Untukmu, duhai ayah dan ibu

Oleh Humam Reza at-Tamimi

 

Pada momen-momen seperti ini kita teringat dengan sebuah sabda agung, terucap dari lisan yang mulia, baginda besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, diriwayatkan oleh dua imam besar, al-Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,

Bahwasanya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Beliaupun menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Kemudian siapa?” “Kemudian ayahmu.”

(HR. al-Bukhari: 5971 dan Muslim: 2548)

Oh, duhai ibu, nama Anda terulang tiga kali dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di atas. Hal ini menunjukkan betapa mulianya Anda dan betapa besar penghormatan yang harus kami tunaikan untuk Anda. Sungguh betapa besar jasa yang Anda lakukan demi kami. Duhai ibu, selama 9 bulan ibu mengandung kami di dalam perut. Sakit, letih, lagi berat, itulah yang ibu rasakan. Lalu di saat Anda-wahai ibu-hendak melahirkan kami, Anda menantang kematian serta merasakan sakit yang sangat. Lalu ibu menyusui kami selama 2 tahun penuh.

Saya yakin, ibu merasakan kepayahan, sejak ibu mengandung kami hingga kini, seluruh anggota badan ibu merasakan kelemahan sejak sebelum melahirkan, lemah dan berat itulah yang anda rasakan.

Setelah itu, Anda rela merasakan lapar demi kenyangnya kami. Rela bangun malam demi tidurnya kami. Padahal saat itu, ibu juga sangat lelah, ibu juga butuh istirahat. Serta ibu rela meninggalkan makanan yang ibu sukai demi kami.

Sungguh, itulah ibu. Memang, ibu-lah sosok yang paling berhak mendapatkan bakti dari seorang anak.

Sedangkan Anda wahai ayah, nama anda disebut satu kali oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta terletak di belakang kata ‘ibu’. Hal ini tidaklah mengurangi rasa hormat kami kepada anda. Bagaimanapun juga, Anda adalah orangtua kami. Engkaulah yang bekerja untuk memenuhi kehidupan kami. Seolah-olah, Anda jadikan malam sebagai siang begitu pula sebaliknya, siang anda jadikan sebagai malam.

Anda membantu ibu dalam mendidik kami, menghibur ketika kami sedih, mendiamkan kami ketika kami menangis, melindungi kami ketika ada gangguan, khawatir jika kami terganggu dengan gangguan, sekecil apapun itu.

Oh ayah dan ibu, seolah-olah anda berdua berhak untuk mengatakan:

            Sungguh…… anak di mata kami…..

            Adalah belahan jiwa yang berjalan di muka bumi.

            Kalau seandainya angin menerpa mereka …

            Niscaya….. mata kami tidak akan terpejam karenanya…

            Sekarang… mari kita renungkan…. apa balasan kita kepada mereka…?

            Sekalipun mereka tidak meminta… bukankah kebaikan itu dibalas dengan kebaikan pula…? 

            Oh…. begitulah orang tua…. jangan sampai mereka mengatakan..:

            Apa yang engkau harapkan dari kami hari ini….

            Di sisa-sisa usiamu dan kakimu di dalam kubur…..

            Sungguh….. waktu yang panjang membuatmu jemu….

            Dan engkau bosan dengan buruknya hidup di akhir usiamu…

Kawan…. ku tulis naskahku ini sebagai penyemangat kita untuk berusaha bersemangat di dalam berbakti kepada kedua orang tua selagi nyawa keduanya masih ada. Kawan, taatilah kedua orang tuamu. Utamakan baktimu kepada keduanya selagi mereka masih hidup. Kawan, kututup naskahku ini dengan sebuah do`a:

{رَبِّ اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا}

            Utamakan baktimu kepada orang tuamu….

Akhir tulisan ini… kututup dengan sebuah permohonan maaf kepada kedua orang            tuaku…. mudah-mudahan kalian sudi memaafkanku….

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Mulia….

Ku awali suratku ini  dengan menyebut nama-Nya… Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…. semoga shalawat dan salam tercurah kepada baginda besar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ayah…Ibu… kutulis permohonan maaf ini teruntuk kalian berdua…. yang selama ini tersakiti oleh kelakuan anaknya….. izinkan diri ini untuk memperbaiki diri….. dari berbagai khilaf dan kesalahan yang telah terjadi…..

Ayah …Ibu … maaf jika selama ini ananda belum bisa menyenangkan kalian berdua… membuat kalian tersenyum dan tertawa bahagia…. demi menebus air mata kesedihan yang telah banyak keluar…. dengan air mata kebahagiaan….

Ayah… Ibu… dengan rahmat-Nya aku sedang bersimpuh di hadapan-Nya merenungi dosa dalam diri yang hina…. di keheningan malam, aku bermunajat kepada-Nya….. terselip pula harapan kalian sudi memaafkan… dari berbagai ketergelinciran….

Ayah… Ibu… kalian yang tersakiti selama ini…. perkenankan ananda memperbarui akhlak dan pribadiku…. restuilah aku yang sedang berusaha menghapus dosa …. maafkan diri yang hina ini yang berlumuran dosa-dosa dan kesalahan… sebelum ruh ini meninggalkan raganya….

Ayah…. Ibu…  saksikanlah perjuanganku di dalam meraih mahkota yang akan ku kenakan kepada kalian berdua…. Mahkota yang akan menyilaukan setiap mata yang memandangnya….

Ayah… Ibu…. kan ku genggam erat nasehat kalian berdua meski kalian tidak di sampingku…… tapi kini aku sadar… Allah selalu mengawasiku….

Ayah…Ibu…. ku ucapkan terima kasih kepada kalian berdua atas pengorbanan kalian dalam mendidikku, atas kesabaran kalian dalam membesarkanku, padahal aku sering malalaikan pengajaran kalian. Bahkan justru aku menentangnya.

Ayah Ibu, restuilah perjalanan /rihlah suci ini, iringilah setiap langkahku dengan berbagai do`a. Doa yang mampu membuatku berdiri di kala jatuh, yang membuatku bangkit kembali di saat rapuh.

Semoga Allah mengabulkan pintaku dan mengumpulkan kita semua di surga-Nya. Amiin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.