggalkan masjid. Terkhusus kelas empat, mereka belum bisa keluar karena ada ta’awun nasmi’ (menyimak) thullab Tahfidz dan baru selesai setelah bel berbunyi.

Tak lama kemudian, tepat pukul 16.10 bel tahfizh berbunyi keras, bertanda mereka boleh keluar dan bubar dari halakah (kelompok muraja’ah), thullab tahfizh segera menghambur keluar, tak ketinggalan kami kelas empat takhossus yang sedari tadi menantikan suara bel itu.

 

Semua punya hobi tersendiri

Setelah sejenak mampir ke kamar, kami langsung meramaikan lapangan serbaguna pondok itu, dengan perlengkapan olahraga masing-masing. Dari olahraga yang ada, yang paling banyak peminatnya adalah sepak bola, disamping seru, melatih fisik, mental, dan banyak mengeluarkan keringat. Namun ada juga yang hobi badminton, pingpong, SAR dan fitness. Masing masing punya hobi sendiri-sendiri.

Di balik keseruan itu semua, ada yang harus diperhatikan. Hal itu adalah pesan agar menjadikan amalan mubah sebagai sarana untuk penambah semangat dalam belajar, agar olahraganya tidak sia-sia, disamping seru dan juga berbuah pahala insya Allah.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama:

الوَسَائِل لَهَا أَحْكَامُ المَقَاصِد

“Perantara itu hukumnya sama dengan yang dituju”

Jadi kalau tujuan bermain kita adalah dalam rangka tholibul ilmi, insya Allah kita juga akan memperoleh pahala menuntut ilmu. Mungkin sekian yang bisa ditorehkan dalam tulisan kali ini. Semoga bermanfaat dan berbuah amal shalih. Amiin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.