DEMAM PKL-PD2M RIHLAH PUN BISA MENJADI SARANA DAKWAH

 

Gambar. Salah satu rumah warga sekitar pantai Nanggelan

Masih teringat jelas di benak kami (santri kelas 1 Madrsasah Tsanawiyah, Ma’had Minhajul Atsar Jember) saat-saat dimana kakak kelas kami begitu sibuk dan seriusnya melakukan persiapan dakwah yang terbingkai rapi dalam program PKL-PD2M (Praktek Kerja Lapangan-Program Dakwah Di Masyarakat).

Hari-hari menuju tanggal 6 Januari 2017. Layaknya pasukan yang hendak berjihad, kala itu nampak sekali pada raut muka mereka keseriusan dan kesungguhan mempersiapkan program dakwahnya. Ternyata semangat juang mereka merambat masuk dalam jiwa kami. Seakan-akan tangan dan kaki ini bergetar, ingin melakukan perjuangan yang sama seperti mereka. Namun, masa belajar yang masih seumur jagung menyadarkan kami bahwa merekalah yang lebih pantas mengemban amanah besar ini.

Tak bisa dipungkiri dan tak bisa dibendung. PD2M bagaikan demam, seluruh tubuh menggigil dibuatnya, seolah-olah hanya tindakan nyata dalam dakwah yang mampu meredakannya. Alhasil, kegiatan rihlah di sela-sela masa rihat selepas ujian semester awal, kami hiasi dengan hiasan dakwah untuk setidaknya meredakan demam PD2M itu.

Rihlah santri kelas 1 kali ini diadakan di pantai Naggelan yang berada di Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember. Rihlah kali ini sedikit berbeda dengan biasanya lantaran kami sisipkan nilai dakwah di dalamnya. Ya…. pada  kesempatan rihlah kali ini, kami mencoba mendekatkan diri dengan masyarakat sekitar pantai Nanggelan melalui peningkatan tegur sapa sambil memberikan bingkisan kecil untuk mereka, tahap awal dalam upaya mengenalkan sunnah.

Pantai Nanggelan yang masih masuk dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri beigitu indah menawan hati, pasir yang berwarna coklat muda dengan bebatuan yang tersusun rapi berkolaborasi mengelokkan pantai yang begitu luas nan anggun itu, matapun begitu termanjakan olehnya. Sungguh pemandangan yang berbeda ketika melihat pemukiman masyarakat sekitar yang begitu memprihatinkan dan membuat hati ini tergerus. Pemukiman yang dihuni sekitar 60-70 KK itu, mayoritasnya menggunakan kayu bengkok sebagai tiangnya, bilik bambu sebagai temboknya, dan tanah sebagai lantainya. Rumah-rumah itu berdiri tak tegak di atas tanah milik PTPN.

3 hari 2 malam kami habiskan waktu mentadabburi anggunnya ciptaan Allah subhanahu wata’ala di sana. Waktu pulang pun tiba. Tak lupa kami sempatkan untuk berbagi sedikit rezeki kepada masyarakat sekitar, saudara-saudara semuslim yang butuh uluran tangan kita. Tim pembagi bingkisan langsung bergerak maju mendahului rombongan yang berjumlah sekitar 45 orang.

Setidaknya sekitar hampir 40 bingkisan kami sebarkan. Kami hampiri beberapa pekerja yang mengangkut sejumlah tumpukan bambu dari pantai menuju rumahnya, beban yang amat berat mengingat medan yang mereka lalui begitu jauh dan menanjak, kami yang tak membawa beban seberat itu saja merasa sangat kelelahan. Walhamdulillah mudah-mudahan bingkisan yang kami berikan menjadi tambahan semangat mereka untuk beranjak pulang menemui keluarganya.

Beda halnya dengan ibu-ibu yang kami temui di halaman depan rumahnya, ketika kami sodorkan bingkisan yang berisi sebuah potongan baju dan beberapa mie instan, ibu itu terdiam terpaku, tak segera menyambut bingkisan kami. Heran kami dibuatnya. Salah seorang dari kami berkata “ibu, ini ada sedikit hadiah dari kami”, tetap saja ibu itu terdiam, kami berkata lagi “ibu, ini sedikit hadiah dari kami, diterima bu ya…., ini gratis” mendengar kata “gratis” barulah ibu paruh baya itu menerima hadiah kami dengan mata yang berkaca-kaca seakan tak percaya masih ada orang di zaman ini yang mau mengulurkan sedikit tangannya untuk berbagi nikmat. Dimana kalian selama ini wahai kaum muslimin??

Lain lagi dengan seorang nenek yang menangis haru menerima bingkisan kami. Pemberian bingkisan membuat nenek itu merasa dekat dengan kami, sampai-sampai, salah satu teman kami dianggap cucunya sendiri. Sungguh benar sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil no. 1601)

Pelajaran berharga kali ini yang kita dapatkan, yaitu ilmu terapan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam تهادوا تحابوا. Tak hayal rombongan yang berjalan di belakang tim penebar bingkisan mendapatkan buahnya, setiap kali melewati pemukiman, kami selalu disambut dengan ramah sekali dan diajak mampir ke rumahnya untuk sejenak meminum teh dan yang semisalnya.

Itulah sedikit cerita dari kami, ternyata berdakwah itu luas, bisa kita lakukan dengan banyak cara, tak terkecuali dakwah yang kita selipkan dalam kegiatan rihlah kali ini.

Mari lakukan sesuatu untuk dakwah ini.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.