Cerita Santri Petani

 

Oleh Usamah Tuban 1A Takmili

 

Ini adalah cerita santri di unit 2 Ma’had Minhajul Atsar Jember. Ini adalah kisah nyata. Ini adalah kisah saya, yang saya alami bersama teman-teman seperjuangan. Perjuangan dalam menuntut ilmu agama, perjuangan untuk mencapai pribadi lebih dewasa, perjuangan untuk memanfaatkan masa muda, perjuangan untuk menekan ego diri dan hafsu jiwa. Ya, ini adalah cerita tentang perjuangan.

 

Belajar ilmu agama, itulah tugas mulia kami. Namun ada yang berbeda pada kami, selain ber-thalabul ilmi di masa pandemi, kami juga petani. Cerita santri bukan hanya cerita biasa, melainkan cerita yang luar biasa. Ini adalah cerita santri petani. Hehe…

 

Pada awalnya kami menanti-nanti hasil pengumuman penerimaan santri Takmili. Setelah melihat hasilnya, qadarullah ana berada di kelas 1A. Rasa senang dan sedih bercampur menjadi satu.

 

Sebab, Takmili 1A akan ditempatkan di ma’had 2, sedangkan takmili 1B tetap berada di ma’had 1. Dilema, itulah yang terus kurasa dalam raga dan jiwa ini. Sampai saat itu tak tahu apa yang harus kulakukan. Hanya doa yang selalu ku panjatkan kepada Rabb Yang Maha Kuasa.

 

Ya Rabb, Engkaulah Dzat Yang Maha Adil lagi Maha Mengetahui apa saja yang akan terjadi. Jika memang ini takdirku, maka berikanlah yang terbaik untukku dan tegarkanlah aku di manapun aku berada.

 

Waktu demi waktu terus berlalu, tepat pada hari selasa, 14 Juli 2020 M suasana menjadi sedih. Persahabatan kami, santri lulusan tahfizh, yang telah terjalin minimal tiga tahun lamanya, bersama kini harus berpisah, berpisah sementara, demi satu tujuan yang sama. Ya, menuntut ilmu agama di Program Takmili.

 

Namun, bukan berarti dengan sebab ini menjadikan semangat kami lemah dan pudar. Meski raga kami berpisah, akan tetapi semangat dan niat kami tetaplah satu. Akhirnya dengan berat hati kami pun bersiap-siap untuk pindah ke ma’had 2. Sampainya kami di sana, suasana pun mulai berbeda, bukan lagi bangunan yang kami pandang, melainkan pepohonan yang amat rindang.

 

Sawah dan kebun peninggalan kakak kelas kami, kelas 2 Takhasus. Mereka membuka ladang untuk kemudian ditanami dengan aneka macam tanaman sayur. Kami ucapkan jazakumullahukhaira kepada kakak-kakak kami yang telah berjibaku. Mereka bisa sabar. Kami pun harus bisa. Mereka berjuang, kami pun insyaallah akan demikian.

 

Hari terus silih berganti, rasa rindu kini mulai menghantui jiwa kami. Rasa ingin bertemu dengan teman-teman lama belum sempat terpenuhi. Hingga pada suatu hari, kami diberi kabar dengan hal yang cukup menyenangkan hati. Yaitu, saat Idul Adha kami akan berkunjung ke ma’had 1.

 

Singkat cerita, akhirnya kami pun berangkat ke ma’had 1. Rasa ridu kini telah terobati dan rasa senang pun mulai menghampiri. Waktu demi waktu kami habiskan untuk bersenang-senang bersama teman-teman lama kami, hingga kurang lebih selama 4 hari. Hari-hari diisi dengan taawun dan permainan. Semua itu memupuk rasa persaudaraan dan ukhuwah di antara kami. Semoga Allah menjaga ukhuwah ini.

 

Lalu kamipun kembali ke ma’had 2 untuk persiapan KBM, Sebab, di esok harinya kami harus kembali duduk bersama buku, kitab dan pena kami. Ya, untuk mendengar, menyimak, mencatat dan mengulang pelajaran demi pelajaran yang disampaikan kepada kami.

 

Berjalannya waktu, rasa jenuh mulai menghampiri. Kami dihadapkan dengan bebebrapa kendala. Hingga sempat terucap keluh-kesah dari lisan kami, “Di ma’had 2 itu kurang, fasilitasnya masih kurang, maqshaf tidak ada, airnya keruh dan lain-lainnya.” Yang ternyata tidak lama setelah itu, maqshaf sederhana disiapkan untuk kami. Dan itu sudah cukup menghibur kami.

 

Hanya saja, ada satu kalimat yang selalu terngiang di telingaku. Sebuah nasehat dari salah satu ustadz kami. Beliau berkata, “Di manapun kita berada, di manapun tempat kita belajar, jika diiringi dengan niat yang ikhlas, niscaya masalah itu akan terasa ringan.” Ya, inilah kata-kata mutiara yang selalu kuingat setiap kali masalah datang menghampiri.

 

Tapi, di balik itu semua, banyak kesenangan yang cukup menutupi rasa jenuh kami. Kegiatan yang variatif membuat kami semakin inovatif. Olahraga, berkebun, beternak, berkarya dan lain-lainnya. Itu semua telah memudarkan kejenuhan kami dan menggantinya menjadi semangat, walhamdulillah.

 

Sampai-sampai salah satu teman kami ada yang berkata, “Aku ingin di ma’had 2 ini sampai lulus.” Yang lain juga berkata, “Ya, sama. Ana juga merasa senang ma’had 2, lebih luas dan kalau bermain sampai puas. Belajar juga tetap bisa. Ada permainan bola voli, ping pong, badminton, sepak bola, dll. Dan yang lebih penting dari itu, pengalaman bertani dan berkebun yang kita dapatkan.”

 

Mungkin benar, pada awalnya kami merasa berat hati, bahkan tidak suka kalau dipindah ke mahad 2. Tapi, akhirnya kesenangan yang luar biasa kami dapati di masa pandemi ini. Persis seperti firman Allah dalam kitab-Nya yang mulia,

 

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

 

Wahai sadaraku, masalah apapun yang sedang menimpa kalian, janganlah mudah berkeluh kesah. Jalani masalah tersebut dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Yakinlah bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

 

Yakin pula bahwa kalian dapat melewati masalah ini, dengan senantiasa meminta tolong kepada Allah. Mantapkanlah hati-hati kalian dan bertawakallah kepada-Nya. Dekatkan dirimu kepada Allah. Dialah yang maha kuasa, Dia yang memberikan jalan keluar dari setiap masalah. Jika Anda meminta maka mintalah kepada Dzat yang maha kuasa.

 

Salam semangat dariku Usamah Tuban, untuk abahku, untuk teman-temanku dan untuk ikhwah yang lebih berpengalaman dariku.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.