Tulisan seorang alumni

 

Oleh Ishlah Lahamido Palu 

 

Berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranan-Nya itulah kewaiban kita. Suatu yang acap kali terdengar bahwa pertemuan itu takdir dan berpisah itu pasti. Begitulah persaudaraan, kita yang hidup di dunia ini tidak ada yang kekal, semua pasti lenyap tak ada daya.

 

Bersyukur belajar di pondok

Hanyalah ibadah, doa, dan harapan, aku panjatkan hatiku tuk  meraih kebahagian. Suatu hal yang menakjubkan dalam hidupku bahwa aku bisa belajar di Ma’had ini. Berbagai kasih sayang dan budi pekerti asaatizah banyak sekali aku dapatkan. Milik Allahlah segala keutamaan dan hanya Allah yang telah mengaruniakan sesuai kehendak-Nya.

Asatidzah selalu mengingatkan kami para santri untuk bersikap tawadhu dan rendah hati, berhati pemaaf dan lemah lembut. Dengan kasih sayang, mereka mengajari kami berbagai ilmu agama.

 

Kebaikan pondok

Merekapun tak memperdulikan kondisi kami yang tergolong kurang mampu, namun di kala kami semangat dalam menuntut ilmu, membuat mereka bahagia dan menasehati kami untuk selalu belajar dan belajar tak perlu memikirkan biaya pondok. InsyaAllah ada rezeki kalau kita jujur dalam menimba ilmu, karena pasti ada jalan keluar.

MasyaAllah, perangai mulia mengalir dari asatidzah. Kami yang tergolong kurang mampu, menjadi terpacu dan  kembali membara dalam tholabul ilmi. Di samping itu, kami membutuhkan kitab-kitab untuk menunjang belajar kami, lagi-lagi asatidzah memberikan bantuan dengan menyediakan berbagai kitab-kitab yang bisa ditunda pembayarannya. MasyaAllah.

 

Belajar kurang lebih selama 10 tahun

Banyak pengalaman dan pembelajaran aku dapatkan. Asatidzah adalah orang yang peduli kepada kami, mereka juga memerhatikan perkembangan kepedulian kami. Kami diberikan kesempatan untuk PKL ke beberapa tempat di belahan daerah pelosok. Bahkan lebih dari itu, kami di persilahkan untuk berta’awun di Ma’had sendiri. MasyaAllah

Berbagai ilmu kami serap dari mereka. Tanpa mengenal lelah, mereka rela berjuang untuk memupuk generasi yang bertakwa dan menjadi pembela Islam. Menjadi generasi yang pantang mundur, tak cengeng dan tak mudah menyerah. Demi Allah, pujian dan keutamaan hanya milik Allah. Begitulah yang aku rasakan selama hampir sepuluh tahun di pondok Jember. Jazakumullahu khairan.

 

Tidak diajarkan taklid dan bangga diri

Kami selalu diajarkan untuk bersikap tawadhu’ dan tidak fanatik dengan almamater tertentu. Kami dilarang ber-‘ashobiyyah kecuali kepada ilmu dan kebenaran. Selalu kami diwanti-wanti untuk tidak boleh taklid, bahkan jikalau ustadzpun salah, maka wajib bagi kami untuk menasehati dengan tuntunan adab yang telah di ajarkan. MasyaAllah, benar-benar aku rasakan keajaiban pada pendidikan ini. Semua karena Allah semata.

 

Sarana penunjang belajar

Pondok juga menyiapkan fasilitas penunjang belajar kami, ada koperasi, UKS,  kantor pelayanan informasi, ruang berkarya, latihan design, dan masih banyak lagi. Aku tidak berniat bangga diri menyampaikan ini, namun aku hanya ingin mengamalkan firman Allah:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan tentang nikmat Rabbmu, maka sebut-sebutlah.” (QS. adh-Dhuha: 11)

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses