Bersabar, Bersyukur, dan Memuji Allah

Oleh Musa Jember, Takhasus

Sobat… jauh dari negeri Barat, ada sebuah petuah yang populer di kalangan mereka. Petuah itu berbunyi, “The great man in the great place.” Ternyata, di seberang bumi yang lain, di bagian timur, tepatnya di Timur Tengah, ada pepatah Arab yang serupa. Pepatah yang mengatakan,

“عظم القدرة لعظم المسؤولية”.

Keduanya memiliki makna yang mirip. Terjemah sederhananya, “Orang besar memiliki tanggung jawab yang besar pula.”

Begitu, sobat… orang besar memiliki tanggung jawab yang besar. Manusia yang hebat hidup dengan beban yang berat. Sehingga semakin banyak cobaan kita, itu menjadi bukti bahwa Allah hendak meningkatkan ketakwaan kita. Lalu, jika bertambah ketakwaan kita, kelak akan ada tempat khusus di sisi-Nya.

Sobat … Rasulullah adalah manusia terbaik. Bahkan beliau adalah nabi dan rasul termulia. Beliau menjadi Khalilullah sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun, semua gelar dan predikat kemuliaan tersebut tidak melepaskan beliau dari ujian dan cobaan Allah. Sebab, ujian dan cobaan adalah bentuk kecintaan dan pemuliaan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

أشد الناس بلاءً: الأنبياء ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang setelah mereka, lalu orang-orang setelahnya.” (HR. an-Nasaai dalam Sunan Kubra no. 7454, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’).

Seorang pendeta yang masih mengikuti ajaran Nabi Ibrahim, yaitu Waraqah bin Naufal, sempat mewanti-wanti Rasulullah ﷺ,
“Seandainya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu.”

“Apakah kaumku akan mengusirku?” tanya Rasulullah dengan heran.

“Tidaklah seseorang datang membawa seperti apa yang engkau bawa, kecuali ia akan diusir,” jelas Waraqah.

Pengusiran itulah salah satu ujian dari berbagai ujian para nabi, ujian yang datang karena keimanan yang tertancap kokoh di hati.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja dengan mengatakan, ‘Kami beriman,’ sementara mereka tidak diuji?”

Maka, tidak ada solusi dalam menghadapi ujian dan cobaan kecuali dengan berdoa kepada Allah serta menghadapinya di atas bimbingan Rasulullah ﷺ.

Jauh di masa tabi’in, saat seorang pengawas tengah berpatroli, ia terkejut melihat sebuah kemah sederhana yang berdiri sendirian. Ia masuk ke dalam kemah tersebut. Sontak ia lebih terkejut lagi karena di dalamnya ada seorang yang terbaring lemah. Seorang yang telah lumpuh seluruh anggota badannya, kecuali mulut, telinga, dan hatinya, yang terus melantunkan zikir dan pujian kepada Allah.

Si penghuni kemah yang menyadari ada seseorang datang lalu bertanya dan meminta tolong untuk mencari anaknya yang hilang. Anaknyalah yang selama ini membantu dan merawatnya. Maka si pengawas pun mencari anak tersebut dan mendapati ia terbaring wafat di tengah gurun.

Si pengawas kembali ke kemah. Demi menghibur si penghuni sebelum mengabarkan perihal anaknya, ia menceritakan kisah Nabi Allah Ayyub ‘alaihis salam dengan sekian ujian Allah yang begitu berat, jika ditimpakan kepada kita.

Si pengawas mengisahkan cobaan Nabi Ayyub yang diawali dengan penyakit kulit hingga sekujur tubuh beliau mengelupas, ditambah kelumpuhan yang beliau alami. Belum lagi beliau kehilangan seluruh perbendaharaannya, sehingga ditinggalkan oleh semua kerabat dan sanak familinya. Hanya istrinya yang setia mendampingi, membantu, dan merawatnya. Padahal dahulu Nabi Ayyub adalah seorang yang tampan, gagah, kaya, dan memiliki harta serta keluarga yang berlimpah.

Si pengawas terus bercerita dan bertanya kepada si penghuni kemah,
“Lalu, apa yang Nabi Ayyub lakukan ketika beliau ditimpa ujian tersebut?”

Si penghuni menjawab,
“Beliau bersabar, bersyukur, dan memuji Allah.”

Si pengawas terus mengulang pertanyaan itu di sela ceritanya, dan si penghuni kemah selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Hingga pada akhirnya, si pengawas mengabarkan perihal anaknya.

Si penghuni kemah pun berkata,
“Segala puji bagi Allah yang telah memberikanku keturunan yang saleh dan tidak bermaksiat kepada-Nya.”

Ia lalu mengembuskan napas terakhir dan wafat. Beliau bernama Abu Qilabah al-Jarmi.

Sobat… pesan bagi kita dari kisah di atas adalah hendaknya apa yang kita lakukan ketika ditimpa ujian dan cobaan sebagaimana ucapan Abu Qilabah al-Jarmi:

“Bersabar, bersyukur, dan memuji Allah.”

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses