Takwa, di Antara Sebab Mendapat Ilmu

 

Oleh Ahmad Muhandis Aceh, Takmili

 

Sebab-sebab yang menolong seseorang dalam menuntut ilmu banyak sekali, di antaranya adalah takwa.

Takwa adalah wasiat Allah untuk umuat-umat terdahulu dan sekarang dari kalangan hamba-hamba-Nya. Allah Taala berfirman:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا.

“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. AN-Nisa’: 131)

 

Demikian pula ia merupakan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk umatnya. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah pada haji wada’, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Rabb kalian, salatlah lima waktu, puasalah kalian pada bulan Ramadan, tunaikanlah zakat dari harta kalian dan taatilah pemerintah kalian, niscaya kalian akan masuk surga milik Rabb kalian.” (HR. at-Tirmidzi no. 616)

Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika hendak mengutus pemimpin dalam suatu pasukan sariyyah, beliau mewasiatkan kepadanya dan yang bersamanya dari kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah Taala.

Para salaf dahulu juga senantiasa berwasiat untuk bertakwa di berbagai khotbah dan karya tulis mereka serta dalam wasiat ketika ajal akan menjemput.

 

Beberapa Contoh dari Para Salaf

Umar bin al-Khathab radhiyallahu ‘anhu menulis surat untuk anaknya Abdullah:

Amma ba’du: Sesungguhnya aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bahwasannya siapa saja yang bertakwa maka Allah akan melindunginya. Siapa saja yang memberikan pinjaman kepada Allah maka Allah akan membalasnya. Dan barangsiapa yang bersyukur maka Allah tambahkan untuknya.”

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berwasiat kepada seseorang, ia berkata: “Aku wasiatkan engkau untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang engkau pasti akan berjumpa dengan-Nya. Yang mana tidak ada tempat terakhir bagimu selain-Nya, dan Dialah penguasa dunia dan akhirat.”

 

Demikian pula, ada seorang saleh menulis surat untuk saudaranya di jalan Allah Taala:

Amma ba’du: Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah yang engkau bermunajat kepada-Nya di kala engkau sedang kesepian dan yang mengawasimu di saat engkau bersama orang lain. Jadikanlah Allah selalu pada ingatanmu di setiap keaadaan, di malam dan di siangmu. Takutlah engkau kepada-Nya sesuai kedekatanmu dengan-Nya dan kedekatan-Nya denganmu.

Ketahuilah bahwasannya engkau dalam pengawasan-Nya, tidak akan berpindah dari kekuasaan-Nya, tidak pula dari kerajaan-Nya kepada kerajaan yang lain. Perbesarlah rasa kehati-hatianmu terhadap-Nya dan perbanyaklah rasa takutmu. Wassalam.”

 

Makna takwa adalah seorang hamba menjadikan benteng antara dirinya dan yang ia takuti. Takwa seorang hamba kepada Rabbnya adalah seorang hamba menjadikan antara dirinya dan perkara yang ia takuti berupa kemarahan dan kemurkaan Allah. Benteng yang melindunginya dari hal tersebut, dengan melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat.

 

Antara Al-Birr dan At-Taqwa

Ketahuilah bahwasannya takwa terkadang dikaitkan dengan al-Birr, dikatakan al-Birru wa at-Taqwa sebagaimana pada firman Allah Taala:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2)

Dan terkadang disebutkan secara terpisah, maka apabila dihubungkan dengan al-Birr, makna al-Birr adalah mengerjakan perintah-perintah Allah sedangkan at-Taqwa meninggalkan larangan-larangan-Nya. Namun apabila at-Taqwa disendirikan, maka maknanya menjadi sempurna. Meliputi melakasanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

 

Sungguh Allah telah menyebutkan di dalam al-Quran bahwasannya surga telah disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa. Maka orang yang bertakwa adalah penduduk surga -semoga Allah menjadikan kita semua termasuk dari mereka-.

Oleh karena itu, wajib atas setiap insan untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, melakukan perintah-perintah-Nya dan mencari pahala dari-Nya serta menempuh keselamatan dari azab-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)

 

Faedah Ayat

Di dalam ayat ini tedapat faedah berharga:

  • Pada fiman Allah Taala: يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan bagi kalian kemampuan untuk dapat membedakan kebenaran dan kebatilan, begitu pula kemudaratan dan kemanfaatan.

Termasuk furqan adalah ilmu, dengan Allah membukakan bagi seorang insan ilmu-ilmu yang tidak Ia bukakan untuk selainnya. Maka sungguh, ketakwaan dapat mendatangkan tambahan petunjuk, tambahan ilmu, dan tambahan hafalan.

Oleh karena ini disebutkan oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah, bahwasannya beliau bersenandung:

سَأَلتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفظِي فَأَرشَدَنِي إِلَى تَركِ المَعَاصِي

وَقَالَ فَاعلَم بِأَنَّ العِلمَ نُورٌ وَنُورُ الله لَا يُئتاه عَاصِي

Aku mengeluh kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku…

Maka ia membimbingku untuk meninggalkan maksiat…

            Ia berkata, “Ketahuilah sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya…

            Sementara cahaya Allah tidak akan diberikan kepada seorang yang melakukan maksiat”

 

Tidak diragukan lagi bahwa seorang insan setiap kali bertambah ilmunya, bertambah pula pengetahuannya terhadap Allah. Dan ia semakin bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang berbahaya dan mana yang bermanfaat.

Begitu pula termasuk dalam furqan, Allah bukakan kepada seorang insan pemahaman. Karena takwa adalah sebab cepatnya pemahaman. Dengan cepatnya pemahaman akan didapat darinya tambahan ilmu.

 

Contoh Nyata

Engkau mungkin melihat, dua orang yang sama-sama menghafal satu ayat dari al-Quran. Salah seorang dari mereka dapat mengeluarkan dari ayat tersebut tiga hukum dan yang lainnya dapat mengeluarkan dari ayat tersebut lebih banyak dari orang yang pertama. Itu karena pemahaman yang Allah berikan padanya.

Maka ketakwaan adalah sebab bertambahnya pemahaman, termasuk padanya firasat yang Allah berikan kepada orang yang bertakwa. Dengan firasat tersebut dia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sampai-sampai ada di antara manusia ada yang sekedar melihat seorang dengan firasatnya, dia sudah bisa tahu orang tersebut pendusta atau jujur, baik atau jelek. Terkadang dia dapat menghukumi seseorang padahal ia belum pernah bergaul dengannya dan mengenalnya sedikit pun dengan sebab firasat yanga Allah berikan padanya.

 

Faedah Lain dari Ayat

  • Pada firman Allah Taala: وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ. Terdapat faedah bahwa kejelekan-kejelekan akan terhapus dengan melakukan amalan-amalan saleh. Amalan-amalan saleh dapat menghapus amalan-amalan kejelekan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan merupakan penghapus dosa di antara keduanya selama tidak dilakukan dosa besar.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umrah ke umrah berikutnya akan menghapuskan (dosa-dosa) di antara keduanya.”

Maka penghapusan dosa adalah dengan melakukan amalan saleh. Jika seorang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan mudahkan ia untuk beramal saleh yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosanya.

 

  • Pada firman Allah Taala: وَيَغْفِرْ لَكُمْ , yaitu Allah mudahkan kalian untuk beristigfar dan taubat. Maka ini sungguh nikmat yang Allah berikan kepada seorang hamba tatkala ia mendapat kemudahan untuk beristigfar dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Akhir Kata

Semoga Allah menjadikan kita termasuk dari hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada Allah di setiap waktu dan tempat. Karena kita tentu mengharapkna berbagai keutamaan yang sangat banyak sebagaimana yang telah tersebut di atas.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.