Selamat datang para calon santri-para penuntut ilmu syar'i warisan Nabi. Untuk mengikuti ujian online UMTB klik di sini!

Penjelasan Ulama tentang Taklid

 

Oleh Abdul Halim Perawang 4A Takhasus

 

Pertanyaan:

Semoga Allah Ta’ala  menganugerahkan dan melimpahkan kebaikan kepada anda. Penanya mengatakan:

“Kami ingin mengetahui tentang perbedaan antara taklid yang tercela di kalangan ulama dengan taklid yang didengung-dengungkan oleh Abul Hasan al-Ma’ribi dan para pengikutnya?”

 

Jawaban:

Dijawab oleh as-Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah al-Jabiri hafidzohullah Ta’ala:

Taklid secara bahasa diambil dari kata (تَقَلَّدَ الشَّيْءَ يَتَقَلَّدُهُ) artinya “jika seseorang menggantungkan sesuatu di lehernya, dikatakan: (قَلَّدَ غَيْرَهُ قِلَادَةً)

apabila ia meletakkan tali di leher orang lain.”

Adapun menurut istilah ulama, taklid adalah: Menerima ucapan seseorang yang bukan hujjah (argumen) tanpa mengetahui buktinya.

Dengan ini, maka harus diperhatikan hal-hal yang merupakan syarat pada definisi tersebut.

 

Maka definisi ini memiliki dua batasan:

 

Batasan Pertama: Menerima ucapan yang bukan hujjah.

Dari batasan ini diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk di dalamnya, karena ucapan Nabi adalah hujjah.

Jika ada yang mengatakan kepada anda: “Rasulullah berkata…”  Maka anda tidak boleh menanyakan dalilnya, karena ucapan beliau adalah dalil. Akan tetapi anda boleh –apabila merasa asing- bertanya tentang kesahihan haditsnya.

Demikian pula ijmak (kesepakatan ulama), apabila sebuah perkara telah dinyatakan sebagai ijmak oleh ulama yang berilmu pada bidangnya, maka wajib diterima hingga hari kiamat dan tidak boleh ditolak. Karena ijmak itu sendiri merupakan hujjah, baik diketahui dalilnya maupun tidak.

Diantara ijmak adalah: Orang yang memiliki landasan dalil dari al-Qur’an dan sunah yang sahih.

Diantara ijmak pula adalah: Pendapat yang disandarkan kepada hadits dhaif (lemah) kemudian derajat hadits tersebut menjadi kuat karena disokong oleh ijmak tersebut.

Dan termasuk ijmak adalah: Orang yang tidak mengetahui dalil dari sebuah pendapat, namun telah terjadi kesepakatan dari para imam (ulama) atas pendapat itu.

Oleh karenanya, para ulama mendefinisikan ijmak dengan: Kesepakatan seluruh ulama mujtahid (yang bersungguh-sungguh) dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan agama pada salah satu masa setelah wafatnya beliau. .

Disini saya ingin menegaskan bahwa setiap bidang ilmu yang diakui, terdapat padanya ijmak dari ahlinya.

Pada pembahasan ilmu hadits, yang menjadi acuan bukanlah pendapat para pakar fikih, bukan pula pendapat para pakar sejarah ataupun ulama yang membidangi bahasa arab. Namun yang menjadi acuan adalah kesepakatan para pakar hadits, karena pembahasannya merupakan pembahasan hadits.

Di dalam ilmu kaedah ushul fikih, acuannya adalah kesepakatan ahlulushul.

Pada pembahasan sejarah, acuannya adalah kesepakatan ulama yang membidangi sejarah dan mengenal peristiwa peperangan.

Contohnya, ketika para pakar sejarah dari kalangan ulama Islam bersepakat bahwa Perang Khandaq meletus pada tahun keempat Hijriyah, maka kita tidak perlu membahas lagi. Kesepakatan tersebut telah cukup bagi anda dari orang yang membidanginya. Sebagaimana pula apabila orang yang ahli dalam bidang tertentu menerangkan sesuatu, maka hal itu cukup bagi kita.

Begitu pula tatkala mereka bersepakat bahwa ‘Umrah Qadha’ (umrah setelah perang khaibar) terjadi pada tahun ketujuh Hijriyah maka hal itu cukup bagi kita. Demikian seterusnya.

 

Batasan Kedua: Tanpa mengetahui dalilnya.

Keluar dari batasan ini ucapan ulama yang telah diketahui dalilnya. Karena menerima ucapan ulama berdasarkan dalil tidaklah dinamakan taklid, bahkan itu merupakan bentuk ittiba’ (mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka cermatilah.

Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan:

  1. Perbedaan antara taklid dengan ittiba’.

Taklid adalah: ‘Menerima ucapan tanpa mengetahui dalilnya’ hanya menerima begitu saja tanpa mengetahui dalilnya.

Adapun ittiba’ adalah: Menerima ucapan berdasarkan dalil.

  1. Klasifikasi manusia dari sisi diperbolehkannya melakukan taklid atau tidak.

Dalam hal ini manusia terbagi menjadi dua kelompok:

Kelompok Pertama: Orang yang diperbolehkan bertaklid, bahkan wajib. Ia adalah orang awam, begitu pula pelajar yang tidak memiliki kemampuan berijtihad.

Sebagian ulama mengatakan: “Bahkan seorang alim mujtahid yang kurang kemampuannya ketika ia membahas suatu masalah, setelah ia mencurahkan segenap usaha dan kesungguhannya, maka diperbolehkan baginya untuk melakukan taklid kepada ulama terdahulu.”

Disini saya ingin menyebutkan contoh dalam pembahasan: Apakah sebuah penamaan termasuk bagian dari yang dinamakan ataukah terpisah?

Imam ath-Thabari rahimahullah, beliau adalah seorang imam yang memiliki kedudukan yang mulia serta keutamaan yang tinggi, mengatakan terkait pembahasan ini:

“Saya tidak memiliki ilmu dalam hal ini kecuali mengikuti imam yang memiliki ucapan al-Ghina’ (yang sudah mencukupi) wa asy-Syifa (mengobati kebodohan).”  Yang beliau maksud adalah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, beliau bertaklid kepadanya.

Dalam pembahasan Jarh wa Ta’dil (memperingati dan merekom seseorang), para ulama bertaklid kepada ulama terdahulu, “Telah direkomendasi oleh Ibnu Ma’in, telah direkomendasi oleh alim fulan, telah direkomendasi oleh alim fulan.”

Apabila tidak diketahui ada ulama lain yang menyelisihi, maka kita mengikuti rekomendasi alim tersebut. Namun, jika diketahui ada ulama lain yang menyelisihi rekomendasi tersebut, maka diteliti kembali sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya pada permasalahan terkait dalil dan bukti.

Kelompok Kedua: Orang yang diharamkan taklid dan tidak diperbolehkan baginya melakukan taklid bagaimanapun kondisinya. Dia adalah seorang alim mujtahid yang mampu mengerahkan kemampuannya untuk meneliti dalil agar bisa sampai kepada sebuah hukum syar’i, baik secara yakin maupun sebatas prasangkaan kuat, maka ia dituntut untuk berijtihad dan meneliti dalil yang ada.

Dengan ini, dapat diketahui bahwa orang yang melarang taklid secara mutlak tidak keluar dari dua keadaan:

  1. Mungkin dia jahil dan mendengarkan dari manusia yang mendendangkan celaan terhadap taklid, sehingga ia mengatakan sebagaimana apa yang dikatakan manusia.
  2. Atau dia adalah pengikut hawa nafsu, dia mengendalikan orang lain agar mendengar dan menerima ucapannya saja, sehingga pengikutnya berkata: “Syaikh kami berkata demikian.” Inilah sikap fanatic buta dan taklid yang tercela.

Maka taklid yang tercela adalah fanatic yang membabi buta. Inilah definisi taklid yang mereka sandarkan kepada orang tersebut (Abul Hasan al-Ma’ribi), yang melarang taklid secara mutlak.

Para penuntut ilmu yang masih ditingkatan pemula tidak mengetahui hakekat asli dari ittiba’ maupun taklid. Mereka hanya diajarkan untuk menyerukan, “Kami tidak taklid kepada siapapun, kami tidak taklid kepada siapapun, kami tidak menerima dari satu pihak saja.”

Ini bukanlah bagian dari prinsip dan pemahaman salaf. Seorang ulama salafi adalah yang mengajarkan sunah kepada manusia. Jika pada suatu masalah terdapat perbedaan pendapat, maka ia menjabarkan berbagai pendapat tersebut beserta dalil dan buktinya, kemudian menguatkan apa yang ia pandang sebagai pendapat yang kuat.

(Diterjemahkan dari kitab Al-Haddul-Fashil baina Mu’amalah Ahlis-Sunnah Wa Ahlil-Bathil karya al-‘Allamah asy-Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah Al-Jabiri hafizhahullah)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.