Kekuatan Hafalan Para Salaf

 

Oleh Muh. Hafizh Batam, Takmili

 

Para ulama merupakan teladan bagi umat ini. Mereka adalah pelita bagi umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Mereka telah mengajak umat ini kepada al-Haq yang terang-benderang. Patut bagi kita untuk mengikuti jejak dan langkah mereka. Baik dalam cara berdakwah, berakhlak, beradab, mengamalkan ilmu, sabar saat menggapainya, wara’, tawakkal dan ketakwaan mereka.

Keadaan dahulu tidaklah sama seperti sekarang, ketika kita hendak membaca suatu displin ilmu syariat, sudah banyak para ulama yang menulis kitab di bidang tersebut. Lihatlah perjuangan mereka dalam mengumpulkan ilmu yang mulia ini. Padang sahara nan tandus mereka lewati, semak-belukar, hutan rimba mereka lalui. Kepanasan, kedinginan, kelaparan, kehausan merupakan hal yang biasa mereka jalani.

 

Berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya, adalah hal yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri. Keluarga, anak, istri, mereka tinggalkan jauh-jauh demi meraih warisan yang mulia ini. Mereka menempuh perjalanan berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Mereka hadapi kehidupan di negara asing.

Dahulu tidaklah seperti sekarang, kita bisa makan dengan enak, berbagai menu tersedia. Coba bandingkan dengan keadaan ulama dahulu, sebagian mereka ada yang tidak makan selama berhari-hari, atau makan dedaunan. Ada pula yang memakan ikan hampir busuk. Ini semua mereka lakukan demi ilmu.

 

Melihat perjuangan mereka tersebut, tentu beda kualitas mereka dengan kita. Baik dari segi ibadah, ketakwaan, kesabaran, kekuatan hafalan dan kecerdasan. Di antaranya adalah dari sisi kelebihan dalam hal kekuatan hafalan. Berikut berbagai contohnya.

 

Ahmad bin Hanbal rahimahullah (164 – 241 H)

Anaknya yang bernama Abdullah bercerita, bahwa ayahku pernah menyuruh untuk mengambil kitab mushannaf (salah satu kitab disiplin hadis) karya Imam Waki’ rahimahullah. Kemudian ayahku mengatakan, “Bacakan kepadaku matan hadisnya, nanti akan aku tebak (sebutkan) sanadnya. Atau kamu baca sanadnya nanti aku tebak matan hadisnya.”

 

 Ahmad bin Yahya rahimahullah Ta’ala (200- 291 H)

Beliau mengisahkan tentang dirinya, “Aku belajar bahasa Arab pada tahun 216 Hijriah hingga menguasai kitab ‘Ta’rif’ milik al-Farra’, pada waktu itu aku berumur 18 tahun. Dan ketika umurku telah mencapai 25 tahun, tidak ada permasalahan yang tidak kupahami dari kitabnya. Apa yang ada pada kitabnya, telah kuhafal semua. Pada saat itu, aku juga telah hafal 100.000 hadis dari Imam al-Qawariri.”

 

Ahmad bin Muhammad al-Allaf rahimahullah (w. 407 H)

Hamzah bin Muhammad bin Thahir berkata kepadanya, “Aku ingin melihat engkau mendiktekan hadis dari hafalanmu, bukan dari kitabmu.

Ia menjawab, Ya, coba periksa apa yang aku diktekan kepadamu, apabila terdapat kesalahan maka aku tidak akan mendiktekan kepadamu lagi dengan hafalanku. Namun jika benar semua, apakah kitab masih juga dibutuhkan?”

 

Ishaq bin Rahawaih rahimahullah Ta’ala (161-238 H)

Dari Ibnu Khasyram rahimahullah bahwa Ishaq bin Rahawaih pernah mendiktekan kepadanya 70.000 hadis dari hafalannya. Dan termasuk keajaiban hafalan beliau adalah sebagaimana yang beliau tuturkan sendiri:

“Tidaklah aku menulis kecuali aku telah menghafalnya. Dan tidaklah aku menghafal sesuatu kecuali pasti aku tidak akan melupakannya.”

Beliau juga menulis kitab tafsir dan musnad di kepalanya (hafalannya), bukan di kertas. Apabila hendak mendiktekan, maka beliau diktekan dari hafalannya sesuai dengan susunan yang ia susun tadi.

 

Abu Zur’ah Abdullah bin Abdil Karim bin Yazid ar-Razi rahimahullah (W. 264 H)

Beliau mengisahkan tentang dirinya:

“Di rumahku terdapat kitab yang ku tulis sejak 50 tahun lalu, aku masih ingat tata letak kitabnya, di halaman berapa dan di barisan ke berapa dia berada. Padahal, aku tidak pernah membacanya sejak aku menulisnya.

Dan tidaklah telingaku ini mendengar ilmu sedikitpun, kecuali pasti akan melekat di hatiku. Maka, apabila aku hendak jalan di pasar Baghdad, kemudian aku mendengar ada yang memainkan alat musik, aku tutup telingaku dengan jari khawatir hal itu akan melekat di hatiku.”

Beliau juga mengatakan, “Aku hafal 200.000 hadis layaknya manusia hafal ‘Qul huwallahu Ahad.’”

Ketika muzakarah, beliau membaca 300.000 hadits.

 

Ali bin Umar ad-Daruquthni rahimahullah (306 – 385 H)

Dari al-Azhari, beliau berkata: Aku pernah mendengar bahwa ad-Daruquthni pernah hadir di majelisnya Imam Ismail as-Safar. Tapi saat hadir di majelis tersebut, ia malah menulis hadis lain sementara Ismail as-Saffar terus mendiktekan hadits kepada para muridnya.

Setelah selesai pelajaran, ada yang menegur beliau, Tidak sah periwayatan hadismu, dan kau tidak dianggap meriwayatkan darinya (Ismail as-Saffar).”

Ad-Daruquthni menjawab, “Pemahamanku tidak seperti pemahamanmu. Apakah engkau menyimak berapa hadis yang syaikh baca tadi?”

“Tidak.” Tukas orang itu

 

Maka ad-Daruquthni memberitahukan, “Beliau mendiktekan 18 hadis.”

Lalu beliau mengulang apa yang dibaca oleh syaikh tadi, “Hadis yang pertama dari Fulan, dari Fulan. Matannya (lafal hadisnya) seperti ini. Yang kedua dari Fulan dan dari Fulan, sanadnya (mata rantai periwayatannya) seperti ini.” Dan terus-menerus beliau sebutkan matan hadis beserta sanadnya satu persatu sebagaimana urutan yang dibacakan syaikh tadi sampai selesai 18 hadis.”

Orang-orang pun takjub dengan kecerdasannya.

 

Musa bin Harun Abu Imran (214-224 H)

Dari Abdul Ghani bin Said, beliau berkata, “Orang yang paling baik perkataannya tentang (hadis) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ali al-Madini pada zamannya, Musa bin Harun pada zamannya dan ad-Daruquthni pada zamannya.”

 

Tips Agar Hafalan Menjadi Lengket dan Kuat

Di antara kiat agar hafalan kita kuat adalah sebagaimana perkataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah:

شَكَوتُ إلَى وَكِيْعَ سُوءَ حِــفْظِيْ فَـــــأَرْشـــدَنـِـيْ إِلَى تَرْكِ المَــــــــــعَاصِيْ

واعْلَـــــــــْم بـِـأَنَّ العِـــــــــــلْمَ نُـــــــــــــــــــوْرٌوَنُوْرُ اللَّـهِ لَا يُعْـــــــــطَى لِلْـــــــعَاصِيْ

Aku mengadu kepada Waki’ akan jeleknya hafalanku

Maka ia menyuruhku untuk meninggalkan perbuatan kemaksiatan

Ketahuilah bahwa ilmu itu cahaya

Dan cahaya Allah tidak akan Ia berikan kepada orang yang suka bermaksiat

 

Penutup

Demikanlah secuplik kisah-kisah tentang kekuatan hafalan para ulama salaf, dan masih banyak lagi cerita menakjubkan lainnya yang terpendam di perut buku karya para ulama. Semoga bermanfaat.

 

Sumber Rujukan:

Siyar al-A’lam an-Nubala’ , karya Imam adz-Dzahabi rahimahullahu Ta’ala.

Tarikh al-Baghdady, karya Imam al-Khatib al-Baghdadi rahimahullahu Ta’ala.

Tadzkirotu al-Huffazh, karya Imam Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi rahimahullahu Ta’ala.

Al-Hatstsu fi hifzhi al-Ilmi, karya Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu Ta’ala.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.