Tepok bulu, permainan santri yang ditunggu-tunggu

 

Oleh Abdurrahman Bontang 3A Takhasus

 

Sang surya baru saja kembali ke peraduannya, bersujud menghadap Rabbnya. Lampu-lampu sudah mulai menyala, pertanda malam telah tiba. Corong-corong masjid saling bersahutan, memanggil-manggil kaum muslimin untuk melaksanakan salah satu ibadah agung yaitu shalat maghrib, menghambakan diri kepada-Nya, memohon ampunan dan ridho-Nya, atas berbagai kesalahan dan dosa, baik yang disadari atau tidak.

Mega merah di ufuk barat sedikit demi sedikit mulai terselimuti oleh gelapnya malam. Senja ini sedikit berbeda dengan senja lainnya. Ya, senja hari kamis adalah ‘senja penantian’ bagi santri.

 

Awal karantina Ma’had

Sejak Ma’had memutuskan karantina mandiri sesuai imbauan pemerintah, lapangan serbaguna Mahad Minhajul Atsar di malam jum’at jadi sepi, karena santri MTP tidak diperkenankan memakai lapangan utama. Maka karena itu, para thullab berinisiatif untuk memanfaatkannya. Tercetuslah sebuah ide untuk menyulapnya menjadi lapangan badminton outdoor. Sehingga di malam jum’at, lapangan tidak sepi dan tidak berbeda dengan sebelum masa Covid serta tetap ramai seperti biasa walau beda suasana.

Isya telah tiba, lantunan adzan yang mengajak manusia menunaikan kewajiban shalat isya  telah terdengar. Dengan itu masa penantian santri sebentar lagi akan berakhir.  Benar, karena waktu permainan yang telah dinanti-nanti sejak sore tadi akan dimulai selepas shalat isya. Memang di masa wabah, permainan satu ini lagi naik daun di Ma’had tercinta.

Selepas dzikir, tampak sekali wajah-wajah sumringah penuh semangat berjalan dengan menenteng senjata masing-masing, siap membantai habis lawan-lawan mereka. Namun, bukan senjata pedang atau sniper lho!!! Tapi, senjata mereka adalah raket badminton dengan merek dan model yang beraneka ragam.

Permainan ini sangat tenar dan merupakan permainan yang digemari santri saat ini. Selain sepak bola dan tennis meja, terutama di malam Jumat. Sampai-sampai thullab tahfizh rela duduk menyaksikan permainan seru ini. Yang lebih menambah keseruan adalah permainan ini juga diramaikan oleh sebagian asatidzah al fudhola’. Di tengah-tengah kesibukan mereka, para asatidzah masih menyempatkan diri untuk berpartisipasi dan menemani para santri mereka sekaligus memberi tauladan yang baik ketika bermain. Juga sebagai hiburan bagi beliau-beliau serta tasliah (baca; refreshing) sehingga beliau lebih sehat dan bugar ketika melanjutkan aktivitas yang padat esoknya.

 

Bersyukur menambah nikmat

Demikian kawan…sebuah nikmat di masa wabah seperti ini adalah ketika kita masih bisa merasakan senang, tentram, dan hati yang lapang. Walau di tengah-tengah gejolak api fitnah dan terjangan ombaknya yang terus mengguncang dan ingin meruntuhkan semangat juang. Maka, syukurilah nikmat ini kawan, sebelum dicabut darimu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Kalau kalian mensyukuri nikmat-Ku, maka Aku akan tambahkan bagi kalian. Namun sebaliknya, kalau kalian kufur terhadap nikmat-Ku, maka ketahuilah sesungguhnya adzab-Ku amatlah pedih.” (QS. Ibrohim: 7)

 

Penutup

Waktu semakin larut malam, waktu terus bergulir tanpa henti. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan jam 22:00. Maka, saya undur diri dulu. Tapi ingat, apa yang kita punya disyukuri. Apa yang kita pelajari dilakoni, kalau bisa ditransfer, dan disampaikan ke kawan serta sanak famili.

Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah kepada kita untuk mensyukuri segala nikmat yang ada, bersabar dari berbagai cobaan yang menimpa. Mengamalkan semua ilmu yang dipunya bahkan mengajarkannya kepada teman dan saudara, sehingga kita keluar dari musibah ini dengan meraih peredikat sebagai orang yang jujur dalam beriman, bertakwa dan ibadahnya. Sekian semoga bermanfaat.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.