Binasa, Gara-Gara Lisan Tak Dijaga

 

 

Naufal Amir Jember, Takhasus

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan selainnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ سبعين خريفا

“Sesungguhnya, bisa jadi seorang mengucapkan suatu ucapan yang ia menganggapnya biasa-biasa saja, ternyata dengan sebab itu ia terjatuh ke dalam an-Nar sedalam jarak 70 tahun.” (HR. Ibnu Hibban 5706)

Ya, itulah lisan, ia sangat mudah menjatuhkan seseorang ke dalam perkara-perkara yang Allah haramkan. Serta dapat membahayakan keselamatan dirinya di dunia ini maupun di akherat kelak. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan:

مَا شَيْءٌ أَحَقَّ بِطُولِ سِجْنٍ مِنَ اللِّسَانِ

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih pantas untuk senantiasa dipenjara dibandingkan lisan.” (Ash-Shamtu, karya Ibnu Abid Dunya)

 

Dengan lisan, seorang hamba bisa menjadi kafir. Dan dengannya pula ia bisa menjadi fasik. Oleh karena itu jagalah lisanmu dari perkara-perkara yang akan menyebabkan engkau terjerumus ke dalam kebinasaan, janganlah engkau lalai dari hal ini. Bayangkan bahaya itu di depan kedua matamu agar engkau selamat.

 

Menjaga Lisan, Butuh Perjuangan

Sesungguhnya lisan sangat cepat menjadikanmu binasa, dengan sebab suatu keharaman yang keluar darinya. Sebagaimana kata Ibnul Mubarak rahimahullah:

تَعَاهَدْ لِسَانَكَ إِنَّ اللِّسَانَ سَرِيْعٌ إِلــــــَى المَرْءِ فِيْ قَتْــــــــــــلِهِ

“Jagalah lisanmu, karena sesungguhnya lisan itu…

          Akan cepat menjadikan seorang itu binasa…”[1]

 

Apabila lisanmu itu menjadi sebab kebinasaanmu, maka niscaya engkau akan masuk ke dalam an-Nar, kecuali apabila Allah subhanahu wa Ta’ala merahmatimu. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis riwayat at-Tirmidzi dan selainnya, bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

Bukankah manusia itu ditelungkupkan di atas wajah-wajah mereka ke dalam an-Nar melainkan karena ulah lisan-lisan mereka?!.” (HR. Ibnu Majah no. 3973)

Oleh karena itu jangan sampai kita termasuk golongan orang-orang yang akan diseret di atas wajah-wajah mereka ke dalam neraka di hari kiamat nanti karena apa yang mereka ucapkan.

 

Ketahuilah, sesungguhnya lisan bisa menjadi ladang amal kejelekanmu, dan bisa juga menjadi ladang amal-amal kebaikanmu. Bisa jadi engkau menanam padanya suatu kejelekan, yang dengannya engkau akan masuk ke dalam an-Nar –waliyadzubillah-. Dan bisa jadi pula engkau menanam padanya suatu kebaikan, sehingga engkau akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Bertakwalah engkau kepada Allah, jangan bermudah-mudahan dalam bicara. Bisa jadi apa yang keluar dari lisanmu akan menjadi sebab engkau masuk ke dalam an-Nar. Karena sesungguhnya terkadang seseorang mengucapkan suatu ucapan, ternyata dengan sebab ucapan tersebut ia binasa. Sebagaimana yang kata Imam Ibnul Jauzi rahimahullah:

وَرُبَّ كَلِمَةٍ جَرَى بِهَا اللِّسَانُ هَلَكَ بها الإِنسَانَ.

Betapa banyak kalimat yang keluar dari lisan seseorang menjadikannya binasa.” (Shaidul Khathir).

 

Renungan dan Ajakan

Maka apabila engkau hendak berbicara yang mengandung kemaksiatan kepada Allah, atau ucapan yang mengghibahi (menggunjing) saudaramu, atau yang selainnya dari penyakit-penyakit lisan, hendaknya engkau ganti hal tersebut dengan zikir kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya.

Apabila engkau memiliki lisan yang pandai bicara, maka itu adalah nikmat yang Allah berikan kepadamu. Janganlah engkau mempergunakannya untuk selain ketaatan kepada-Nya. Karena Dialah yang memberikan kepadamu kenikmatan itu, lalu apakah engkau malah menggunakan kenikmatan tersebut bermaksiat kepada Dzat yang telah memberikan kenikmatan tersebut kepadamu?

 

Wahai saudaraku janganlah engkau lepaskan tali kendali lisanmu, akhirnya engkau akan menyesal dengan penyesalan yang besar di hari ketika engkau berhadapan dengan sang Khaliq. Mereka, para salafus shalih dahulu takut dan khawatir untuk berucap dan berfatwa, padahal mereka di atas ilmu.

Maka apabila engkau ragu, apakah yang hendak kau katakan akan menimbulkan maslahat ataukah madharat, hendaknya engkau diam. Karena sesungguhnya bisa jadi penyesalanmu atas ucapanmu itu lebih besar. Bisa jadi engkau tidak menyesali diammu, justru engkau menyesali apa yang engkau katakan. Sebagaimana kata seorang penyair:

وَلَئِنْ نَدِمْتَ عَلَى سُكُوتِ مَرَّةٍ فَلَقَدْ نَدِمْتَ عَلَى الكَلاَمِ مِـــــــــــرَارًا

إِنَّ السُّــــــــــكُوتَ سَـــــــلاَمَةٌ وَلَرُبَّمَا زُرْعُ الكَـــــــــــلَامِ عَـــــداوةٌ وضـِــــــــرَاراً

“Jika engkau pernah menyesal karena diam

Maka pasti engkau lebih sering menyesal karena apa yang engkau katakan

          Sesungguhnya diam itu keselamatan, justru seringnya

          Suatu ucapan malah menimbulkan permusuhan dan kejelekan.”

 

Pesan Akhir

Namun apabila engkau melihat sesuatu yang engkau tahu bahwa itu merupakan perkara yang bertentangan dengan syariat, atau perkara yang mungkar, maka janganlah engkau diam darinya! Karena ini bukan tempatnya untuk diam. Sesungguhnya kemungkaran apabila tidak dihilangkan diingkari, maka niscaya bahayanya akan menimpa dirimu juga. Bahkan bahayanya akan menimpa banyak orang.

[1] Raudhatul Uqola’ wa Nuzhatul Fudhola’

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.