Segenap rasa di ruang karantina

 

Oleh Hamid Anugerah 3A Takhasus

 

Ikhwani fillah….

Tak terasa hampir setahun virus covid-19 telah menimpa negeri tercinta. Semakin hari bukannya makin menurun, grafik penambahan pasien justru melonjak naik. Orang-orang makin banyak terinfeksi dan tidak sedikit yang meninggal karenanya. Semoga Allah memberikan husnul khatimah kepada mereka. Agar tetap selamat–biidznillah (dengan izin Allah)-di tatanan kehidupan baru ini kita harus meningkatkan iman, menjaga imun, dan pastikan aman dari virus di lingkungan kita. Selau menjalankan protokol dari pemerintah kita, konsep 3 M terus diaplikasikan pada keseharian dan tidak lupa untuk karantina mandiri bagi yang baru saja pulang dari bepergian.

 

Acungan jempol untuk Ma’had Minhajul Atsar

Alhamdulillah hingga sejauh ini Ma’had (pondok pesantren) Minhajul Atsar terus eksis dalam menjalankan protokol yang diperintah dalam keseharian, baik santri, asatidzah (para guru), sekalipun para ikhwan yang berdomisili di samping ma’had (pondok pesantren).

Mereka semangat tak kenal lelah untuk memakai masker, asatidzah tak pernah henti dan bosan mengingatkan para santri untuk tetap jaga jarak disetiap aktivitas. Selalu menghasung untuk CTPS (cuci tangan pakai sabun) atau menggunakan hand sanitizer sebelum dan sesudah kegiatan apapun. Jika ada yang kendor dan turun semangat, dan itu hal yang wajar, maka ada upaya saling menasehati dan amar ma’ruf nahi mungkar dengan hikmah lagi santun. Alhamdulillah, semua itu murni karena taufik dari Allah semata.

 

Salah satu kebijakan Ma’had Minhajul Atsar di masa pandemi

Termasuk upaya ma’had (pondok pesantren) dalam mematuhi waliyyulamr (pemerintah) di masa pandemi adalah mengambil kebijakan agar tidak memulangkan santri ke daerah masing-masing. Tak semata sampai di situ, ma’had (pondok pesantren) juga berusaha untuk tetap membahagiakan santri bagi yang tidak pulang ke rumah.

Variasi kegiatan dibentuk, aneka lomba diadakan, dan Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Laa haula wala quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya melainkan pertolongan Allah Ta’ala )

Namun begitu, selepas ujian masih ada santri yang izin pulang ke kampung halaman. Tentunya karena faktor X yang ada pada masing-masingnya. Setelah berdialog dengan ustadz, mereka pun diberi izin menuju rumah. Akhirnya ma’had (pondok pesantren) lagi-lagi “direpotkan.” Ya, seperti mengatur lalu lintas kedatangan santri, menyiapkan ruang karantina, kontrol kesehatan harian, dan banyak lagi.

 

Secuil sumbangsih yang diberikan asatidzah Ma’had Minhajul Atsar

Upaya asatidzah dengan segenap upaya, tenaga, pikiran, dan waktu yang terus diusahakan untuk mencari solusi bagaimana teknis dan SOP  (standar operasioanal prosedur) yang tepat ketika santri datang kembali ke ma’had (pondok pesantren).

Biidznillah, jalan keluar terbuka, beberapa rumah ikhwan yang belum dihuni, menjadi tempat berlabuh santri yang datang kembali untuk menjalankan karantina mandiri. Semoga Allah membalas pahala besar pemilik rumah, dan menjadikan rumahnya rumah yang diberkahi dan makmur dengan ibadah, membaca al-Qur’an maupun shalat malam hingga puasa Dawud selama masa karantina.

 

Pengalaman selama karantina

Di antara santri yang melalui proses karantina salah satunya adalah si penulis sendiri. Segenap rasa yang dialami di ruang karantina, mengajarkan dia agar menjadi pribadi mandiri yang lebih sabar, menghasung agar selalu bersyukur, membentuk karakter yang senantiasa berharap dan bertawakal kepada Ash-Shomad (Yang Maha Tempat Bergantung). Pelajaran bagi seorang Hamid dari kota Palu, semoga Allah menjaga keistiqamahan kami dan keluarga.

Ya, memberikan pelajaran di kala ia harus menerima tempat karantina di ruang aula samping rumah utama yang hanya bertutup sitar. Derasnya hujan kerap menyapa dan masuk bertamu ketika langit berubah gelap dan senja sudah tidak lagi terlihat.

Disusul dinginnya malam yang menyelimuti ruangan, belum lagi desit rombongan nyamuk berbisik di telinga saat tidur sudah terlelap. Tidak  cukup sampi disitu, ditambah galvalum -nama bahan- atap aula biasa menjadi tempat singgah kelelawar lalu buang “sampah” tanpa izin di lantai. Astaghfirullah (aku meminta ampun kepada Allah).

Akhirnya kita harus bangun dini hari membersihkan lantai sebelum fajar datang lalu bisa digunakan untuk menegakkan sholat, allahul musta’an (hanya kepada-Mu kami meminta pertongan).  Ya Allah, betul-betul pelajaran dengan materi sabar menyuruh kita kembali membuka halaman yang berisi firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Hanyalah orang yang bersabar ganjaran (pahala) mereka diberikan tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

 

Lingkungan yang menuntut rasa syukur

Kegiatan rutin berlanjut berupa menyiram halaman, tanaman bunga, taman, piket kamar mandi, dan menguras kolam biar tidak menjadi sarang nyamuk (karena belum ada ikannya). Ini semua menuntut kami untuk terus bersyukur karena kita diberi kegiatan dan kepekaan terhadap lingkungan. Hal ini membuat kita beramal dengan ayat:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ  وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Jika kamu telah selesai (dari suatu perkara) maka pindahlah (ke perkara lainnya). Dan pada robbmu, maka berharaplah.” (QS. As-Syarh: 7-8 )

Agar amalan yang dilakukan bernilai pahala dan tidak sia-sia, juga menjadikan badan untuk suka beraktivitas dan tidak ‘mager’ (malas gerak) terlebih pada masa pandemi dimana orang lebih suka diam dan malas untuk bergerak. Alhamdulillah.

 

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang jua

Waktu terus bergulir, hari silih brganti, jam terus berputar tiada henti. Tak disadari masa karantina akan segera usai. Di sela menulis artikel ini kita mendapat informasi agar sitar yang menutup aula segera diurai. Sesaat setelah itu kitapun diantar menuju ma’had kembali untuk bertemu dengan kawan dan berjuang bersama dalam bingkai amalan thalabul ilmi.

Dengan berlalunya masa karantina , mudah-mudahan segenap rasa yang telah kita lalui, bisa menciptakan jiwa dan karakter yang lebih bisa bersabar, pandai bersyukur, dan tak lupa senantiasa berdo’a sembari bertawakal pada-Nya supaya wabah pandemi cepat diangkat lalu hilang dari tanah air yang kita cintai dan dari negeri-negeri lainnya. Amiin.

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

6 Respon

  1. Cahya berkata:

    Jika karantina juga diusahakan tempat yang nyaman sebagaimana yang telah dilakukan pemerintah. Dibantu logistik dan suplay gizinya supaya tetap sehat. Perlakukan mereka dg baik, hibur mereka. Sering disapa dg cara yang aman. Baarokallohu fiik.

    Semoga tetap Istiqomah diatas Al-Haq.

  2. Cahya berkata:

    Jangan meresa direpotkan ya, semoga Alloh membalasnya dg kebaikan. Sebuah instansi besar spt pondok Jember adalah hal yg wajar kalau penghuninya keluar masuk. Mereka punya keluarga diluar sana, terkadang penting harus pulang atau keluar untuk keperluan . Asal Prokes jelas tetap bisa jalan. Santri tdk bermudah mudah pulang pergi diluar jadwal pulang tapi bukan dilarang sama sekali. Allohu A’lam. Semoga Alloh berikan kemudahan. Jangan terlalu kenceng tetapi bukan kendor.

    Semangat ya para pejuang….!
    Semoga tetap Istiqomah diatas Al-Haq.

    • Admin 3 berkata:

      Terima kasih atas masukan demi masukan yang sangat berharga untuk kami.

      Mohon dukungan dan doanya agar kami bisa istiqamah di atas sunnah berikut menjalankan amanat pemerintah terkait santri di masa santri maupun amanat para orang tua/wali santri.

      Sekali lagi, kami ucapkan jazakumullahukhairan wa barakallahu fikum atas masukannya.

      Kami juga menanti masukan berikutnya. Semoga kami diberi kekuatan untuk menjalankannya.

  3. Tsabit berkata:

    Subhanalloh..perjuangan dan kesabaran yg patut diteladani.smoga Alloh mbalas dg pahala yg byk..amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.