Berkawan dan Saling Mengingatkan Karena Allah Termasuk Ketaatan yang Paling Utama

 

Oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu Ta’ala.

 

Segala puji bagi Allah Jalla wa ‘Ala Rabb semesta alam. Akhir yang baik hanyalah untuk orang yang bertakwa. Selawat dan salam semoga tercurah kepada hamba Allah, Rasul-Nya, manusia pilihan-Nya, orang yang dipercaya menerima wahyu-Nya, yaitu; Nabi kita sekaligus pemimpin kita Muhammad bin Abdillah, juga kepada keluarga beliau, sahabat dan orang-orang yang menempuh jalan beliau serta mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari kiamat.

 

Amalan Yang Mendekatkan Diri Kepada Allah Taala

Sesungguhnya mengingatkan tentang keagungan Allah dan saling bersaudara karena-Nya adalah bentuk taqarrub (pendekatan diri) yang terpenting, dan ketaatan yang paling utama. Inilah bentuk saling menasehati dan saling gotong-royong di atas kebaikan dan takwa. Ini juga merupakan bentuk saling mewasiati di atas kebenaran yang telah Allah puji para pelakunya, serta Allah beritakan bahwa mereka adalah orang-orang yang sukses. Allah Taala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Tolong menolonglah dalam hal kebajikan dan takwa dan jangan kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)

 

وَالْعَصْرِ*إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ*إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling mewasiati dalam kebenaran dan saling mewasiati dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

 

4 Wasiat Dari Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan wasiat di ayat yang pertama tentang ta’awun (tolong-menolong) dalam kebajikan dan takwa. Maka masuk di dalam ayat ini nasehat, mengarahkan orang lain kepada kebaikan, amar makruf nahi mungkar (memerintahkan kepada kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran), birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) dan perkara lain yang bermanfaat bagi hamba di dunia maupun di akhirat.

Dalam ayat ini Allah Taala juga melarang dari saling menolong dalam perkara dosa dan permusuhan. Maka masuk di dalamnya; bergotong-royong dalam seluruh perkara yang dimurkai Allah Taala. Seperti ta’awun di atas kemaksiatan, semisal barang yang memabukkan, menzalimi orang lain, dan semua hal yang masuk dalam kategori tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.

 

Maka tidak boleh bagi lelaki muslim atau wanita muslimah untuk membantu orang lain dalam mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, sepantasnya bagi seorang mukmin baik pria maupun wanita untuk tidak berlambat-lambat dari bergotong-royong dalam hal yang baik dan mengandung ketakwaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengabarkan di dalam surat al-Ashr, bahwasannya di antara ciri-ciri orang yang sukses, bahagia lagi selamat, adalah beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling mewasiati dengan kebenaran dan kesabaran.

Inilah sifat orang-orang yang sukses, ini juga tanda-tanda orang yang selamat; Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan yang jujur. Kemudian mengerjakan amal saleh, inilah buah dari keimanan (yang jujur) dan konsekuensinya. Yaitu; menunaikan kewajiban yang Allah perintahkan dan menahan diri dari hal-hal yang Allah Taala haramkan. Juga bergegas dalam segala kebaikan serta terus menambah berbagai bentuk taqarrub kepada Allah Azza wa Jalla.

 

Perkara yang ketiga adalah saling berwasiat dengan al-haq. Maka masuk di dalamnya saling menasehati, amar makruf nahi mungkar, dan segala macam kebaikan.

Perkara yang yang keempat adalah saling wasiat-mewasiati dalam hal kesabaran. Sesungguhnya perkara-perkara yang penting tidak akan tercapai kecuali karena Allah -yang pertama-, kemudian karena kesabaran. Oleh karena itu Allah mengabarkan tentang karekteristik orang-orang yang sukses adalah mereka saling berwasiat dengan kesabaran.

 

Inilah 4 Unsur Kebahagiaan

Empat unsur ini adalah sebab-sebab mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan. Empat hal ini apabila terkumpul pada sebuah masyarakat tertentu, maka ia akan menjadi masyarakat yang baik, baik prianya maupun wanitanya.

Setiap komunitas yang terpenuhi padanya empat perkara ini, yaitu; Iman yang jujur kepada Allah dan Rasul-Nya. Iman yang mengandung pengesaan Allah, yang mengandung keimanan kepada para Rasul seluruhnya, termasuk penutup para Rasul dan yang paling mulianya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun dasar yang kedua yaitu amal saleh. Dengan menunaikan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang haram serta bergegas dalam segala kebaikan.

Adapun dasar yang ketiga adalah saling mewasiati dalam kebenaran, berta’awun di atas kebaikan dan saling menasehati. Adapun unsur yang keempat adalah saling mewasiati dalam kesabaran.

 

Kewajiban Seorang yang Beriman

Kewajiban seorang yang beriman adalah untuk memiliki perhatian serius terhadap dasar-dasar ini dan bersemangat dalam melaksanakannya. Terlebih di zaman yang telah banyak bermunculan berbagai kejelekan, dan di zaman yang mana kebodohan telah mengalahkan perkara-perkara agama serta mulai sedikitnya ilmu.

Wajib atas setiap mukmin dan mukminah selalu bergotong-royong dalam kebaikan dan takwa. Terlebih di zaman ini yang tidak tersamarkan lagi keadaannya dan tidak tertutup lagi hal-hal di dalamnya sebab-sebab kebinasaan. Juga perkara-perkara yang terjadi padanya berupa tercampurnya kekafiran dan kefasikan. Begitu pula bermewah-mewahan dan berevolusinya keadaan pada berbagai hal.

Seorang mukmin dan mukminah sangat butuh kepada adanya saling wasiat mewasiati dengan kebenaran, saling menasehati, ta’awun di atas kebaikan dan bersabar atas hal itu. Seorang mukmin selalu menasehati saudaranya jika ia melihat kekurangan padanya. Begitu juga wanita mukminah, ia senantiasa menasehati saudara dan saudarinya fillah (karena Allah). Baik itu suaminya, ayahnya, putra-putrinya, saudarinya, nenek dan ibunya serta orang-orang selain mereka.

 

Ia menasehati mereka dalam segala hal, baik dalam perkara salat, puasa, haji, birrul walidain, dalam hal menahan diri dari larangan-larangan Allah, menyambung silaturrahmi dan yang lainnya.

Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka saling menasehati dan mewasiati dengan kebenaran. Jika mereka lalai dari perkara ini, menyia-nyiakannya, maka akan muncul di tengah-tengah mereka berbagai kemungkaran, akan semakin sedikit kebaikan dan akan tersebar segala macam hal-hal rendahan.

 

Perilakunya Kaum Mukminin dan Mukminat

Di antara yang tercantum dalam kitabullah yang mulia yang berkaitan dengan perkara agung ini adalah perkataan Allah Taala:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (untuk mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

 

Inilah ciri-ciri kaum mukminin dan mukminat, inilah perangai mereka, sebagian mereka adalah pembela bagi sebagian yang lain. Tidak ada rasa dengki, hasad, tidak ada penipuan dan khianat, tidak ada saling menyandangkan gelar buruk bagi saudaranya, dan perkara-perkara lainnya yang akan menyakiti kawannya dan menyebabkan permusuhan dan perpecahan.

Bahkan, mereka saling berloyal dan mencinta karena Allah Azza wa Jalla, mereka saling menasehati dan berwasiat dengan berbagai amal kebajikan. Oleh karena itu, mereka selalu menegakkan amar makruf nahi mungkar di antara mereka, demikianlah kaum mukminin dan mukminat.

Dengan ini, akan baik komunitas dan keadaan mereka. kemudian bersama dengan itu, mereka juga menegakkan salat sesuai yang disyariatkan oleh Alla Azza wa Jalla. Dengan thuma’ninah dan khusyuk, dengan menetapinya dan menjaga amal ini pada waktu-waktunya, menunaikan syarat, rukun dan kewajiban yang telah ditetapkan padanya. Yakni, salat ini ditegakkan sebagaimana yang Allah syariatkan. Mereka menegakkannya sesuai yang Allah syariatkan pada setiap waktunya.

 

Dan mereka menunaikan zakat serta menyerahkannya kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya sesuai yang diperintahkan oleh Allah Taala. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. At-Taubah: 71)

Di antara sifat orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan adalah menaati Allah Jalla wa ‘Ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala urusan. Inilah sebab untuk mendapatkan kebahagiaan dan jalan keselamatan.

 

Inilah yang saya wasiatkan diri saya pribadi dan kalian semua. Yaitu; takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, merealisasikan perkara-perkara ini, mentadaburinya dan berfikir tentangnya. Sebagaimana juga saya wasiatkan kalian dengan kitabullah Azza wa Jalla al-Quranul-Karim agar kalian mentadaburinya, berusaha memahami makna-maknanya, memperbanyak membacanya dan beramal dengan kandungan yang ada padanya.

Al-Quran adalah kitabullah yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya. Yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Kitabullah yang telah Allah katakan tentangnya:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)

 

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)

 

Nasehat Mahal

Maka saya wasiatkan kepada kalian untuk berpegangan dengan kitabullah yang mulia ini dengan membacanya, mentadaburinya, memahami maknanya dan beramal dengannya. Yang dapat membaca dari lubuk hati yang dalam, maka hendaknya dia memuji Allah Jalla wa ‘Ala. Dia membacanya dari lubuk hati bagaimanapun caranya, baik dengan berbaring, duduk maupun jalan.

Dan yang membutuhkan mushaf, hendaknya dia membacanya dalam keadaan suci, dengan penuh penghayatan dan berusaha meresapi maknanya. Di dalam al-Quran itu terdapat petunjuk dan cahaya ilmu. Di dalamnya juga terkandung ajakan kepada berbagai kebaikan; ajakan kepada perilaku mulia dan amal kebajikan. Di dalam al-Quran terdapat peringatan dari perangai jelek dan amal yang buruk.

 

Begitu juga, saya wasiatkan kepada kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan bersemangat untuk menyetorkan hadits antar kalian. Baik itu dari Riyadhush-Shalihin, Bulughul-Maram, Muntaqal-Akhbar atau kitab-kitab hadits lainnya yang terkenal, seperti Shahihain dan sunan yang empat.

Kami menasehatkan kepada setiap muslim dan muslimah di seluruh jagat raya ini dengan nasehat ini. Karena hadits-hadits Nabi ‘alaihish shalatu was salam mengajak kepada petunjuk. Semua hadits Nabi itu sebagai penjelas dari al-Quran dan penjelas makna al-Quran. Orang yang membaca dan menelaah kitab-kitab hadits maka dia akan mendapat berbagai faedah. Termasuk kitab yang paling bagus untuk dibaca adalah Riyadhus Shalihin, ini adalah kitab yang bagus. Kemudian Bulughul maram, Muntaqal Akhbar dan Umdatul hadits, ini adalah kitab-kitab yang bagus, mengandung banyak faedah lagi agung.

Kalau dia tidak bisa membaca, maka bisa juga dengan dibacakan oleh putrinya atau saudarinya, putranya atau saudara laki-lakinya dalam beberapa majelis secara berurutan, di waktu-waktu tertentu, agar meraup banyak faedah. Juga sebagai bentuk berta’awun di atas kebaikan dan mempelajari ilmu agama.

 

Penutup

Saya meminta kepada Allah Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang baik agar memberi taufik kepada kami dan kalian semua kepada perkara yang baik, agar menganugerahkan kepada kita pemahaman yang benar terhadap agama ini dan kekokohan di atasnya, agar menambahkan bagi kami dan kalian semua ilmu yang bermanfaat dan amalan saleh.

 

Referensi: Majmu’ Fatawa wa Maqalat Syaikh Bin Baz 4/105

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.