Selamat datang para calon santri-para penuntut ilmu syar'i warisan Nabi. Untuk mengikuti ujian online UMTB klik di sini!

Jangan berpanjang-panjang angan!

 

Oleh Abdul Halim Rengat Takhasus 4A

 

Setiap manusia yang Allah ‘Azza wa Jalla ciptakan pasti memiliki tujuan, berupa dunia atau akhirat. Manusia mengharapkan sesuatu yang dia cintai, itulah yang namanya cita-cita. Sebuah cita-cita akan membuat seorang manusia bersemangat menjalani hidupnya, tanpanya hidup tak akan terarah dan bergairah.

Cita-cita yang dimaksud di sini adalah al-Amal (cita-cita/angan-angan), mengharapkan sesuatu yang diinginkan oleh jiwa berupa perkara dunia yang masih mungkin untuk dicapai.

 

Bimbingan syariat yang mulia

Allah Ta’ala melarang panjang dalam cita-cita dunia, karena kehidupan dunia itu adalah perhiasan yang menipu. Allah ‘Azza wa Jalla berkata:

وَمَا الْحَياةُ الدُّنْيا إِلاَّ مَتاعُ الْغُرُورِ

 “Tidaklah kehidupan dunia itu melainkan perhiasan yang menipu.” (QS. Ali Imron: 185)

 

Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa salla membimbing untuk tidak panjang angan-angan, karena dapat menjerumuskan kepada kesengsaraan di akhirat kelak. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعَةٌ مِنَ الشَّقَاءِ جُمُودُ الْعَيْنِ وَقَسْوَةُ الْقَلْبِ وَطُولُ الْأَمَلِ وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا

“Empat hal yang menyengsarakan: mata yang kaku (yakni: sulit/jarang meneteskan air mata), hati yang keras, panjang cita-cita/angan-angan, dan tamak terhadap dunia.” (HR. al-Bazzar)

 

Dunia juga merupakan negeri yang akan meninggalkan kita, sedangkan akhirat akan mendatangi dan menjemput kita. Sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu pernah berkata:

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً

“Dunia akan pergi meningalkan kita ke belakang, sedangkan akhirat  akan menyambut kita di depan.”

 

Jadilah anak akhirat

Lantas kenapa kita masih mengejar dunia dan panjang cita-cita dunia?! Sahabat Ali bin Abi Tholib radhiyallahuanhu kemudian berkata,

وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ اليَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلٌ

“Dan setiap dari keduanya memiliki anak-anak, jadilah anak akhirat dan jangan menjadi anak dunia. Karena hari ini untuk beramal tanpa perhitungan, namun esok adalah perhitungan tanpa amal.” (HR. al-Bukhari secara muallaq)

 

Di dalam riwayat lain dalam kitab Hilyatul Aulia,  Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebelum itu berkata:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ اتِّبَاعُ الْهَوَى وَطُولُ الْأَمَلِ فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ أَلَا وَإِنَّ الدُّنْيَا ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, maka akan menghalangi dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan akan melupakannya dari negeri akhirat. Ketahuilah bahwa dunia akan meninggalkan kita di belakang.” (HR. al-Baihaqi)

 

Di antara kejelekan panjang angan-angan

Panjang angan-angan juga merupakan sebab kehancuran akhir umat ini. Dari sahabat Abdullah bin Amr radhiallahuanhu secara marfu’:

صَلَاحُ أَوَّلِ هَذِهِ الْأُمَّةِ بِالزَّهَادَةِ وَالْيَقِينِ وَهَلَاكُ اخرها بالبخل والامل

“Baiknya generasi awal umat ini karena sifat zuhud dan yakin, sedangkan kehancuran akhir umat ini disebabkan sifat pelit dan (panjang) cita-cita dunia/angan-angan.” (HR. ath-Thabrani dan Ibnu Abid Dunya)

 

Di dalam Fathul Bari hal. 502, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata:

“Ada yang mengatakan, ‘Sesungguhnya memangkas cita-cita dunia/angan-angan merupakan hakikat sifat zuhud. Namun yang benar bukanlah demikian, akan tetapi hanya sebagai sebab. Karena orang yang memangkas cita-cita dunianya dia akan zuhud, sedangkan panjang cita-cita dunia akan menimbulkan:

  1. Sifat malas dalam melakukan ketaatan,
  2. Suka menunda-nunda taubat,
  3. Tamak terhadap dunia,
  4. Lupa akhirat,
  5. Hati yang keras. Karena lembut dan bersihnya hati hanya dapat diporoleh dengan mengingat kematian, alam kubur, pahala, hukuman, dan hal-hal yang menakutkan pada hari kiamat. Sebagaimana perkatan Allah ‘Azza wa Jalla:

فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ

Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras.” (QS. al-Hadid: 16)

 

Berkata Imam Ibnul Jauzi rahimahullah Ta’ala:

“Panjang cita-cita dunia merupakan sifat yang yang tercela kecuali bagi para ulama, tanpa cita-cita tidaklah mereka  akan berkarya dan menulis.”

 

Penutup

Jadi ambillah dari dunia ini sekedarnya saja, janganlah berlebihan sehingga melupakannya dari negeri akhirat. Kecuali perkara-perkara yang berkaitan dengan akhirat, semisal cita-cita dalam menggapai dan mencapai target-target dakwah, tholabul ilmi, dsb. Maka jangan dihilangkan, bahkan hendaklah ditingkatkan.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjauhkan kita dari sifat panjang cita-cita dunia dan semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan cita-cita kita hanya untuk menggapai akhiratnya. Amin, semoga bermanfaat.

 

 

 

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.