Jejak at-Tibyan di Ujung Malam

Jember, 27 Jumadal Akhiroh 1447 H/Kamis 18 Desember 2025 M

Saat jarum pendek pada jam tepat menunjuk angka dua belas malam, ketika sebagian besar santri telah terlelap dalam tidur pulasnya, di sudut salah satu gazebo taman justru tampak sekelompok santri kelas Takhasus masih terjaga. Di sanalah sebuah peristiwa kecil namun sarat makna sedang berlangsung.

Dalam sunyi malam, apa yang mereka lakukan bukanlah sekedar begadang tanpa arah. Sebuah gulungan kertas besar dihamparkan di atas papan berukuran 1,8 meter dengan tinggi 118 cm. Di bawah cahaya lampu putih yang menggantung di atap gazebo—satu-satunya penerang di tengah gelap—mereka bekerja dengan penuh ketelitian dan kesungguhan.

Siapakah mereka? Mereka adalah santri kelas 2 Takhasus, para penjaga api literasi yang memilih terjaga saat yang lain terlelap. Dengan tangan-tangan sederhana dan semangat yang menyala, mereka menyusun sebuah karya yang kelak akan dilihat banyak pasang mata.

Pada Kamis malam itu, terdapat sebuah waktu yang sunyi, namun justru melahirkan suara bagi peradaban. Di saat malam menjadi saksi bisu, para santri menorehkan jejak amal ilmu mereka.

Dari sebuah gazebo taman yang sederhana, langkah mereka berlanjut menyusuri malam menuju dinding utara Maqshof. Papan yang telah diberi sampul itu diangkat bersama-sama, lalu diletakkan dengan penuh kehati-hatian di tempat yang telah ditentukan.

Di ujung kiri gulungan kertas tersebut tertulis sebuah nama: “At-Tibyan.” Inilah mading At-Tibyan keempat pada edisi tahun ini, dengan judul besar “Santri dan Peradaban.”

Mengapa semua ini dilakukan? Karena mereka percaya bahwa tulisan bukan sekedar rangkaian kata, melainkan cahaya. Cahaya yang mampu menambah wawasan, membangkitkan kesadaran, dan menumbuhkan semangat literasi di tengah para santri. Mading ini lahir dari kesungguhan, kerja sama, dan keyakinan bahwa santri memiliki peran besar dalam membangun peradaban.

Dengan kesabaran, kebersamaan, dan keikhlasan semuanya akan terwujud biidznillah. Dari menghamparkan kertas, memasangnya perlahan, hingga menegakkannya di dinding Maqshof—semua dilakukan dengan penuh tanggung jawab, meski rasa lelah menyapa.

Mading At-Tibyan akhirnya berdiri, bukan hanya sebagai pajangan dinding, tetapi sebagai simbol perjuangan. Sebuah upaya kecil yang diharapkan mampu memberi makna besar bagi perjalanan ilmu dan peradaban santri. Dari malam yang sunyi, lahirlah suara yang mengajak; bahwa santri bukan hanya penuntut ilmu, tetapi juga penjaga dan penerus peradaban.

Semoga Allah memberikan keberkahan pada seluruh amal saleh kita. Aamiin yaa mujiibas saailiin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses