Sikap yang Benar Terhadap Nataru (Natal dan Tahun Baru)

 

Oleh Hannan Majid Purwokerto, Takhasus

 

Setiap muslim haruslah tahu, bahwa hari raya Islam hanya ada tiga; Idul Fitri, Idul Adha, dan hari Jumat. Itulah tiga hari raya bagi seorang muslim yang boleh bagi mereka untuk merayakannya. Adapun selainnya, maka itu bukanlah hari raya mereka, dia tidak boleh merayakan dan meramaikannya. Seperti inilah sikap muslim yang benar terhadap perayaan Nataru (Natal dan Tahun Baru).

 

Kenapa Tidak Ikut?

Saudara-saudaraku seiman rahimanii wa rahimakumullah

Seorang muslim tidak akan mau merayakan hari raya yang padanya Allah Taala disekutukan. Seorang muslim yang memiliki kecemburuan tinggi tidak akan mengikuti hari raya tersebut.

Bagaimana mungkin seorang muslim mau merayakan hari raya yang padanya Allah dimaksiati dengan kemakasiatan terbesar. Kemaksiatan yang hampir-hampir langit itu pecah, bumi terbelah, dan gunung itu runtuh karenanya. Allah Taala menggambarkan tentang hal tersebut dalam salah satu ayat-Nya,

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا. أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا. وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, serta gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Rabb Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 90-92)

 

Lihatlah! Bagaimana langit, salah satu makhluk Allah yang besar itu hampir pecah karena mendengar pernyataan kufur yang menjadi keyakinan orang-orang Nashara tersebut. Gunung pun hampir runtuh dan meletus, bumi juga hampir membelah karenanya. Lalu, bagaimana mungkin seorang muslim yang benar keislamannya tidak merasa cemburu pada agamanya tatkala menyaksikan itu semua?! Sungguh aneh, wal ‘iyadzubillah.

Demikian pula, perayaan tahun baru merupakan salah satu hari raya yang dimunculkan oleh musuh-musuh Islam sejak zaman dahulu. Lalu pantaskah bagi seorang muslim merayakannya?!


Baca Juga: Mereka Tidak Menyalib Nabi Isa al-Masih ‘alaihissalam


Lalu, Apa Sikap yang Benar Terhadap Nataru?

Maka sikap yang benar tatkala seorang muslim melihat saudara-sauadaranya seiman ikut merayakan acara Nataru (Natal dan Tahun Baru) tersebut, ia akan berusaha menasihatinya dengan cara yang terbaik dan penuh hikmah, dengan harapan ia mau kembali dan tidak ikut merayakannya. Demikianlah seorang mukmin sejati yang selalu mengingatkan saudaranya tatkala salah, tidak membiarkannya terus dalam kesalahan.

Dia tak ingin saudaranya terjauh dalam keharaman dan kemaksiatan, sehingga ia berusaha menyelamatkan saudaranya.

 

Akhir Kata dan Doa

Itulah sekelumit tentang sikap yang benar seorang muslim terhadap parayaan-perayaan kuffar semisal Nataru, yaitu menghindar dan meninggalkannya. Demikian pula tatkala melihat saudaranya ikut merayakannya, maka ia menasihatinya untuk meninggalkannya.

 

Semoga Allah Taala selalu menjaga negeri ini dari segala yang mendatangkan kemurkaan dan azab Allah Subhanahu wa Taala.

Semoga Allah Taala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada segenap kaum muslimin di negeri ini untuk kembali kepada agama yang benar dan lurus, yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Juga, semoga Allah Taala selalu menjaga pemerintah negeri ini dari segala kejelekan orang-orang yang tak mencintai dan menaatinya. Amiin… Allahumma amiin…

Wa shalllallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.


Artikel Kami: Hukum Mengucapkan Selamat Natal Atau Ikut Merayakannya


 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.