Enam syarat puasa

 

Oleh Aufa Sunda Takhasus

 

Pembaca yang semoga Allah rahmati, kewajiban puasa Ramadhan bukan hal yang samar bagi kaum muslimin. Namun siapakah yang wajib menjalankan kewajiban tersebut? Adakah syarat tertentu sehingga seorang wajib melaksanakan puasa Ramadhan?

Para ulama telah menyimpulkan syarat seorang wajib puasa Ramadhan. Syarat wajib puasa Ramadhan yang harus dipenuhi ada enam.

  1. Muslim

Seorang yang tidak beragama Islam atau kafir puasanya tidak sah. Allah Ta’ala katakan dalam al-Qur’an:

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ

“Tidak ada yang menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” [QS. At-Taubah: 54]

Para ulama rahimahumullah menjelaskan, Jika sedekah yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain saja tidak diterima, apalagi ibadah yang hanya manfaatnya khusus untuk dirinya. Puasa merupakan ibadah yang manfaatnya kembali ke diri sendiri.

  1. Baligh

Syarat wajib puasa Ramadhan yang ke dua adalah baligh[1]. Seorang yang belum mencapai usia baligh, maka tidak diwajibkan atasnya puasa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَبْلُغَ  وعَنِ الْمَعْتُوهِ حَتَّى يعقل

Pena (catatan amal) itu diangkat dari tiga golongan: seorang yang tidur sampai ia terjaga, anak kecil sampai ia baligh, dan orang idiot[2] sampai berakal.” [HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud hadits shahih dari sahabat Ali]

Di antara golongan yang diangkat catatan amalnya adalah anak kecil sampai ia baligh. Ini menunjukan anak yang belum mecapai usia baligh, dia belum memenuhi syarat wajib puasa Ramadhan. Namun ulama menjelaskan apabila anak sudah mencapai usia tamyiz[3], maka puasa yang ia kerjakan sah dan hendaknya wali anak membiasakan anak tersebut untuk berpuasa.

  1. Berakal

Seorang yang gila atau idiot tidak wajib baginya berpuasa. Hal ini berdasarkan hadits yang disebutkan di atas.

  1. Sehat

Seorang yang sakit dan tidak mampu berpuasa tidak wajib puasa Ramadhan. Namun orang sakit, wajib mengganti puasa yang ia tinggalkan di waktu lain, ketika ia sudah mampu berpuasa. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر

“Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. [QS. Al-Baqarah: 185]

  1. Mukim

Yaitu tidak melakukan safar. Syarat wajib puasa Ramadhan yang ke lima ini bedalil dengan ayat yang sebelumnya telah disebutkan. Seorang yang melakukan safar tidak wajib baginya melaksanakan puasa Ramadhan, tetapi ia wajib menggantinya di luar Ramadhan.

Seorang yang sakit apabila memaksa berpuasa, puasanya sah. Demikian pula orang yang safar ketika ia memilih berpuasa, maka puasanya sah.

  1. Tidak haid dan nifas bagi perempuan

Wanita yang mengalami haid dan nifas tidak wajib puasa Ramadhan, berdasarkan hadits berikut ini:

قُلْنَ: وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَلَيْسَ شَهَادَةُ المَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ» قُلْنَ: بَلَى، قَالَ: «فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا، أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ» قُلْنَ: بَلَى، قَالَ: «فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا»

“Para sahabiyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah apakah yang dimaksud dengan kurangnya agama dan akal kami?’ Rasul menjawab, ‘Bukankah persaksian wanita setengah dari persaksian lelaki?’ Para sahabiyah menjawab, ‘Iya.’ Rasul melanjutkan, ‘Itulah kekurangan akalnya. Bukankah apabila wanita haid dan nifas tidak shalat dan tidak puasa?’ Sahabiyah menjawab, ‘Benar.’ Rasul berkata, ‘Itulah kekurangan agamanya.’” [HR. Al-Bukhari no. 34 dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu]

Tetapi wanita yang haid dan nifas wajib menggantinya setelah bersih dari haid dan nifas di luar bulan Ramadhan berdasarkan hadits berikut,

عَنْ مُعَاذَةَ، قَالَتْ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ. فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ. قَالَتْ: «كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ، فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ»

“Dari Mu’adzah, ia bercerita: ‘Aku bertanya kepada Aisyah, mengapa seorang yang haid ia wajib mengganti puasa tapi tidak mengganti shalat?’ Aisyah bertanya balik, ‘Apakah kamu ini wanita haruriyah[4]?’ Mu’adzah menjawab, ‘Bukan, aku bukan haruriyah. Aku hanya bertanya.’ Aisyah benjawab, ‘Dulu hal tersebut juga menimpa kami, kami diperintah untuk mengganti puasa namun tidak diperintah mengganti shalat.’” [HR. Muslim no. 335 dari Mua’dzah]

Demikian enam syarat wajib puasa Ramadhan yang telah dirangkum oleh para ulama secara ringkas. Semoga bermanfaat, wallahu ‘alam.

Disadur dari kitab al-Fiqhu al-Muyassar (1/152).

[1] Usia baligh bisa dilihat dari tanda-tandanya. Tanda baligh laki-laki adalah mencapai usia lima belas tahun, tumbuh bulu di area kemaluan dan keluar mani  didasari syahwat. Tanda baligh perempuan sama dengan tanda laki-laki ditambah keluarnya darah haid. Haid menjadi tanda baligh walaupun belum mencapai usia 10 tahun.

[2] Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan عَنِ المَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ “orang gila sampai ia berakal.” [disebutkan dalam bab orang gila laki-laki atau perempuan tidak dihukum rajam (8/ 165)]

 

[3] Tamyiz adalah usia di mana seorang bisa menilai yang baik dan buruk. Secara umum usia tamyiz dicapai pada usia tujuh tahun.

[4] Haruriyah adalah nisbah pada sebuah daerah bernama harura. Dari daerah itulah muncul satu kelompok khowarij yang memberontak pada pemerintahan sahabat Ali. Mereka adalah cikal bakal teroris. Aisyah bertanya demikian karena khowarij berkeyakinan wajibnya mengganti shalat bagi seorang yang haid.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.