Dua Rakaat Setara dengan Haji dan Umrah

 

Oleh Abu Ridhwan Fakhri Hadi Jember, Takhasus

 

Shalat merupakan amalan yang paling agung setelah dua kalimat syahadat. Terdapat dan terkandung padanya keutamaan yang berbeda-beda pada setiap macamnya, sesuai kehendak peletak syariat agama yang mulia ini.

Salah satu macamnyanya adalah shalat isyraq atau syuruq. Seandainya salah satu dari kita mengetahui keutamaannya pasti ingin mengetahui bagaimana cara untuk meraihnya. Apa saja ketentuan agar bisa mendapatkannya?

 

Pengertian Shalat Isyraq

Isyraq atau syuruq secara bahasa adalah terbit atau bersinar. Adapun secara istilah syariat shalat isyraq ialah shalat yang dilakukan ketika terbitnya matahari.

 

Ketentuan Pelaksanaan dan Syarat-Syaratnya

Inti dari pembahasan ini adalah sebuah hadis dalam riwayat Imam at-Tirmidzi, dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ

“Siapa saja yang menghadiri shalat shubuh berjamaah lalu tetap duduk di masjid, berzikir hingga terbit matahari kemudian shalat dua rakat maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna.” (Hadis Hasan Shahih)

 

Dari hadis di atas terkandung berapa syarat untuk meraih keutamaannya yaitu:

  1. Shubuh berjamaah bersama imam, berdasarkan potongan hadis, “Menghadiri shalat shubuh berjamaah.” Jika seorang luput dari shalat shubuh bersama imam, maka ia luput dari shalat tersebut.
  2. Tetap duduk, jika telah berhasil syarat pertama kemudian ia tidur, maka ia pun luput dari shalat tersebut.
  3. Berzikir kepada Allah, bisa dengan membaca Al-Quran, zikir pagi, menghadiri majlis taklim, dan tidak ngobrol atau melakukan hal yang sia-sia lainnya.
  4. Tetap di tempat tersebut dan tidak keluar kecuali keperluan yang mengharuskannya untuk keluar seperti buang hajat (karena buang hajat meruapakan sebab shalat seorang menjadi khusyuk dan sempurna). Jika ia shalat di suatu tempat, maka ia tetap di tempat tersebut walaupun bukan di masjid.

 

Jika terpenuhi syarat di atas, keutamaan shalat isyraq bisa didapatkan. Tidak bisa sekedar berniat mendapatkannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, karena hadis tersebut menunjukkan konteks syarat yaitu kata “من” (siapa saja), pada awal hadis.

 

Waktu Pelaksanaan

Waktu setelah shubuh terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

  1. Setelah shalat shubuh, pada waktu ini tidak boleh untuk shalat sunnah sampai terbit matahari berdasarkan hadis, “Tidak ada shalat setelah fajar hingga matahari terbit.(HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Ketika tengah terbitnya matahari. Ketika itulah matahari terbit antara dua tanduk setan dan orang kafir bersujud, oleh karena itu tidak boleh shalat padanya.
  3. Setelah terbitnya matahari, ketika jelas sinar mataharinya dan matahari benar-benar terbit sekitar 10 menit atau 15 menit setelahnya, ketika itulah waktu shalat isyraq berlaku sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama seperti Syaikh Utsaimin di dalam kitabnya Syarhul Mumti’, hal ini bertujuan untuk mengambil kehati-hatian dalam menentukan waktu tersebut agar tidak masuk waktu terlarang. Allahu a’lam.

 

Penutup

Semangatlah bagi siapa yang yakin terhadap pahala dan keutamaan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam janjikan dari ibadah shalat tersebut. Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Aamin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.