Kawan, Mari Kita Bergandeng Tangan!

 

Oleh Umar Abdul Aziz Ponorogo, Takhasus

 

Di antara bentuk karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat berharga adalah al-ukhuwwah al-Islamiyyah as-Salafiyyah (persaudaraan yang terjalin di atas pedoman al-Quran dan as-Sunnah). Sungguh karunia ini tidak pantas ditukar dengan perak atau emas sekalipun, karena begitu berharganya. Oleh karena itu, kewajiban bagi kita semua untuk mensyukurinya dengan menjaganya dan mempererat ukhuwah  di antara sesama.

 

Saling Bersaudara, Ajaran Agama yang Sempurna

Al-ukhuwwah al-Islamiyyah as-Salafiyyah mengajarkan kepada kita tentang ikatan cinta sebenarnya. Bagaimana tidak, satu sama lain saling mencintai karena Allah dan rasul-Nya, membantu dan menolong ketika ada yang membutuhkan, saling melengkapi satu sama lain jika ada yang kekurangan, dan saling menasehati jika terjatuh ke dalam kesalahan. Demikianlah arti sebuah persaudaraan yang terbangun di atas al-Qur’an dan as-sunnah.

Namun ketika kita tidak mensyukuri karunia ini, niscaya ukhuwah  yang selama ini telah terjalin dengan baik, akan pupus seketika, karena sebab adanya tendensi duniawi. Sehingga timbullah permusuhan, dan perpecahan.

 

Yang dahulu kita sanjung dan  kita muliakan kehormatannya, sekarang kita caci habis-habisan. Segala aib serta kesalahannya terpublikasikan di dunia maya. Tak cukup sampai situ, isu-isu dusta kita tuduhkan kepada dirinya. Bahkan yang sangat parah, sampai pada vonis menyimpang dan peringatan terhadap manusia untuk menjauhi serta meninggalkannya, padahal ulama belum berbicara.

Astaghfirullah, sungguh sangat sedih melihat realita yang terjadi. Al-Quran dan as-Sunnah bukan lagi sebagai patokan dalam menilai sebuah kebenaran. Namun perkataan si Fulan dan si Alan yang menjadi sebagai pedoman.

Demikianlah, sebuah kenikmatan merupakan ujian. Akankah kita bersyukur atau malah kufur. Sesama kita adalah ujian bagi yang lain atau sebaliknya:

 

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا       

“Dan Kami jadikan antara sebagian kalian ujian bagi yang lainnya, akankah kalian bersabar.” (Al-Furqon: 20)

 

Solusi Saat Ujian Menghampiri

Setiap ujian itu pasti ada solusi dan jalan keluarnya, kembali kepada ulama adalah jalan keluar serta solusi terbaik pada saat-saat ini. Maka marilah kita taati bimbingan serta nasehat mereka, bukankah prinsip kita adalah:

البَركَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ

“Keberkahan itu ada pada ulama kibar kalian.”

 

Wahai saudaraku…

Kita adalah saudara seiman dan semanhaj. Marilah kita saling bersaudara dan saling mamaafkan, jangan ada di antara kita sifat dendam, jadilah orang yang mudah memaafkan, bukankah Nabi kita adalah orang pemaaf. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:

    خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau orang yang suka memaafkan, perintahkan perkara kebaikan serta berpalinglah dari orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

 

Sekarang saatnya kita merajut kembali ukhuwah  as-salafiyyah dengan taakhi (saling bersaudara), tafahum (saling memahami), tanazul (saling mengalah), tanashuh (saling menasehati), ta’awun (saling membantu), dan ta’afi (saling memaafkan).

Persatuan serta persaudaraan adalah perintah Allah dan Rasul-Nya, maka wajib bagi kita untuk menaatinya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Berpegang teguhlah kalian dengan tali agama Allah dan jangan berpecah-belah.” (Al-Imran: 103)

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا.

“Jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (HR at-Tirmidzi)

 

Penutup

Wahai saudaraku…

Ingatlah! Nilai ukhuwah  tidak akan cair di musim panas, tidak akan beku di musim dingin, tidak akan luluh di musim hujan, tetapi akan senantiasa mekar walaupun bukan di musim semi. Maafkanlah bila bersalah, rindukanlah bila berjauhan dan nasehatilah jika keliru.

Janganlah menjadi sahabat seperti gunting walaupun lurus tapi memisahkan apa yang telah menyatu. Akan tetapi jadilah sahabat seperti jarum meskipun menusuk dan meyakitkan tapi menyatukan apa yang telah terpisahkan.

 

Marilah kita saling memaafkan. Jangan ada di antara kita permusuhan.

Ya Allah, satukanlah Salafiyyin di atas al-Qur’an dan as-Sunnah, lindungilah orang-orang yang kami cintai dari sifat hasad dan dendam, serta istiqamahkanlah kami di atas manhaj ini sampai ajal datang menjemput”. Amin.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.