Perbaiki akidahmu!

 

Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillahi wahdah, washalatu wassalamu‘ala man la nabiyya ba’dah wa ’ala alihi washahbih.

Amma ba’du:

Karena aqidah shahihah merupakan pokok dan pondasi agama Islam, maka aku memandang agar hal tersebut menjadi tema muhadharah ini.

Telah diketahui bersama dari dalil-dalil syar’i yaitu al-Kitab dan as-Sunnah, bahwa amalan dan ucapan yang diniatkan sebagai ibadah tidak dianggap sah dan diterima sampai amalan tersebut muncul dari keyakinan yang benar (‘aqidah shahihah). Sehingga apabila keyakinan tersebut salah, maka batallah semua,  baik itu amalan maupun ucapan. Hal ini sebagaimana Allah berkata:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالإيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa yang kufur setelah keimanannya maka sungguh telah batal seluruh amal perbuatannya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-Maidah: 5)

Allah juga berkata:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Benar-benar tekah Kami wahyukan kepadamu dan nabi-nabi sebelummu; ‘sungguh, apabila engkau berbuat syirik, akan terhapus seluruh amalmu dan engkau akan termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. az-Zumar: 65)

Dan banyak ayat-ayat yang semakna dengan ini.

****

Sungguh, kitabullah dan sunnah rasul-Nya yang terpercaya -semoga sholawat dan salam yang paling utama tercurah padanya- telah menunjukkan bahwa inti dari ‘aqidah shahihah adalah iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk. Dan enam perkara ini adalah pokok dari ‘aqiah shahihah yang kitabullah al-aziz (al-Qur’an) turun, dan Allah utus Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikannya.

Kemudian dari pokok-pokok tersebut bermunculan cabang-cabang yang meliputi semua hal yang wajib diimani dari perkara-perkara gaib dan segala sesuatu yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalil tentang enam pokok ini sangat banyak disebutkan dalam kitab dan sunnah. Diantaranya adalah perkataan Allah:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

“Kebajikan itu bukan dengan menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat. Akan tetapi kebajiakan adalah beriman kepada Allahb, hari akhir, kepada para malaikat, kepada kitab-kitab, dan kepada para nabi.” (QS. al-Baqarah: 177)

Demikin pula perkataan Allah:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ

“Rasul (Muhammad) telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (al-Quran) dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malikat-maliakat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata): ‘kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari rasul-rasulNya.’” (QS. al-Baqarah: 285)

Ucapan Allah yang lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada kitab yang diturunkan kepada rasul-Nya, dan kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang ingkar kepada Allah, maikat-malikat-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian (hari akhir). Maka sungguh orang itu telah tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.” (QS. an-Nisa: 136)

Allah berkata pula,

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالأرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tidaklah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi?. Sungguh yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah kitab. Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (QS. al-Haj: 70)

Adapun hadis-hadis shahihah yang berkaitan dengan enam pokok ini sangatlah banyak. Di antaranya yang disebutkan oleh al-Imam Muslim dalam kitab shahihnya. Hadis yang masyhur dari ‘amirul mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu’anhu, yaitu ketika Jibril bertanya kepada Nabi tentang iman. Beliau menjawab, “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan kepada hari kemudian, serta engkau beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.” (Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim dalam shahih keduanya dari sahabat Abi Hurairah radhiallahu’anhu).

Selanjutnya, dari enam pondasi ini timbul beberapa perkara yang wajib diimani oleh seorang mukmin terkait dengan hak Allah b, hari kebangkitan, dan hal-hal gaib lainnya.

 

PONDASI PERTAMA: IMAN KEPADA ALLAH

 

Yang dimaksud dengan iman kepada Allah yaitu, beriman bahwa Allah adalah tuhan yang benar, tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia. Karena Dialah yang telah menciptakan hamba-hamba-Nya. Allah telah berbuat baik dan membagi rezeki mereka. Allah mengetahui apa yang tampak  dan tersembunyi dari mereka. Maha mampu untuk memberi orang-orang yang taat dengan pahala dan menghukum orang-orang yang durhaka. Allah berkata:

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki dari mereka rezeki sedikitpun dan Aku tidak ingin mereka memberi makan kepada-Ku.”

Dan perkataa-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ٢١ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ  ٢٢

“Wahai sekalian manusia! Beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia hasilkan buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian dengan air itu. Maka janganlah kalian membuat tandingan-tandingan bagi Allah, sementara kalian mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 21-22)

Dan sungguh Allah telah mengutus seorang rasul dan menurunkan sebuah kitab untuk menjelaskan dan mengajak kepada kebenaran, dan memberi peringatan dari kekufuran. Sebagaimana firman Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (untuk menyerukan) ‘beribadahlah kepada Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36)

Allah berkata:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Allah berkata pula:

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِير ١ ٍأَلا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ ٢

“(Inilah) sebuah kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepada kalian daripada-Nya.” (QS. Hud: 1-2)

Sedangkan intisari dari ibadah itu sendiri ialah mengesakan Allah dalam seluruh ibadah seorang hamba. Seperti, shalat, puasa,menyembelih, bernazar, dan macam-macam lain dari ibadah, dengan ketundukan kepada-Nya yang disertai rasa takut dan harap dalam kesempurnaan cinta pada-Nya, juga rasa rendah diri di hadapan keagungan-Nya.

Mayoritas al-Quran turun untuk menjelaskan urgensi prinsip agung di atas. Seperti ucapan-Nya:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ ٢ أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ٣

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az-Zumar: 2-3)

Juga ucapan-Nya:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ

“Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (QS. al-Isra: 23)

Dan yang lain:

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai (nya).” (QS. Ghofir: 14)

Dalam “ash-shahihain” dari sahabat Mu’adz radhiallahu’anhu, bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حقّ الله على العباد أن يعبدوه ولايشركوا به شيئاً

“Hak Allah atas hamba-Nya adalah menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Termasuk pula di antara bentuk iman kepada Allah adalah keimanan terhadap seluruh perkara yang Allah wajibkan kepada manusia (untuk mengimaninya), seperti lima rukun Islam yang zhahir. Yaitu: syahadat lailah illallah wa anna muhammadan rasulullah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat, serta berhaji ke baitullahil haram, dan kewajiban lainnya yang dibawa oleh syariat suci ini. Dan rukun yang terpenting dan terbesar adalah syahadat “laa ilaha illallah wa anna muhammadan rasulullah.”

Konsekuensi dari syahadat “lailah illallah” adalah memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata dan menafikan ibadah dari selain-Nya. Karena makna dari dari kalimat tersebut ialah: “Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah.” Maka apapun yang disembah selain Allah, baik itu manusia, malaikat, jin atau yang lainnya adalah sesembahan yang disembah dengan bathil (salah). Sedangkan sesembahan yang benar hanya Allah semata. Allah berkata:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Demikianlah (kebebasan Allah), karena Allah adalah (sesembahan) yang haq. Dan apapun yang mereka seru selain Dia itulah yang bathil (salah).” (QS. Al-Hajj: 62)

Tujuan penciptaan Allah terhadap jin dan manusia, yaitu untuk prinsip yang sangat mendasar ini (tauhid-pen), dan perintah-Nya kepada mereka dengan hal tersebut, juga tujuan Allah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya.

Perhatikanlah dengan seksama dan resapilah hal tersebut dengan baik, supaya jelas bagimu kebodohan parah yang telah menimpa mayoritas masyarakat kaum muslimin tentang prinsip yang sangat penting ini. Sehingga karena Kejahilan mereka ini, mereka di samping menyembah Allah, mereka juga beribadah kepada selain-Nya, dan memalingkan hak yang murni milik Allah kepada selain Allah. Allahul musta’an.

Kemudian termasuk (konsekuensi) iman kepada Allah adalah beriman bahwa Dialah pencipta dan pengatur seluruh alam semesta.

 

Diterjemahkan dari Kitab al-Aqidah ash-Shahihah karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah oleh Khalid Banjarnegara Takmili 2C

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.